The Love Story Of Billionaire

The Love Story Of Billionaire
Episode 42



Isabel POV


Aku memanggil Mike, kami duduk di ruang tamu tanpa bicara sepatah kata pun.


"Kamu mau minum sesuatu? Biar aku mengambilkannya untukmu," Aku tersenyum padanya berjalan ke dapur. Aku mengambil sebotol minuman dan dua gelas kaca.


Aku duduk, tangan ku mulai bergetar saat aku menuangkan jus itu. "Bel, apa semuanya baik-baik saja?" Dia berkata sambil meletakkan tangannya di pundakku, aku memeluknya dan membenamkan wajahku ke bajunya. Aku mencoba menahan air mata tapi air mata itu mengalir turun. Mike membalas pelukan ku, "Bicaralah padaku" dia berkata, aku mengangguk.


Setelah beberapa kali kami minum lagi, aku tidak dapat menghitung berapa banyak yang aku minum. "Apa yang harus aku lakukan? Apa yang akan aku lakukan?" Kataku saat air mata jatuh.


"Pertama, kamu harus berhenti minum. Lalu, berhenti menangis. Wanita pintar, manis, penuh kasih, dan mandiri tidak pernah meneteskan air mata. Kamu terlalu cantik untuk meneteskan air mata," dia tersenyum menyeka air mataku dengan ibu jarinya.


Aku mengambil beberapa foto lagi, air mata jatuh di wajahku saat aku memikirkan Kenzo. "Sekarang, apa yang kukatakan tentang mencucurkan air mata?" dia terkekeh, matanya yang indah, dia menarik wajahku ke arahnya dan menyeka air mataku lagi.


Saat itulah sesuatu yang buruk terjadi, Mike menangkup wajahku dan mulai mengecup ki. Aku sangat mabuk untuk memahami apa yang terjadi. Tiba-tiba aku meresponnya kembali, kami berdiri. Dia mengangkatku, kakiku melingkari pinggangnya saat dia menjepitku ke dinding.


Astaga. Ini hal yang salah, benar-benar salah. Tapi kenapa rasanya begitu tulus? Kenapa aku begitu menyukainya? Astaga!


Dia mulai mengecup, di bagian leherku ke bawah menuju buah dada ku. Tangannya mencengkeram bokong ku, aku dengan perlahan menarik rambutnya, dia mengerang sambil menjelajahi leherku dengan bibirnya. Aku mengerang namanya. Aku bisa merasakan dia menyeringai dan aku dengan erat meraih bajunya.


Tiba-tiba dia berhenti dan menurunkanku, aku memandangnya dengan bingung.


"Kenapa berhenti?" Aku bertanya.


"Tidak Isabel, ini salah, kamu akan menyesali hal ini di pagi hari, kamu tidak akan ingat apa pun yang terjadi. Percayalah padaku. Dan aku juga tidak ingin kamu tenggelam dalam rasa bersalah. Terima kasih karena sudah memanggilku, hubungi aku jika kamu ingin bicara lagi tanpa keadaan mabuk."dia tersenyum padaku meraih jaketnya.


Aku tidak ingin sendirian, aku benci sendirian, tolong jangan tinggalkan aku di sini sendirian.


Dengan cepat aku berlari ke arah Mike dan memeluknya dari belakang dengan erat, lalu aku membenamkan wajahku di punggungnya. "Tolong jangan tinggalkan aku di sini. Menginaplah, kumohon," aku menang.


Dia menghela nafas dalam-dalam, "Baiklah. Aku akan menginap, Sayang," katanya, aku berlari dan mengambil baju dan celana olahraga untuk dia pakai. Aku merangkak ke tempat tidur, Mike mengikuti di belakangku. Kami berbaring di tempat tidur dalam tatap muka yang gelap,


"Terima kasih, untuk semuanya, Mike" Aku tersenyum.


"Hei, apa kamu sudah pernah mencari wanita itu?"


"Ya. aku sudah menemukannya."


Aku menguap, "Jangan khawatir. Kamu akan menemukan seseorang yang lebih baik." lalu rasa ngantuk mengambil alih diriku.


Aku terbangun dengan kondisi mabuk yang berat, yang membuatnya paling buruk adalah ada seseorang yang mengetuk pintu sedini ini. Aku bangkit dan memperhatikan Mike sedang tidur dengan damai, rambut menutupi wajahnya. Sangat menggemaskan, dia adalah teman yang baik, jika dia tidak menghentikanku semalam, aku akan menyesalinya.


Aku berjalan menuju pintu, aku membuka pintu dan melihat Kenzo.


Oh Astaga.


Dia melihat bekas cup'ng di leherku lalu di belakangku, aku mendengar Mike sedang menguap di belakangku.


"Kenzo. Maaf, ini tidak seperti yang kamu kira," kataku berhasil menariknya dari Mike yang hidungnya sedang berdarah. Aku mengantar Mike ke kamar mandi, lalu kembali ke ruang tamu untuk bicara dengan Kenzo.


"Kamu ini kenapa ?! Kenapa kamu melakukan itu ?! Apa yang Mike lakukan terhadapmu ?!" Aku berteriak.


"Apa yang kamu lakukan, cihh, tidur dengannya?! Apa kamu jatuh cinta padanya ?! Begitu ?!" dia balas berteriak.


"Kenapa kamu langsung menyimpulkan sesuatu?


"Lalu kenapa kamu punya bekas cup'ng di lehermu, Isabel. Kenapa ?!"


"Seperti yang aku katakan, aku patah hati dan merasa bingung juga aku terlalu banyak minum semalam, kami saling berciuman tapi hanya itu. Kamu tahu, aku tidak akan pernah melakukan hal yang lebih dari itu, jadi kamu tidak punya alasan untuk menyiratkan bahwa aku melakukannya." aku berteriak padanya, dia tampak tenang. "Dengar, aku minta maaf kalau aku menciumnya. Itu bukan niatku, tapi setelah kamu berbohong padaku, aku tidak bisa-" air mata jatuh di wajahku, Kenzo mendekat ke arahku dan memelukku. Dia menyeka air mata, dan menciumku.


Oh Aku merindukannya, aromanya, kehangatannya, ciuman manisnya. Segala sesuatu tentangnya.


"Bagaimana kalau kamu datang ke rumahku malam ini. Lalu kita bisa menyelesaikan ini karena aku tidak bisa hidup tanpamu, aku tidak tahan kalau kamu menangis atau marah padaku. Aku sangat mencintaimu, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, sayang." Kenzo berkata aku mengangguk dan memeluknya lebih erat.


"Aku mencintaimu juga".