The Love Story Of Billionaire

The Love Story Of Billionaire
Episode 28



Kenzo POV


Dia bermain dengan penuh perasaan, dia seakan berbicara melalui biola itu. Aku menyaksikan dia bermain dengan tangannya yang indah, ya ampun dia seorang dewi, kecantikan wanita lain tidak pernah bisa dibandingkan dengannya, dia unik.


Aku pikir aku mencintainya. Tidak, aku jatuh cinta padanya. Aku jatuh cinta dengan Isabel.


Mungkin disaat waktu yanh tepat aku akan menyatakan perasaanku padanya, aku akan menunggu dengan sabar agar dia merasakan hal yang sama terhadapku. Terakhir kali aku memberi tahu seorang wanita bahwa aku mencintainya, dia lari dari saat aku duduk di kelas dua SMA, selama bertahun-tahun aku mengerti kenapa dia lari. Dia belum siap mendengar tiga kata itu. Tapi aku bersumpah kali ini aku akan memperlambat dan menunggu.


"Aku bermain sangat buruk ya," katanya, pipinya memerah. Dia manis saat dia malu.


Aku berdiri dan berjalan ke arahnya, aku meletakkan jari telunjuk dan jempolku di dagunya untuk mengangkat kepalanya untuk menatap lurus ke mataku. Dia menatapku dan aku tersenyum.


"Jangan mengatakan hal-hal yang tidak benar, kau bermain sangat baik, Isabel, kau bermain begitu menakjubkan jadi aku merekammu."


"Tidak. Kenzo, hapus video itu," katanya mencoba meraih ponselku. Aku mulai berlari dan dia berlari tepat di belakangku, akhirnya dia menyusul saat aku berhenti untuk melihatnya dan berlari ke arahku. Isabel berlari ke arahku lalu tersandung pasir dan mendarat di dadaku dan aku jatuh kembali di pasir bersamanya di dadaku.


Kakinya berada di setiap sisi pinggul ku dan dia duduk di atas ku. Dia menggosok kepalanya, lalu mulai menunduk padaku, dengan ceroboh aku meletakkan tangan perlahan di pinggangnya.


"Apa kau baik-baik saja? Oh tidak, jasmu! Nanti ini kotor karena pasir," serunya, menghapus pasir dari ku.


"Aku tahu kau lebih menyukai jasku daripada laki-laki yang jatuh cinta padamu yang sedang di pasir untuk melindungimu dari semua pasir-pasir itu," aku bercanda.


"Ya, itu jas yang bagus," candaku, "Bagaimana kepalamu?" dia bertanya, sinar bulan menyinari wajahnya dengan indah saat matanya berbinar.


"Tidak apa-apa, terima kasih" kataku meletakkan beberapa helai rambut di belakang telinganya. Perlahan aku menangkupkan wajahnya dan menciumnya dengan penuh semangat. Bibirnya merah muda, lembut dan montok jadi aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku hanya ingin satu rasa. Dia sangat tak tertahankan, terutama saat dia melakukan hal menggoda yang lucu, kita saling berciuman sementara tangannya menarik rambutku dengan main-main.


"Kenzo," erangnya saat aku mencium lehernya yang lembut.


Aku menarik diri dan menatapnya dengan kekaguman, ciumannya adalah obat terlarang bagiku dan aku kecanduan. Isabel mengambil napas dalam-dalam dan tersenyum padaku. "A-aku.. aku ... hmm, ini agak sulit untuk ku katakan," wajahnya memerah.


"Tidak apa-apa, sayang. Jika kau tidak mau memberitahuku itu tidak masalah," kataku sambil berdiri dan membantunya berdiri. Kami membersihkan diri saat berjalan menuju resort.


"Aku masih suci," dia kabur. Dia mengejutkan ku.


"Kau tidak tahu betapa bahagianya aku mendengarnya. Aku akan merasa terhormat menjadi yang pertama saat melakukannya bersamamu." kataku meraih pantatnya, dia terengah-engah dan mendorongku pergi dengan main-main.


"Aku harus meletakkan beberapa aturan dasar".


"Kau berpikir untuk mencoba nya?" Aku bertanya dan dia mengangguk.


"Isabel, kau sudah menjadikanku pria paling bahagia," aku mencoba memeluknya tapi dia menghentikanku.


"Aturannya dulu, Kenzo" Dia tersenyum.


"Baiklah, beritahu padaku."


"Baiklah kalau begitu. Pertama tidak ada seorang pun di tempat kerja yang boleh tahu. Dan kedua, tidak menyentuh area terlarang," dia menunjuk ke bagian depan wanita dan pantatnya yang lucu.


"Aku tidak bisa menjanjikan apa pun tentang menyentuh pantatmu yang imut, tapi aku berjanji untuk mencoba dan menjaga tanganku agar tidak menyentuh bagian ajaibmu yang lain" Aku menyeringai, dia tersipu lagi. Aku kira dia memperhatikanku menatap pantatnya dan berlari ke rumah.


Saat itulah aku mendapat ide yang luar biasa, aku akan menggodanya; secara harfiah. Dia akan sangat frustrasi secara seksual, itu ide yang bagus.


"Kenzo, bukankah kau mau masuk ke dalam?" Dia bertanya bersandar di pintu. Aku menyeringai padanya dan mengikutinya ke dalam, oh ini akan sangat menyenangkan.