The Love Story Of Billionaire

The Love Story Of Billionaire
Episode 34



Isabel POV


Aku bermimpi aneh semalam, aku merasa benar-benar mengatakan kebenaran tentang bagaimana perasaanku terhadapnya. Kemudian di dalam mimpiku Kenzo mengatakan sesuatu tapi aku tidak bisa mendengarnya, aku mencoba membaca gerakan bibirnya tapi tetap tidak bisa.


Aku benar-benar ingin tahu apa yang dia katakan tapi aku tidak bisa dan itu sangat menyebalkan. Aku membuka mataku dan berbalik ke tempat tidur yang kosong, namun aku mencium bau makanan. Dengan cepat aku menyelesaikan rutinitas pagi ku dan dengan santai berjalan menuju dapur, aku pikir itu adalah Kenzo tetapi itu salah satu pelayannya yang sedang memasak.


Kemana dia pergi? Kenapa dia tidak meninggalkan pesan?


"Selamat pagi nona, apa kau mau sarapan?" kata pelayan itu.


"Ya, tentu, dimana Kenzo?" Aku bertanya sambil duduk di meja makan.


"Pak Kenzo? Oh dia sedang ada pekerjaan. Apa anda mau saya siapkan sarapan untuknya juga?"


"Iya tentu. Aku mau membawakannya sarapan juga." kataku mengambil nampan makanan. Aku berjalan ke bawah menuju ruang kerjanya, perlahan aku membuka pintu. Kenzo sedang tidur di atas mejanya, kepalanya di lengan. Dia tampak begitu damai tidur di mejanya, wajahnya tampak sangat manis dengan rambut di wajahnya saat sinar matahari menari-nari di wajahnya. Dengan tenang aku meletakkan piring di ujung kanan mejanya agar tidak jatuh dan membangunkannya, lalu perlahan-lahan aku mengeluarkan ponselku dan mengambil gambar dengan cepat.


Aku berjinjit di belakang mejanya, memeluknya dari belakang mengetahui bahwa aku hanya memakai bra olahraga dan celana piyama pendek yang kukenakan, aku tidak bisa menahan diri, jadi aku mengoleskan ciuman yang lembut dan manis di lehernya menuju rahangnya.


"Cara yang bagus untuk membangunkanku, sayang," dia menyeringai


"Apa? Bagaimana?"


"Ssst ... kau akan merusak momen ini," bisiknya dengan suara serak pagi di telingaku, rambut di bagian belakang leherku berdiri.


"Kenzo, ini sarapanmu, nanti jadi dingin," aku tergagap sedikit.


"Biarkan dingin. Isabel, apa kau tahu betapa sulitnya bagiku menahan diri untuk tidak merobek setiap pakaianmu dan membawamu ke sini sekarang di mejaku? Kenapa kau begitu tak tertahankan? Setiap kali aku melihatmu atau pergi di dekatmu hanya satu yang kuinginkan yaitu sentuhan, tapi itu tidak pernah cukup. Aku khawatir jika aku mendapatkan satu sentuhan darimu, aku tidak akan bisa berhenti menjelajahi setiap inci dari tubuh indah lembutmu" mencium leherku ke arah dadaku.


Bagaimana aku menanggapinya? Oh aku tahu. Mari kita coba menggodanya.


Aku menarik wajah Kenzo dari leherku dan menuju bibirku, tempat lidah dan bibirku berbicara. Aku bermain di rambutnya, menariknya kira-kira bagaimana dia menyukainya. Dia mengerang saat aku menggigit bibir bawahnya, itu selalu membuatnya gila. Satu demi satu aku membuka kancing kemejanya sampai benar-benar lepas perlahan-lahan menggosok dadanya, sekarang saatnya istirahat. Aku menarik diri darinya dan tersenyum, lalu aku bangkit dari pangkuannya, mencium pipinya dan berjalan pergi.


"Oh, begitu ya. Kau mau bermain dengan api, sayang. Sebaiknya kau berhenti atau kau akan terbakar," teriaknya.


Aku terhenti saat jalan menuju pintu, aku berbalik ke arahnya dan memberinya senyum seksual. "Begitukah, Bapak Milliader? Aku suka sekali bermain dengan api," kataku dengan suara manja, aku menyaksikan matanya menjadi gelap karena gairahnya.


"Kalau begitu biarkan permainan dimulai, sayang," dia mengedipkan matanya. Aku tersenyum dan melihat waktu sudah siang.


Kami pasangan yang sangat norak ...


Yang aku lakukan selama 2 jam terakhir hanya memasak untuk piknik dan menyiapkan segala yang kami butuhkan. Akhirnya aku menelepon Natan dan Jeni saat aku sudah selesai menyiapkan semuanya.


"Sialan, Isabel. Kau melakukannya lagi, kau membuat kami khawatir padamu,"desak Jeni.


"Apa itu Isabel? Dimana dia? Hanya karena kau bersama Kenzo, bukan berarti kau tidak bisa memanggil kami," teriak Natan di belakang.


"Yah, aku minta maaf. Bagaimana?" Ujarku sinis.


"Tidak masalah, lagipula kenapa kau tidak mengirimi kami pesan saat kau sudah sampai di Singapur dan kembali ke Dumai?"


"Dengar, aku pantas mendapatkan semua kemarahanmu, aku mau menghubungimu saat kami sampai, tapi banyak hal terjadi kemarin, aku akan menceritakan semuanya," kataku. Satu jam kemudian aku selesai menjelaskan hari buruk ku kemarin, Jeni dan tentu saja Natan yang mendengarkan pembicaraanku tidak bisa berkata-kata.


"Jadi, kau berbaikan dengannya?" Tanya Natan


"Ya. Tapi perlu waktu untuk memaafkannya atas apa yang telah dia lakukan padaku dan ibuku," kataku.


"Wanita murahan itu. Aku tahu persis bagaimana cara menangani perempua jahat sepertinya, tidak punya hati, kaya, sombong, angkuh. Ugh. Aku membencinya," teriaknya. Lucu bagaimana Jeni mengkhawatirkan Vina dan Natan khawatir tentang Ayahku.


"Sekarang, apa kau sudah mengerti kenapa aku tidak menghubungimu kemarin?"


"Ya. Maaf sudah membentakmu," kata mereka pada saat bersamaan. Aku tahu mereka saling memandang seolah-olah ingin saling mencabik.


"Dengar teman-teman, aku harus bersiap-siap dan pergi untuk berpiknik dengan Kenzo sekarang. Aku sayang kalian berdua, bye."


"Kami berdua sayang padamu, sampai jumpa," kata mereka pada saat yang sama lagi, aku mendengar mereka saling berteriak kemudian menutup telepon sebelum aku menjadi tuli.


Saatnya bersiap-siap ...


Aku berlari dengan kecepatan penuh ke kamar mandi, aku mandi dengan cepat lalu aku mencuci rambut dengan sampo favoritku. Udara mengeringkan rambutku agar rambutku bergelombang, membuka koperku. Aku ingat baju imut yang kubeli di Bali. Aku mengenakan Dress biru muda dengan motif bunga kecil di atasnya, kardigan merah, sepatu merah datar dan terakhir topi pantai jerami kecil ku.


Sempurna ...


"Sayang? Kau sudah siap?" Kenzo berteriak dari dapur.