
Piiip!
Piip piip!
Aku melihat ke arah luar jendela dan melihat Lucky membunyikan klakson mobilnya padaku. Aku bergegas keluar dari rumah, aku mengambil sebuah apel dan berlari keluar pintu sebelum dia meninggalkanku.
Orang tua ku berangkat kerja lebih awal dari biasanya, aku kira itu adalah keadaan darurat yang serius, sudah seminggu dia seperti itu.
Mereka memberi ku catatan kecil setiap hari, mereka menyesalinya karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan akan menebus kesalahannya itu.
Mengunci pintu di belakangku, aku berlari ke arah mobil Lucky. "Hei, Lucky," kataku.
"Ayo berangkat," katanya.
"Ya," aku tersenyum.
"Jadi, bagaimana hubunganmu dengan pacarmu?"
"Siapa? Oh. Ya. Kami sudah putus."
"Lagi ?! Ugh. Apa yang terjadi? Tunggu. Jangan bilang dia berselingkuh dengan model itu?" Aku bertanya, Lucky menatap ku. "Hmmm sorry Lucky."
Lucky menepuk kepalaku, aku menamparnya dan dia tertawa.
Lucky memiliki tawa yang sangat manis. Aku suka kalau dia bahagia, itu membuatku juga ikuy bahagia.
"Tidak apa-apa, Alis. Lagi pula aku akan mencampakkannya, sudah waktunya bagiku untuk melajang," dia terkekeh.
"Aku senang kalau kamu juga senang," aku tersenyum padanya. Lucky memarkir mobilnya, kerumunan gadis mulai melingkari pintu masuk sekolah.
Apa yang terjadi di sana?
Aku menoleh ke arah Lucky dan dia menggelengkan kepalanya. Dia merangkulku saat kami berjalan masuk ke sekolah. Aku mencoba melihat apa yang sedang terjadi tapi ada terlalu banyak gadis di koridor, aku tidak bisa melihat apa-apa. "Menurutmu apa itu?" Aku bertanya pada Lucky.
"Mungkin siswa baru yang nakal itu. Aku belum pernah melihat begitu banyak cewek kegirangan hanya karena satu cowok sebelumnya,"
"Aku tidak termasuk, lho."
"Kamu sepertinya satu-satunya cewek yang tidak terganggu karena penampilannya, Alis"
"Tidaklah, aku bahkan tidak tahu bagaimana tampangnya dan bahkan jika aku melihatnya aku tidak akan pernah menyukainya. Aku tidak mau berhubungan dengan anak nakal."
Lucky terkekeh, "Alis, kamu belum pernah berkencan dengan cowok sebelumnya". Aku meninju lengannya, "Aduh. Kamu terlihat menggemaskan saat kamu merasa malu, aku yakin kamu akan terlihat lebih manis."
"Diam! Aku bisa berkencan dengan cowok yang aku mau, tapi sayangnya aku tidak mau begitu. Aku ingin fokus dan masuk ke perguruan tinggi bukan untuk berpacaran dan berkencan," aku mendengus.
"Tentu saja bisa, Alis." Lucky tersenyum. "Ayo cepat ke kelas sebelum kita terlambat" Kami bergegas ke kelas.
Akhirnya, waktu makan siang tiba.
Ada kerumunan anak cewek lain di sekitar meja makan siang di sudut.
Dia di sini.
"Oii. Alis, sebelah sini," teriak Lucky, aku tersenyum berjalan menuju mejanya di dekat jendela.
"Hei, Lucky," aku duduk memakan cemilanku.
"Lihat itu, dia punya banyak penggemar. Pasti setenar itu," kata Lucky memandangi meja yang dikelilingi oleh para gadis.
"Kurasa. Hei, kita harus melakukan sesuatu besok karena ini hari Jumat dan besok kan libur."
"Seperti apa?"
"Nonton film"
"Tentu. Kita bisa menonton film horor / thriller."
"Ugh. Yah. Kenapa film yang menakutkan? Kamu tahu bagaimana aku saat aku menontonnya."
"Kamu sudah umur 18 Alis, bukan lahi 6 tahun."
Aku tersenyum dan menganggukkan kepala. Kelas berlalu dengan cepat. Aku duduk di kursi ku yang biasa di belakang, Lucky duduk di tengah.
"Kami kedatangan siswa baru hari ini." Pak Samuel berbicara. Kemudian pintu terbuka, seorang pria jangkung dengan rambut cokelat pendek, garis rahang yang kuat, bertubuh kekar, mengenakan jaket kulit dan kemeja v-neck putih, celana jeans biru tua dan sepatu hitam.
Dia terlihat seperti Model terkenal.
"Kelas ini kedatangan siswa baru, Alvaro Julian. Silakan duduk di sebelah Alisia Yocelin, kamu akan duduk disana selamanya," Kata Pak Samuel. Alvaro mendongak.
Semua cewek memberiku tatapan tajam, Lucky memandangnya seolah dia hanya buang-buang waktu, aku memutar mataku dan menundukkan kepalaku.
"Alisia, tolong angkat tanganmu," perintah Pak Samuel. Perlahan-lahan aku mengangkat tangan, memandang ke arah lain selain ke arahnya.
Dia duduk di sampingku.
Aku tidak pernah merasa canggung sebelumnya. Haruskah aku berterima kasih padanya? Atau haruskah aku bertindak seperti tidak ada yang terjadi? Apa yang harus aku lakukan?
Bel berbunyi, dia tidak bicara selama kelas berlangsung, dia hanya duduk di sana menatap langit-langit. "Satu hal lagi sebelum kamu pergi. Orang di sebelahmu akan menjadi teman barumu baik dalam hal diskusi atau apapun. Kami akan melakukan proyek selama beberapa minggu ke depan. Itu saja," Pak Samuel selesai berbicara.
Ayo, kamu pasti bercanda? Kenapa dia?
"Alis, ada apa? Kamu tampak diam sejak meninggalkan kelas Pak Samuel" kata Lucky saat kami berjalan menuju mobilnya.
"Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu, ini tentang apa yang terjadi padaku kemarin," kataku.
"Yah. Uh, soal anak baru itu,"
"Tidak. Orang lain selain dia, dia memang tampan tapi jangan menyukai atau mendekatinya seperti geng-geng yang lainnya," katanya gemetar. Aku meninju perutnya. "Awhh, kamu memukul perutku dengan keras. Apa kamu..." katanya mencoba menarik napas.
"Oh. Astaga. Maafkan aku, aku tidak bermaksud memukulmu sekuat itu, Lucky. Lagi pula seperti yang kukatakan sebelum kau dengan kasar menggangguku. Sarah dan anteknya membentakku, dia menginjak kacamataku dan menghancurkannya. Lalu ... dia- Anak baru itu datang dan membantuku masuk ke kantor kepala sekolah."
"Bagaimana kamu tahu itu dia? Kamu kan tidak bisa melihat kalau tanpa kacamata?"
"Aku ingat mata itu. Tidak ada seorang pun di sekolah ini memiliki mata cokelat indah itu kecuali dia yang memilikinya. Tangannya begitu lembut, begitu hangat dan parfumnya sangat wangi," kataku berpikir tentang matanya.
"Halo Alis, sadarlah." Teriak Lucky menjentikkan tangannya, aku melompat ketakutan.
"Apa ? Kenapa kamu menatapku seperti itu?"
"Tidak kenapa. Sama sekali tidak kenapa," Katanya. Aku memutar mataku, aku muak dan lelah dengan kerumunan gadis-gadis ini. Butuh setahun untuk melewati mereka semua.
Membuka pintu, aku merasakan ada yang memelototiku. Melihat sekeliling, aku bertemu dengan mata siswa baru yang nakal dengan motor hitamnya yang bagus dan lumayan mahal. Kami berdiri di sana menatap satu sama lain, aku memisahkan tatapan dan masuk ke dalam mobil. Pipiku terasa sangat panas.
Aku merosot di kursiku, "Alisia, kamu baik-baik saja? Awh. Kamu memerah" dia tersenyum semakin dekat ke wajahku. Aku main-main mendorongnya menjauh. Lucky menyalakan mobil, mau tak mau aku memandangnya. Dia tidak melihat ke arahku, sebaliknya dia berbicara dengan seorang cewek berambut sosis; Sarah.
Tentu saja dia mau saling bicara, mereka saja cocok satu sama lain.
Hari berikutnya...
Aku bangun dengan hadiah kotak kecil berwarna di tempat tidurku. Ada catatan yang melekat.
'*Alisia tersayang,
Ini hadiah dari ibu dan ayah, kami tahu sudah seminggu sejak terakhir kali kamu melihat kami, kami benar-benar minta maaf. Oleh karena itu, kami memberi ini sebagai permintaan maaf kami.
Love you
-Ibu dan ayah*'
Perlahan membuka hadiah. Ada gelang yanh sangat indah, berwarna biru muda dan putih, dan itu warna kesukaanku. Aku menyukainya.
Aku bangun dan melakukan aktivitas pagi ku Aku berjalan menuruni tangga marmer ku ke dapur. "Halo, Chef Juna. Apa yang mau kamu masakkan untukku hari ini?" Kataku.
Yah kami memiliki seorang pelayan dan koki dirumah. Kakek ku sangat kaya raya dan menyerahkan semua warisannya pada cucu satu-satunya: ayah ku. Dan yang paling penting dari orang tua ku tentu saja kau tahu, dia adalah dokter terbaik di sebuah rumah sakit, artinya orang tuaku dibayar tiga kali lipat dari dokter biasa. Aku tinggal di sebuah rumah modern kecil, tidak besar ataupun mewah tapi nyaman.
Tidak seorang pun yang tahu di mana aku tinggal dan semua tentang kekayaan keluargaku kecuali Lucky. Terakhir kali aku memberi tahu seseorang soal semua tentang diriku tapi mereka hanya memanfaatkanku. Aku bodoh dan naif, tapi aku berterima kasih pada Lucas yang selalu membantu ku.
"Aku membuat kue blueberry favoritmu, jus jeruk yang baru saja diperas, dan cupcake," dia menyeringai.
"Terima kasih, Chef, kau yang terbaik" Aku tersenyum menggerogoti piring makananku. Sepanjang hari yang aku lakukan hanyalah belajar dan membaca buku.
Jam menunjukkan pukul enam, aku harus bergegas dan bersiap-siap untuk menonton film sebelum Lucky tiba di sini. Aku berlari ke atas, mandi cepat, mengenakan sweter biru, celana jins biru gelap, dan sepatu hitamku. Suara klalson mobil terdengar di luar, Lucky sudah datang.
Kamipun berangkat ke bioskop.
Kami tiba di bioskop tepat waktu. Semua orang menatap Lucky dan menatap tajam padaku saat kami membeli tiket dan makanan kami. "Awe. Pasangan yang imut," kata seorang wanita tua. Lucky yang imut dengan rambutnya yang cokelat muda dan mata coklat gelap.
Setelah hampir mengencingi celanaku filmnya pun akhirnya berakhir. "Aku benci film itu, aku tidak akan tidur selama berbulan-bulan karena kamu," kataku, Lucky tertawa.
"Itu tidak menakutkan, jangan menangis sayang," candanya, kami berjalan ke mobil. Aku memperhatikan sekelompok orang memukuli seseorang di tanah lalu pergi, dengan cepat aku pergi untuk membantu orang miskin itu.
"Hmm. Hei kamu baik-baik saja?" tanyaku membalikkannya.
Aku tidak bisa mempercayai apa yang kulihat dihadapanku.
"Alvaro ?!" Kataku kaget.