
Mike POV
Aku merindukannya. Mata cokelatnya yang menggemaskan, bibir merah muda montok dan ... semua tentangnya. Setiap malam aku tidak bisa tidur, bayangannya terus mengalir di benakku. Tubuhku membutuhkannya dan kurasa aku bahkan ... bahkan ... jatuh cinta padanya. Aku tidak pernah merasa seperti ini terhadap wanita lain sebelumnya dan akan tidak akan membiarkannya lolos lagi.
Kenzo kira dia bisa mengambilnya dari ku dan membayar ku untuk lari keluar negeri seperti seorang pengecut? Yah dia akan sadar saat aku kembali mengambil cintaku dari hidupnya.
"Pesawat boeing A1706 tujuan ke Dumai akan segera berangkat," kata wanita yang berbicara. Aku berdiri mengambil tas ku dan berjalan menuju pesawat ku.
Beberapa jam kemudian aku tiba di Dumai ...
oh, betapa aku merindukan tempat ini.
Aku berjalan menuju apartemen baruku, tiba-tiba aku melewati sebuah kios yang menjual koran dan ada seseorang yang menarik perhatianku. Di surat kabar itu tertulis 'Kenzo Marco Julian bertunangan dengan Isabel Marry Jones yang cantik'. Aku merasa marah dan cemburu.
Aku terlambat ... Tidak. Aku sudah tepat waktu.
Aku melanjutkan perjalanan ke apartemen baruku yang dekat dengan rumah Isabel. Sekarang aku bisa melihatnya setiap hari, tapi itu tidak cukup, aku menginginkannya.
Sialan. Aku tidak tahan lagi, aku merasa mau gila, sepertinya aku perlu berendam di air dingin.
Setelah itu, aku menggantung handuk ku di pinggangku kemudian melihat seseorang dari luar jendela yang sedang berjalan. Aku berjalan menuju jendela ku untuk melihat lebih dekat dan melihat Isabel dengan tas di tangannya, tiba-tiba salah satu tas nya robek dan menjatuhkan segala sesuatu di tanah.
Sekarang adalah kesempatan ku ...
Dengan cepat aku mengenakan pakaianku dan berlari ke bawah menuju Isabel. Aku berjalan santai dengan ponsel ku di sisi lain jalan sampai dia melihatku.
"Mike ?!" teriaknya, kurasa itu berhasil.
Aku mendongak, dia seperti seorang dewi yang cantik. Aku berjalan ke arahnya.
"Halo, Isabel," kataku sambil memeluknya, lalu membantu mengambil beberapa makanan yang jatuh di aspal.
"Terima kasih banyak. Dari mana saja kau? Aku rindu dengan gaya bicaramu itu," dia tertawa dengan indah, aku benar-benar merindukannya, setiap kali dia tertawa, jantungku berdetak kencang.
"Awh. Begitu, kau merindukan gaya bicaraku dibanding diriku? Itu sangat menyakitkan, aku pikir kau menghancurkan hatiku" Aku main-main menyentuh dadaku.
"Oh, aku bercanda. Tentu saja aku merindukanmu, Mike. Tapi jujur, kau dari mana saja?"
"Yah, aku kehilangan seseorang yang istimewa di hidupku di sini. Makanya aku pergi dan kembali untuk mencarinya."
"Aww, itu romantis sekali. Dia beruntung memilikimu, semoga kau menemukannya"
"Oh, sudahlah tentu saja kau orangnya," gumamku pelan.
"Hah? Apa kau mengatakan sesuatu?" Dia bertanya, aku menggelengkan kepalaku.
"Ya, sayang?" Dia terkikik.
"Sobat, Katakan yang sebenarnya, kenapa kau pergi? Apa karena Kenzo? Apakah dia melakukan sesuatu padamu? Apakah dia menyakitimu? Mengancammu? atau ada sesuatu?" Dia tampak terluka dan sedih, itu membuatku merasa lebih dekat dengannya.
Sumpah, saat dia menyebut namanya itu membuatku merasa ingin muntah ... Aku tidak bisa membohonginya, terutama dengan wajah manisnya itu, aku harus mengelaknya.
Aku menghela napas dalam-dalam dan menganggukkan kepalaku.
"Dia memberiku 150 juta untuk menjauh darimu dan kembali ke Singapura dan sekarang aku kembali karena mau melihatmu tapi aku tidak ingin dia tahu." Aku mengalihkan pandangan ke arah sepatu.
“Oh, maaf karena dia melakukan itu. Jika aku tahu dia akan melakukan hal seperti itu, aku akan membantumu.”
Aku menyeringai kekanak-kanakan padanya, "Isabel, aku baik-baik saja, itu bukan salahmu. Setidaknya dengan uang itu aku membantu ibuku pindah ke rumah yang lebih besar dan lebih baik ditambah menaruh persediaan makanan di lemari es dan pakaian baru untuk dia pakai. Karena itu tidak perlu merasa sedih untukku "Aku tersenyum, dia memberiku senyum manis. Setelah beberapa saat, kami tiba di depan rumahnya.
"Terima kasih sudah membantuku, Mike. Senang bertemu denganmu lagi, kita harus lebih sering jalan-jalan. Dan jangan khawatir aku tidak akan memberi tahu Kenzo kalau kau ada di sini"
"Terima kasih banyak, Isabel dan terima kasih. Oh, dan selamat atas pertunanganmu," Aku memberikan belanjaannya, dia mengucapkan terima kasih dengan ciuman di pipi.
"Terima kasih kembali," dia melambaikan tangan, menutup pintu di belakangnya.
Aku tidak bisa berhenti tersenyum, karena sentuhan bibirnya yang lembut di pipiku . Aku berjalan kembali ke apartemen ku, aku berhenti di sebuah kedai untuk minum segelas kopi.
Berajalan ke kasir aku mendengar seseorang memanggil namaku "Mike ...," Aku menoleh ke belakang dan tidak melihat siapa pun selain kakakku. Kami saling berpelukan.
"Hei, Vina. Bagaimana kabarmu?" Kataku sambil membayar kasir.
"Senang melihatmu. Kau sudah mendengar soal pertunangannya?"
"Senang melihatmu Vina. Ya tentu saja"
"Apa kau tidak ingin melakukan sesuatu untuk menghentikannya?"
"Tentu saja aku tahu, tapi apa yang harus kulakukan?"
"Aku punya rencana, adikku tersayang. Dan itu bisa membantu kita berdua mendapatkan apa yang kita inginkan"
"Aku mendengarkan ..." Vina membawaku ke tempatnya di mana dia mendiskusikan rencananya.
Saat kami selesai, dia menurunkan ku didepan apartemen ku dan pergi, "Aku akan terus mengabarimu," katanya lalu pergi.
Semoga rencana ini berhasil ... Isabel bersiaplah untuk bertemu dengan Pangeran Tampan barumu.