
Isabel POV
"Sayang, santai lah," kata Kenzo sambil meremas tanganku, kami sudah berangkat selama 3 jam dengan jet pribadinya. Sejak 4 jam yang lalu saat aku mendengar ibu ku mengalami serangan jantung aku sangat khawatir, dan sekarang aku juga merasa takut karena aku naik pesawat. Jujur aku takut skali naik pesawat.
"Bagaimana bisa aku santai kenzo, ibu ku, seorang wanita yang rela melakukan apa saja untukku, yang merawat ku sepanjang hidup dan sekarang mengalami serangan jantung ... bagaimana bisa aku santai begitu saja?" Kataku, karena frustrasi. "Maaf, karena bersikap kasar. Soalnya aku takut berada di ketinggian terlebih lagi takut jika sampai kehilangan ibuku." Aku menangis, Kenzo memberiku salah satu senyum manisnya.
"Aku mengerti, Isabel. Saat aku masih kecil, ayahku jatuh dari tangga dan harus dioperasi, aku pikir hidupku sudah berakhir. Tidak ada yang bisa kulakukan selain berharap dia bisa membaik," dia tersenyum padaku, dia benar. Aku harus santai dan berharap semuanya akan baik-baik saja saat aku sampai di sana.
"Aku tahu. Kau benar." Aku memandang ke arah Kenzo yang tersenyum. "Kenapa kau tersenyum seperti itu?" Aku bertanya, dia menatap ku dengan senyum lebar lalu memalingkan muka.
Kenapa dia tersenyum seperti itu?
"Aku bertanya padamu, Kenzo Marco Julian." Aku bertanya, dan mulai frustrasi dengan sifat kekanak-kanakannya itu.
"Ya ampun. Jeni yang memberitahuku soal kapan kau merasa frustrasi atau sedang marah, kau pasti akan seperti itu saat kau menyebut nama lengkapnya." dia terkekeh.
"Sepertinya kau dan Jeni cukup akrab satu sama lain. Apa lagi yang dikatakan wanita itu padamu?"
Aku merasa seperti cemburu pada Sahabatku sendiri karena mencoba bergaul dengan pacarku
Kenzo menatapku dengan tatapan bingung, dia memperhatikan nada suaraku dan ekspresi wajah yang kuberikan padanya.
"Apa Isabel ku, cemburu pada Sahabatnya sendiri? Wah mengejutkan," dia tertawa, aku menatap tanganku di pangkuanku.
Kenzo mengangkat kepalaku dengan jari telunjuk dan ibu jari dan memutarnya ke arahnya, aku duduk di sana menatap matanya yang indah.
"Isabel dengarkan aku baik-baik, oke? Kau tidak boleh cemburu dengan Jeni, Jeni sahabatmu dan aku hanya milikmu. Aku tidak ingin kau cemburu pada wanita mana pun dan ingat satu hal." katanya kemudian memberiku ciuman di bibir "Aku milikmu dan selamanya berada dihatiku" gumamnya memberiku lebih banyak ciuman lagi.
Selama-lamanya?
"Tuan dan Nyonya Julian, kita akan mendarat dalam beberapa jam lagi," kata pilot, aku menarik diri dari bibir Kenzo dan menatapnya sambil menyilangkan tangan. "Kau memberi tahu pilot bahwa kita sudah menikah, kan Kenzo?" Aku bertanya.
"Jujur Isabel, aku tidak pernah mengatakan apa-apapun ke orang lain kalau kita sudah menikah tapi aku tahu siapa yang melakukannya," dia tersenyum pada dirinya sendiri dan menggelengkan kepalanya dengan kecewa.
"Lalu siapa yang melakukannya? Kalau bukan kau, siapa yang memberitahunya?" Aku bertanya bingung.
"Tentu saja Ibuku. Aku harusnya sudah tahu sejak awal, kalau yang membawa jet ini adalah pilot pribadinya, tentu saja dia akan memberitahunya untuk memanggil kita dengan sebutan Tuan dan Nyonya Julian," dia terkekeh pada dirinya sendiri, aku memandangi dia dan tersenyum.
Bisakah aku membayangkan diriku menikah dengannya? Apakah aku akan mencintainya? Apakah dia mencintaiku? Aku tahu aku memiliki perasaan padanya tapi apakah itu cinta?
" Isabel ?!" katanya dengan keras, aku terkaget sedikit dan menatapnya.
"Apa?" Tanyaku menatap kosong padanya.
"Apa kau baik-baik saja? Kau kelihatan linglung saat aku bicara denganmu"
"Aku minta maaf, Kenzo. Aku sedang memikirkan sesuatu," aku tersenyum lemah padanya.
"Apa yang kau pikirkan? Apakah kau ingin membicarakannya?" Dia bertanya meletakkan kedua tangannya di tanganku lalu tersenyum manis padaku.
Haruskah aku memberitau soal perasaanku? Apakah dia siap mendengarkannya? Bagaimana jika dia langsung menolakku ? Aku belum siap, setidaknya tidak sekarang.
"Ummm. Tidak, terima kasih, aku baik, terima kasih."
"Apa kau yakin? Kau tahu kau bisa mengatakannya padaku, kan?"
"Istirahatlah, Isabel. Nanti aku akan membangunkanmu saat kita sudah sampai di bandara," kata Kenzo mencium kepalaku, aku mengangguk lalu membiarkan tidur mengambil alih diriku.
"Isabel, Isabel." Aku mendengar seseorang memanggil namaku. Perlahan aku membuka mataku, Angel sedang berlutut di depanku tersenyum padaku. Aku menguap
"Sudah berapa lama aku tidur? Apa kita sudah sampai?" Aku bertanya duduk di kursi ku.
"Kau pasti sangat lelah sayang," kata Kenzo bermain dengan rambutku.
"Kita sudah sampai? Kenapa kau tidak membangunkan ku?"
"Tidurmu lelap sekali, jadi aku tidak mau membangunkanmu sampai kau mulai mendengkur begitu keras," candanya.
Tunggu. Mendengkur? Apa dia bilang aku mendengkur? Aku tidak pernah mendengkur.
"Aku tidak mendengkur," aku mendengus. Aku memandang ke luar jendela dan menghela nafas, dengan cepat aku pergi mengambil barang bawaanku tapi semuanya sudah tidak ada.
"Apa kau yakin? Karena video yang di ponselku mengatakan sebaliknya," dia terkekeh. Aku terengah-engah ketika dia menunjukkan video itu padaku, dengan cepat aku meninju lengannya. Kami berjalan keluar pesawat, rasanya seperti sauna di sini. Bagaimana orang bisa hidup di sini dalam cuaca panas seperti ini? Sopir itu mengambil barang bawaan kami saat kami masuk ke dalam mobil menuju rumah sakit, telapak tanganku mulai berkeringat.
"Tetaplah rileks," kata Kenzo sambil menggosok pahaku, yang membuatku kesal.
Tunggu? Sopir baru?
"Tunggu, hmmm Kenzo?"
"Ya, Sayang?"
"Apa yang terjadi dengan sopir lama mu?" Aku bertanya, senyum muncul di wajahnya.
"Anggap saja dia cuti selama beberapa bulan ke depan," dia menyengir, aku terkesiap.
"Apa yang kau lakukan padanya? Kau tidak menyakitinya, kan? Atau..." Aku bertanya, Kenzo hanya tertawa keras.
"Apa kau benar-benar berpikir begitu tentangku, sayang? Kenapa aku harus membuang energiku hanya untuk anak kecil sepertinya? Aku menyuruhnya pulang rumahnya, itu saja"
"Kenapa? Apa bapak Kenzo cemburu padaku karena sopir lamanya." Aku bercanda.
Kenzo menoleh ke arahku, aku menatap matanya, matanya gelap dan penuh dengan nafsu "Aku Kenzo Julian sang Miliarder kenapa harus cemburu pada seorang sopir? Jauh di lubuk hatiku, kau menginginkannya dalam mimpi-mimpimu? Dan apa yang dia berikan padamu bukan ciuman, itu ciuman biasa, ciuman di pipi Beginilah cara lelaki dewasa mencium seorang wanita." katanya menarikku dengan paksa ke bibirnya, dia menciumku seperti orang yang kelaparan. Aku akan berbohong jika aku bilang aku tidak suka karena sebenarnya aku suka kalau dia menciumku seperti ini, itu selalu membuatku bersemangat dan bersemangat. Aku tidak tahu berapa lama kami duduk di sana melakukan sesi bercinta, tapi kami kehabisan napas.
"Nah, sekarang kau tahu bedanya dari ciuman seorang bocah dan ciumanku," candanya sambil keluar dari mobil, kurasa kami berhasil sampai ke rumah sakit.
"Tunggu, kau menggangguku sepanjang perjalanan, kan?" Aku bertanya menutup pintu.
"Yah, kau tidak gugup lagi kan?" dia mengedipkan mata.
"Tidak. Tapi bukan itu intinya, kau menipuku"
"Tidak, aku tidak. Yah, memang, tapi aku membantumu, yang seharusnya kudapat adalah ucapan terima kasih," katanya sambil melingkarkan lengannya di pinggangku ketika kami berjalan menuju pintu masuk rumah sakit.
"Halo, aku mencari pasien bernama Catrina. Aku putrinya," Aku memberi tahu seorang petugas disana.
"Ah, ya. Dia sudah menunggumu, Nona. Lantai 4 Kamar 456, naik lift ke kanan." dia melambaikan tangan pada kami. Kami naik lift, itu kosong dan perasaan gugup kembali. Kenzo meraih tanganku dan menjalin jari kami bersama, dengan adanya dia di sini aku merasa tidak gugup lagi