The Love Story Of Billionaire

The Love Story Of Billionaire
Ep. 52



Alisia POV


"Bagaimana caramu membalasnya?" Lucky bertanya.


Aku menarik napas dalam-dalam dan menggigit bibir bawahku, sudah menjadi kebiasaan sejak aku masih kecil, setiap kali aku berpikir keras aku cenderung menggigit bibir bawahku, dan orang tuaku berusaha menghentikannya tapi sepertinya tidak bisa.


"Apa yang harus aku lakukan? Bukannya ..." Lucky memotong pembicaraanku dengan melempar bantal lain ke arahku.


"Diam dulu, aku akan memberitahumu."


"Maaf," gumamku.


"Ngomong-ngomong. Aku menyebutnya 'Jebakan Batman'. Kau membujuknya, membuatnya jatuh cinta padamu lalu menghancurkannya. Aku jenius kan?"


"Tunggu. Aku tidak tahu bagaimana membuat seseorang jatuh cinta padaku."


"Itu sebabnya kamu memilikiku, aku akan mengubahmu menjadi gadis impiannya. Aku hanya perlu mengubahmu sedikit kemudian, Tadaaa, "


"Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi?"


"Tidak akan terjadi apa-apa karena kamu akan memintaku untuk membantumu melaluinya."


"Apa tidak ada cara lain? Aku tidak merasa enak hati kalau harus menghancurkan hati seseorang, Lucky." Aku berkata duduk di tepi tempat tidur ku. Lucky duduk di sampingku dan memelukku.


"Kita akan melakukan sesuatu yang tidak pernah kita lakukan sebelumnya. Jika kamu berpikir dua kali maka kita bisa menghentikan ini sekarang, tapi ingat ini, ciuman pertama adalah hal yang spesial seumur hidup, kamu tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk kedua kalinya, "katanya.


Dia benar. Kau hanya hidup sekali, ciuman pertamaku seharusnya untuk seseorang yang istimewa bukan seperti itu. Aku ingat kalau rasa bibirnya membuat seluruh tubuh ku bergetar, bibirnya begitu lembut dan manis.


Aku mengusir pikiran itu dari kepalaku, "Baiklah. Aku setuju," aku tersenyum.


"Kamu yakin? Begitu kamu melakukannya, tidak akan ada jalan keluar," katanya, aku mengangguk.


Bersiaplah Alvaro, aku akan menghancurkan hatimu.


Maka keesokkan harinya di sekolah adalah hari aku membuat Alvaro bertekup lutut dan memohon ampun, aku sedikit gugup. Lucky memaksaku semalaman untuk berlatih hari ini, bagaimana berjalan, bertindak, dan berbicara dengan elegan. Siapa yang tahu kalau membuat seseorang jatuh cinta padamu adalah kerja keras; aku lelah.


"Alisia, sudah waktunya," kata Lucky membangunkanku.


Membuka mataku dan melihat sekeliling, perlahan aku bangkit dari tempat tidur. Aku mandi sebentar, keramas rambutku dengan shampoo beraroma stroberi kesukaanku.


"Baiklah. Aku sudah selesai," kataku, keluar dari kamar mandi.


Lucky mendudukkan ku di kursi dan mulai mengubah penampilan ku. Dia mengeringkan rambutku, mengikatnya dengan sedikit berantakan dan meninggalkan sedikit rambut di depan. Selanjutnya, make up. Tidak terlalu menor. Dan bagian terakhir, seragam sekolah. Kancing baju sekolahku aku membukanya 1 di bagian atas, aku mengenakan rok abu-abu dan sepatu hak tinggi hitam terikat.


"Aku sudah selesai," katanya, aku bangkit dan melihat diriku di cermin.


"Wow, kamu melakukan pekerjaan dengan baik. Aku bahkan tidak mengenali diriku lagi," Aku tersenyum memeluknya. "Satu hal terakhir," katanya.


"Apa?"


"Kacamatamu. Sini. Pakai ini," katanya memberiku softlens.


"Apa aku harus memakainya?" Aku bertanya, dia mengangguk. Aku berjalan ke kamar mandi dan menaruh softlens ini di mataku.


"Sekarang, semuanya selesai"


Kami menuju ke mobilku di garasi dan pergi ke sekolah.


"Apa kamu siap?" kata Lucky.


"Aku siap."


Lucky mengenakan seragam sekolah, rambutnya hitam lebat dan agak lebih keriting dari biasanya. Semua orang berhenti dan menatap kami.


Dia bersandar ke telingaku, "Tenang, aku ada di sini; kalau kau jatuh. Langkah pertama: tatap matanya," katanya, aku mengangguk dan berjalan menuju kelas, aku terlambat tapi aku tidak peduli.


Bagaimana tanggapan David dan Alvaro jika dia melihatku seperti ini? Apa mereka akan suka atau membencinya. Kenapa aku harus peduli dengan apa yang dipikirkan mereka?


"Biar aku masuk duluan, lima menit kemudian kamu berjalan masuk dan menunjukkan pada mereka siapa bosnya. Semoga berhasil," kata Lucky sambil memelukku lalu masuk ke dalam ruangan.


Aku bisa melakukan ini. Aku bisa melakukannya. Aku tidak tahu apa aku bisa melakukan ini. Aku Alisia dan Alisia tidak akan menyerah begitu saja tanpa perlawanan. Dalam hitungan ke tiga 1 ... 2 ... 3.


Aku mengambil napas dalam-dalam dan berjalan, mata semua orang tertuju padaku. Bahkan Alvaro yang tidak bisa mengalihkan pandangannya dariku.


"Alis? Maksudku Alisia?" Kata David.


"Maaf, aku terlambat. David." Aku mengedip padanya, matanya terpaku padaku, aku bisa merasakannya pada diriku saat aku duduk di sebelah Alvaro.


Aku hanya tersenyum padanya.


Semua orang tidak bisa menjaga pandangannya dariku sepanjang mata pelajaran, David tiba-tiba ke arahku dan Alvaro terus memberi tatapan tajam pada David.


"Apa ada yang bisa aku bantu, Pak?" Aku bertanya.


"Kalau kamu ingin mengajakku dinner, kamu bisa saja memberitahuku. Tapi aku suka perubahanmu. Itu membuatku bersemangat." Dia tersenyum.


"Harus kah aku memberitahumu, Pak? Kalau menggoda murid mu sendiri itu perbuatan yang melanggar hukum."


"Pintar. Aku akan menemuimu nanti. Alisia" dia mengedipkan matanya padaku, aku memalsukan muntah dan berjalan keluar. Segera setelah aku berjalan keluar, aku merasakan seseorang menarik ku ke dalam ruangan petugas kebersihan yang gelap dan menempelkan tubuhku ke dinding.


Dia terengah-engah.


Aku ingat bau parfum ini, siapa yah?


"Um. Hei siapa kamu?" Aku bertanya.


Aku mendongak, Alvaro menatapku. "Kenapa kamu membawaku ke sini?" Aku bertanya mencoba bergerak tapi dia sangat kuat dibandingkan dengan ukuran badanku yang lemah dan kecil.


"Apa yang kamu dan David bicarakan?" Alvaro bertanya.


"Apa urusanmu? Apa yang kami bicarakan itu bukan urusanmu?"


"Jangan bicara dengannya, Culun. Orang itu benar-benar jahat."


Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba dia berpikir dia bisa memberitahuku apa yang harus aku lakukan? Aku punya orang tua untuk aku dengarkan dan aku tidak butuh orang lain. Bagaimana dia bisa mengenal David?


Aku kesal, "Untuk terakhir kali aku bilang, kenapa kamu melakukan ini padaku," kataku, ugh. Dia membuatku sangat marah.


Dia mencondongkan tubuh ke depan telingaku, "Kita lihat saja nanti soal itu ... Culun," katanya sambil tersenyum di leherku, lalu dia meninggalkan pintu.


Aku menjulurkan lidah ke arahnya dan dia berjalan pergi, untuk sisa hari itu aku berusaha bersembunyi dari Alvaro. Saat makan siang, kami makan di luar di bawah pohon besar, aku suka baunya.


"Jadi, bagaimana rencananya?" Lucky bertanya.


Aku menghela nafas, "Alvaro menarikku kedalam ruang petugas kebersihan, menyematkanku ke dinding, dan memerintahku seolah-olah dia kakak lelaki ku yang berusaha melindungiku."


Lucky mengeluarkan jusnya dan menyeka mulutnya dengan kemeja lengan bajunya, "Apa yang dia lakukan padamu? Kapan? Jadi apa yang kamu lakukan padanya?" Dia bertanya.


"Seperti yang kukatakan 'Alvaro menarikku masuk ke dalam ruangan petugas kebersihan dan kemudian mengunci pintu, menyematkanku ke dinding, dan memerintahku seolah-olah dia kakakku yang berusaha melindungiku'. Itu terjadi saat aku selesai bicara dengan Pak David dan aku tidak melakukan apa-apa."


"Rencana ke 2 membuatnya cemburu sudah selesai."


"Cemburu? Kenapa dia cemburu padaku hanya karena aku bicara dengan Pak David? Kami bahkan tidak terlalu dekat."


"Perjodoh bekerja dengan cepat," dia tertawa.


"Apa yang kamu bilang?"


"Tidak,"


"Kenapa kamu bilang begitu?"


"Kamu akan segera tahu nanti," dia tersenyum padaku, menepuk kepalaku.


Jam sekolah sudah berakhir syukurlah, Lucky pulang terlebih dahulu untuk urusan bisnis keluarganya, itu berarti aku sendirian.


Aku berjalan menuju mobilku, aku melihat Alvaro bersandar di motornya memperhatikan aku berjalan ke mobilku. Pemain sepak bola sekolah bersandar di mobilku sambil tersenyum kepadaku, matanya yang hitam cerah bersinar dalam cahaya dan rambutnya yang hitam lebat terembus angin.


"Uhh." kataku berhenti di depannya.


"Hei, aku Tomi. Kamu Alisia, kan?" Dia tersenyum padaku dengan manis.


"Ya. Panggil saja aku Alis, apa ada yang bisa aku bantu, Tomi?" Aku bertanya membuka kunci mobil ku.


"Yah. Aku cuma mau bertanya apa seorang wanita cantik sepertimu mau menemaniku ke pesta hari Jumat ini? Yah kalau kamu tidak mau, aku tidak memaksamu." wajahnya memerah; sangat lucu.


Oh, kelihatannya dia orang baik. Apa yang harus aku lakukan? Lucky tidak ada di sini untuk membantuku. Tidak. Aku tidak membutuhkannya, aku bisa melakukan ini sendirian, aku bisa melakukannya.


"Yah, aku..." Aku terpotong karena Alvaro yang melingkarkan lengannya di pinggangku.


"Maaf tapi dia akan pergi denganku ...," katanya.


Tunggu ... apa? Ini sudah diluar dari rencana. Kenapa perasaanku tidak enak ya? Seperti hal buruk akan terjadi.