
Isabel POV
"Aku rasa, aku tidak bisa melakukannya."
"Ini hanya pesta, kau akan baik-baik saja. Akan ada orang-orang di sana yang akan mengalihkan perhatianmu," Jeni memutar matanya sambil mencari-cari di lemari untuk mencari gaun.
"Aku pikir, mungkin aku harus tinggal di rumah bersama kalian." Aku tersenyum memandang Natan dan Jeni.
"Dengarkan aku Bel, aku ingin kamu tetap bersama kami daripada pergi dengan penjahat kaya itu, tapi kamu harus pergi dan bersenang-senang. Membuat orang bodoh itu menyesali apa yang dia lakukan."
"Ya, kamu harus melakukan itu. Dan aku punya pakaian yang tepat untuk membuatnya malu."
"Terima kasih, teman-teman terbaikku aku sayang kalian."
"Kami tahu dan kami juga mencintaimu," kata Natan memelukku. Jeni menjerit seperti seorang gadis kecil, aku dan Natan menoleh dan melihat gaun yang dia inginkan untuk aku pakai malam ini. Aku melihat perpaduan yang sempurna antara seksi, berkelas, elegan, menyenangkan dan cantik juga warna favoritku, merah. Baju itu memiliki dua celah kaki, leher kura-kura tanpa lengan.
Haruskah aku melakukan ini?
"Jeni, ini bagus skali, Dari mana kamu mendapatkan baju ini?"
"Dari mantan pacarku, pendeknya cerita, itu adalah hadiah pesta makan malam," dia mengedipkan matanya padaku.
"Aku pikir kamu harus tinggal bersama kami, akan ada banyak penjahat yang tidak berharga menatap tubuhmu dengan nafsu."
"Jangan khawatir, Natan, aku akan berhati-hati. Aku janji."
"Kenapa kami tidak bisa ikut?" Jeni bertanya untuk merias wajahku dan hal-hal kecantikan lain yang perlu kusiapkan untuk malam ini.
"Karena terakhir kali, kamu mabuk berat dan Natan tersiksa harus membawamu ke mobil," aku tersenyum.
"Haruskah aku pergi? Bagaimana aku tahu kalau itu akan berhasil? Atau jika dia menyukaiku kembali? Ugh. Kurasa aku tidak bisa melakukan ini, aku akan merasa canggung dan bagaimana kalau dia ada di sana?" Aku menghela nafas berat. Baik Jeni dan Natan menatapku dengan ekspresi muram.
"Jadi bagaimana jika dia ada di sana Isabel? Kamu akan bersenang-senang dan menunjukkan padanya bahwa kamu bukan perempuan murahan yang jahat, dan membuatnya menyesal karena sudah mencium wanita rendahan itu." kata Jeni menepuk punggungku.
Aku menghela nafas panjang dan menganggukkan kepalaku, ayo pergi membuat kekacauan.
"Baiklah, Natan keluar, aku harus menyiapkannya," kata Jeni mendorong Natan keluar dari kamarnya.
"Tunggu, Jeni. Aku berjanji tidak akan mengintip, kecuali Isabel menginginkanku untuk itu." dia mengedipkan mata padaku saat aku memberinya jari tengah, Natan terkekeh mengangkat tangannya dengan menyerah dan berjalan keluar pintu.
"Baiklah kalau begitu, mari kita mulai. Kita hanya punya waktu 3 jam untuk membuatmu terlihat seksi," dia menyengir keji. Cepat-cepat aku mandi, keramas dengan sampo kesukaanku dan mengeringkan tubuhku, saat itulah Jeni mulai menjadi gila dengan make up dan rambutku sampai-sampai, dia hampir kehabisan tenaga. Akhirnya dengan hanya 15 menit tersisa kami selesai, rambutku jatuh dengan ikal melenting, makeup sederhana dengan lipstik merahku, tumit kaki terbuka dan bagian terakhir gaun merah seksi yang berkelas.
"Ya ampun, luar biasa. Itu sebabnya namaku adalah 'Pakar Fashion'. Cukup tentangku, Bel kau terlihat memukau." seru Jeni.
"Terima kasih, Jeni. Kamu sang penyelamat, kenapa kamu tidak menjadi ahli penata busana atau penata rias saja? Kamu kuliah lah dan ambil jurusan itu, kamu memiliki selera fashion yang luar biasa"
"Aku tidak tahu, kurasa aku hanya menunggu kesempatan itu terbuka," dia mengangkat bahu.
"Jangan khawatir, aku tahu suatu hari kamu akan mendapat peluang besar", aku tersenyum ketika Jen memelukku. Terdengar ketukan di pintu.
"Siapa itu?" Teriak Jeni.
"Satu-satunya pria di rumah hanya aku, omong-omong si penjahat kaya itu ada di pintu menunggu Isabel," balasnya. Aku menarik napas dalam-dalam, menghitung sampai 3 dan meraih tasku, Natan dan Jeni menatapku dengan ekspresi yang berteriak 'Jangan khawatir'. Aku memberi mereka anggukan singkat dan berjalan menuju pintu, dari pengalaman masa lalu aku perhatikan bahwa Kenzo selalu datang tepat waktu. Aku membuka pintu perlahan-lahan dan disambut oleh Kenzo, sepertinya dia sedang memperbaiki tuksedo-nya yang aku akui terlihat sangat seksi padanya.
Aku berdehem, Kenzo cepat-cepat membalikkan kepalanya ke arahku. Dia perlahan-lahan memperhatikanku dari atas ke bawah, aku tahu dia keberatan melihat bajuku. Bagus, sekarang aku tahu itu akan bekerja dengan baik, sangat baik untuk membuatku merasa malu dan tidak nyaman.
"Bagaimana kalau kita pergi sekarang, Kenzo?" Aku tersenyum menariknya keluar dari linglung, matanya terangkat cepat ke mataku saat dia menelan ludah dan berdeham.
"Yah Tentu"
Wajahnya memerah melihat gaunku, apa dia malu ?
"Kau harus ada di rumah jam 11 dan jangan banyak minum," Natan bercanda, aku membalikkan kepalaku ke arahnya dan memberikan dia tatapan tajam.
"Ayo pergi," aku mengedip pada Natan. Dengan cepat aku menarik lengan Kenzo dan berlari keluar dari rumahku sebelum kami terlambat.
Kenzo memarkir mobilnya dan membuka pintu untukku, dia memeluk pinggangku dan menerima tatapan membingungkan. Untuk mengalihkan perhatian, aku melingkarkan lenganku dan tersenyum pada semua orang. Kenzo membungkuk ke arah telingaku dan mendengkur lembut.
"Kau terlihat sangat cantik malam ini, Isabel". Wajahku terasa panas, tubuhku rindu padanya, dia terlalu ketagihan dan terlalu memikat.
Semua orang tampak mewah, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak pernah berjalan ke tempat orang yang sombong ini dalam hidupku tapi sepertinya aku menentang kata-kataku.
"Tenang, selama kamu tidak jatuh, kamu akan sempurna." canda Kenzo, aku menatapnya dengan tajam.
"Halo, sahabatku, aku senang kamu berhasil," sebuah suara serak berkata dari belakang kami, berbalik pada seorang pria dengan rambut coklat dan mata cokelat, hampir seukuran dengan Kenzo dan di sebelahnya ada seorang wanita berambut coklat dengan mata cokelat yang sedang hamil besar.
"Halo teman lamaku. Brenda, bagaimana kabar si kecil Samuel Junior?"
"Perutku terasa sakit, dia sering menendang tapi aku mencintainya dengan sepenuh hati," dia tertawa.
"Oh, di mana sopan santunku? Ini Isabel pacarku."
"Sekretaris. Sekretaris pribadinya. Halo, senang bertemu kalian berdua." Aku tersenyum, Kenzo menatapku dengan ekspresi aneh di wajahnya tapi aku tidak peduli sekarang. Faktanya bahwa dia boleh mengatakan Pacar saat dia sudah memilikiku.
"Senang bertemu denganmu, Isabel. Aku Brenda dan ini suamiku Samuel dan lelaki kecil yang tidak mau berhenti menendang ini adalah Samuel Junior" Brenda berkata sambil mengusap perutnya yang besar.
"Selamat menikmati waktumu di sini dan bersenang-senanglah," kata Samuel berjalan pergi sebelum ia bisa pergi, ia berbalik ke arah Kenzo yang masih menatapku.
Apa yang baru saja dia katakan?
"Bisakah kita bicara?" dia bertanya menatap lantai, aku mengangguk. Dia membawa ku ke arah balkon lantai atas yang menunjukkan taman bunga yang indah, bintang-bintang tampak indah malam ini, kenapa aku tidak menyadarinya sebelumnya ?
"Apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Aku tahu kamu melihat apa yang terjadi di hari itu."
"Apa yang kamu bicarakan? "
"Isabel Katakan padaku."
"Katakan apa? "Aku menatapnya dari atas ke bawah.
"Kenapa kamu bertingkah seperti ini? Sepertinya tidak ada hal yang terjadi."
"Karena itu bukan urusanku, Kenzo. Aku bahagia untukmu dan pacarmu, oke?"
"Kau pikir dia pacarku? Apa kau benar-benar berpikir rendah kepada diriku?"
"Apa yang sedang kamu bicarakan?"
"Wanita itu bukan pacarku dan dia yang menciumku. Lagipula aku sudah punya orang yang spesial di hatiku. Dia cantik, cerdas, manis, dan mandiri."
Kenapa dia mengatakan ini padaku?
"Dia gadis yang cantik, semoga dia membuatmu bahagia," kataku berjalan pergi. Aku tersandung gaunku dan hampir mendarat tapi tiba-tiba aku merasakan tangan yang kuat di pinggangku. Aku mendongak dan melihat Kenzo memelukku. Aku tidak bisa melepaskan tatapanku dari mata samudra yang dalam, dia sangat tampan tapi dia sudah dimiliki sesorang, seorang wanita yang sangat beruntung. Dia tiba-tiba bersandar lebih dekat ke arah bibirku, gambar ciuman terakhir kami mengalir di benakku.
"Kita tidak bisa melakukannya. Tapi bagaimana dengan wanita yang sedang kau bicarakan itu," kataku pelan saat Kenzo tertawa kecil. Kenzo membungkuk lebih dekat tapi tidak ke bibirku, bukan juga di telingaku.
"Aku sedang berbicara tentangmu, Isabel" dia mendengkur ke telingaku. Darah mengalir ke wajahku saat jantungku berdetak kencang.
Dia berbicara tentang aku?
"Kita tidak bisa, Kenzo. Kau itu bosku, orang-orang akan mulai memikirkan hal-hal negatif. Itu melanggar kebijakan untuk berhubungan dengan rekan kerja."
Dia tertawa kecil lagi, "Menurutmu siapa yang membuat peraturan itu? Kau pasti lupa bahwa aku adalah Pemilik sekaligus CEO perusahaan, Sayang."
Begitu dia mengatakannya, dia mengayunkan bibirnya yang lembut ke bibirku, kami berciuman. Malam itu adalah malam terbaik sepanjang hidupku. Setiap kali aku memikirkannya, pipiku memerah dan hatiku mulai berdetak kencang.
Dia pasti menyihirku atau apalah. Pokoknya aku tidak bisa jatuh cinta padanya sekarang!