The Love Story Of Billionaire

The Love Story Of Billionaire
Episode 7



Pagi berikutnya aku mendengar langkah kaki yang keras dan bisikan-bisikan kecil datang dari dapurku, aku melompat dari tempat tidur dan menyelinap ke dapur. Aku mengintip sebentar di sudut dan memperhatikan Ibu dan Andre sedang sarapan, aku berdehem saat mereka berdua membalikkan pandangannya ke arahku.


"Sepertinya aku harus mengganti kunciku. Lagi!" Kataku menatap langsung ke ibu.


"Silahkan. Aku sudah berhasil masuk ke dalam rumah ini sebanyak seribu kali" Kata Andrew.


"Bagaimana jika suatu hari aku punya teman wanita, ya?" Aku berkata dan matanya terbuka lebar. "Mungkin saja...."


"Sudahlah, kalian janganlah berdebat. Bisahkah kalian tenang sedikit. Bahkan diantara kalian tak satu pun mau memberiku cucu," katanya sambil membawakanku sepiring sarapan, Andre berdehem dan memberi kami pandangan meminta maaf.


"Apa yang salah Kenzo?" Kata ibuku menyentuh dahi dan lehernya untuk memeriksa apakah dia demam.


"Ada sesuatu yang harus aku katakan pada kalian berdua."


"Ibu, keinginanmu jadi kenyataan." lanjutnya, aku menyaksikan senyum ibuku perlahan-lahan, air mata jatuh di pipinya saat dia menangkupkan wajahnya.


"Akhirnya!" Dia berkata melompat-lompat bertepuk tangan.


"Selamat, kakak," kataku sambil memeluknya.


"Siapa gadis yang beruntung itu?"


"Samantha. Sopirnya," kataku


"Bagaimana kau tahu?" Kata Andre menatapku dengan kebingungan.


"Yah kau tidak bisa menyembunyikan hal itu. Kemarin malam aku memperhatikanmu, kau terlihat sangat bahagia, kau bertingkah sangat posesif terhadapnya," aku menyeringai.


"Uh. Um .."


"Ini luar biasa. Sekarang setidaknya aku bisa melihat salah satu putraku bersama wanita," ibu bersorak berjalan menuju freezer.


"Ibu, kami sedang menjalani hubungan ini secara perlahan-lahan," kata Andre, Ponsel ibu berdering dan Andre tahu apa artinya itu. Ibu menjawab teleponnya dan memberi kami senyuman minta maaf dan ciuman di kepala kami sebelum berlari keluar rumah ke pertemuan lain hari ini.


"Jadi apa yang ingin kau lakukan?" Andre bertanya duduk di sofa.


"Kau terdengar seperti cewek di masa haid," Andre tertawa.


"Diam!"


"Tentu. Kenapa tidak? Mungkin kita bisa berhenti di sudut toko untuk membelikanmu beberapa pembalut."


"Atau kita bisa membelikanmu popok bayi untuk orang tua, sepertimu" aku bercanda, wajah Andre menjadi galak yang membuatku semakin tertawa.


Andre dan aku akhirnya mencapai swalayan, "Dengar Andre, Kita kesini hanya untuk membeli es krim."


"Ada apa denganmu dan juga es krim itu?" Dia bertanya saat aku mengguncang bahuku sebagai tanggapan. Setelah melewati lorong demi lorong, aku kehilangan Andre saat menuju lorong ke-7. Akhirnya aku menemukan lorong es krim dan meraih es krim yang aku mau. Aku sepertinya menyentuh tangan wanita kecil yang mencoba meraih es krim yang sama denganku. Sambil melihat ke bawah itu adalah wanita yang sama yang ada di lift dan di klub kemarin malam, dengan cara dia menatapku sepertinya dia ingat padaku, juga dia adalah orang terakhir yang ingin aku lihat hari ini.


"Wah, kita ketemu lagi," kataku dengan sinis, dia menatapku dari atas ke bawah dengan wajah cemberut.


"Halo, untukmu cowok gila."


"Sepertinya seseorang masih belum sadar sejak tadi malam," aku tertawa kecil dengan membuat wajahnya berubah lebih marah daripada insiden klub tadi malam.


"Permisi?!"


Brengsek!!


"Tidak boleh," kataku mengambil es krim, tapi dia cepat-cepat mengambilnya dari tanganku.


"Berikan es krim itu."


"Aku yang melihatnya lebih dulu."


"Lihat ini yang kumaksud. Kau bertingkah seperti anak kecil dibanding orang dewasa"


"Aku tidak...."


"Lupakan saja. Aku tidak punya banyak waktu untuk bermain seperti anak-anak sekarang. Aku mau membeli es krim di tempat lain, selamat bersenang-senang," kataku sambil melambaikan selamat tinggal, aku melihat ke belakang dan melihatnya berjalan pergi. Aku mengakui kalau dia memiliki tubuh yang bagus dan pantat yang imut untuk tipe cewek gila yang belum dewasa semoga aku tidak melihatnya lagi dalam hidupku.