The Love Story Of Billionaire

The Love Story Of Billionaire
Episode 19



Isabel POV


Aku bersenang-senang dengan Kenzo kemarin dan pagi ini setelah kami mengenal satu sama lain dengan lebih baik, dia sebenarnya bukan orang yang jahat. Perlahan aku membuka pintu, Natan dan Jeni berdiri berdampingan dengan ekspresi yang sama di wajahnya: Kemarahan dan kesedihan. Aku tahu ini mungkin terjadi tapi ponselku mati dan aku lupa mengisi dayanya semalam di rumah Kenzo.


"Aku tahu. Maaf aku tidak menghubungi kalian berdua"


"Yah, harusnya begitu, kami khawatir padamu, terutama Natan, dan juga aku," bentak Jeni, senyum muncul di wajahku saat aku berjalan ke arah dua sahabatku dan memeluk mereka berdua.


"Lain kali, beri tahu kami di mana kau berada," kata Natan


"Lagi pula, bagaimana?" Jeni bertanya duduk di sampingku di sofa.


"Sangat menyenangkan"


"Itu saja? Kalian tidak tidur bareng?"


"Yang kami lakukan hanyalah ngobrol, makan di restoran, membuat sarapan pagi, aku juga tertidur karena mobilnya kehabisan bensin dan sangat sulit untuk mencari kendaraan lain." Jeni menatapku bingung


"Kau berada di rumah bersama bos kita yang seksi dan kalian tidak melakukan apa-apa? Sama sekali? Bahkan tidak ada sesi bercumbu? Atau setidaknya kecupan di bibir?" Dia bertanya ketika aku menggelengkan kepala, tidak.


"Tidak. Aku hanya bersenang-senang dan ngobrol bareng ... dan aku mencium pipinya saat pertandingan hanya karena Tantangan Ciuman bodoh itu." Kupikir aku mendengar geraman datang dari Natan.


"Dia tidak menyentuhmu atau apa?"


"Tidak Natan, aku masih bisa menjaga diriku sendiri, terima kasih. Bahkan jika itu terjadi, mungkin aku akan berada di Berita."


"Itu baru temanku," dia tersenyum dan berjalan ke kamarnya


Hari berikutnya...


Aku bangun dengan senyum di wajahku pagi ini, mungkin itu karena aku mengenal Kenzo sedikit lebih baik. Dia tidak seburuk yang kukira Wajahnya, senyuman, bibirnya semua itu mengalir di benakku sepanjang malam, aku semakin bahagia setiap kali aku melihat wajahnya.


Mungkin aku harus memakai sesuatu yang Seksi? Atau ...


Aku segera berlari ke lemariku untuk mencari sesuatu yang seksi / berkelas, tapi tidak ada yang sesuai dengan apa yang ku cari. Kurasa aku harus meminta bantuan pada seorang pakar fashion, aku mengetuk pintu, "Masuk," teriaknya, aku membuka pintu perlahan dan menatapnya lalu ke lantai. Jeni tahu persis apa yang kuinginkan hanya dengan sikapku.


30 menit kemudian...


"Terima kasih, Jeni, aku berhutang budi padamu," kataku, pakaian hari ini gaun merah berkelas, jaket kulit, stoking hitam, sepatu hak hitam, beberapa perhiasan dan sedikit make up dan aku membiarkan rambutku jatuh keriting.


Aku berhasil tepat waktu, berlari ke dalam gedung, semua mata laki-laki menatapku saat aku berjalan menuju lift, aku juga menerima banyak siulan dari pria lain, itu menyanjung tapi aku hanya ingin pendapat satu orang tentang pakaianku.


"Wow, Isabel. Kau terlihat cantik ... HEBAT," kata Ben, dia adalah salah satu rekan kerjaku.


"Terima kasih," aku tersenyum


Aku berjalan ke kantorku, meletakkan tas ku dan duduk. Jeni mengirimiku pesan


'Hei, mau double date denganku? Malam ini?'


"Aku tidak tahu, Jeni"


'Oh ayolah dia orang yang sangat baik, pikirkan saja'


"Baiklah, aku akan memikirkannya"


'Oke terima kasih Bel'


"Tentu, bye"


Telepon kantorku berbunyi; Kenzo.


Tiba-tiba aku merasa sangat gugup berjalan menuju kantornya, aku membuka pintu perlahan-lahan dengan senyum di wajahku sampai berubah menjadi kerutan lebih cepat daripada sayap burung kolibri. Melihat Kenzo di kursi kulitnya dengan seorang wanita di pangkuannya menciumnya. Rambutnya sehitam bayangan gelap dan kulitnya pucat tapi sangat indah, dia menoleh ke arahku sambil tersenyum jahat, matanya yang cokelat menjerit-jerit jahat, jahat dan kegelapan pada jiwaku. Aku pikir aku bisa menjadi orang yang dapat memperbaiki, hati dan jiwanya, tapi kurasa aku bukanlah gadis yang tepat, mungkin saja aku tidak memiliki sesuatu yang membuatnya tertarik. Jantungku hancur berkeping-keping, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak pernah membiarkan orang lain membuat hatiku merasa seperti ini lagi, tapi kurasa aku memintanya karena bagaimanapun dia adalah playboy multi-miliader.


"Isabel aku..," kata Kenzo mendorong wanita itu darinya.


"Pak Kenzo, anda melanggar undang-undang dengan memanggil pegawaimu dengan nama mereka," Aku tersenyum lemah, aku harus keluar cepat sebelum air mata ini keluar dari mataku.


"Silahkan..."


"Aku bisa melihat bahwa kU tidak memerlukan asisten sepertiku, Pak Kenzo. Aku permisi dulu, aku mau istirahat untuk makan siang lebih awal. Selamat menikmati hari kalian berdua," kataku berjalan keluar pintu menuju kantorku, dengan cepat aku meraih barang-barangku dan bergegas keluar kantorku dan keluar gedung ini. Aku menghubungi nomor Jeni.


'Halo?'


"Jeni, aku akan ikut denganmu," kataku sambil menghapus air mataku, kurasa aku perlu minum.