The Love Story Of Billionaire

The Love Story Of Billionaire
Ep. 54



Alisia POV


"Maaf tapi dia ikut denganku," katanya.


Tunggu, apa? Apa semua ini diluar dari rencana? Kenapa aku memiliki perasaan semua ini akan berakhir dengan sangat buruk?


"Tidak. Aku tidak mau. Tentu, pesta kelihatannya menyenangkan." Aku tersenyum pada Tomi, menjauh dari Alvaro.


"Yah, ini bukan pesta biasa. Ini akan menjadi pesta kostum terbesar yang pernah ada. Sampai jumpa di sana?"


"Tentu saja," kataku, dia meraih tanganku dan mencium telapak tanganku lalu melambaikan tangan berjalan menuju mobilnya.


Alvaro dengan cepat menarik tanganku dan menyeka ketika Tomi menciumku. "Kamu pikir kau itu siapa di dunia ini? Kau tidak akan memilikiku, tidak akan pernah. Kita akan selalu menjadi orang asing satu sama lain," aku merengut padanya.


"Aku Alvaro, cowo badboy yang keren. Aku tidak pernah berharap untuk memiliki cewek culun seperti dirimu, kalau itu benar, kenapa kamu menyelamatkan hidupku? Kita orang asing, kan? Orang asing tidak melakukan itu untuk satu sama lain," dia menyeringai.


Dia memang ada benarnya sih. Ugh.


"Ugh. Kamu benar-benar orang terburuk yang pernah kutemui," kataku frustasi. "Orang-orang biasanya frustrasi denganku karena mereka tahu aku benar dan mereka membencinya. Begitukah perasaanmu?" Dia bertanya.


"Diam. Apa kamu tidak kencan dengan Sarah, sekarang?" Aku bertanya, secara mental aku menampar diriku sendiri.


Kenapa aku mengatakan itu? Kan jadinya aku terdengar sangat cemburu. Aku harus tutup mulut saja.


"Hah. Jadi kamu mengawasiku? Aku mendengar sedikit kecemburuan dalam perkataanmu itu, culun."


"T-Tidak, aku tidak cemburu."


Mungkin sih tapi sedikit.Tunggu. Tidak, oh tidak.


"Jadi, apa kamu akan pergi ke pesta dengan cowok itu?" Dia bertanya. "Maksudmu, Lucky?" Aku bertanya.


"Ya. Aku lebih suka bersamanya jika kamu tidak keberatan."


"Kenapa itu begitu penting jika aku pergi atau tidak?"


"Aku ikut denganmu."


"Eh, tidak, jangan."


"Eh, ya. Aku tidak bisa membiarkan seorang pemula pergi ke pesta pertamanya, aku akan menjadi pahlawanmu, " dia tersenyum.


Lagi-lagi dia bertingkah seperti seorang kakak yang berusaha nelindungi adiknya.


"B-Bagaimana kamu tahu ini akan menjadi pertama kalinya bagiku?"


"Yah, kamu tidak terlihat seperti jenis cewe yang suka pergi ke pesta. Kamu terlihat seperti orang yang tidak pernah melakukan hal yang buruk dalam hidupmu."


"Diam. Aku tidak perlu pengawal, aku punya teman yang kuajak pergi bersamaku. Terima kasih, oke," kataku menuju ke mobilku.


Wajahnya menjadi keras. "Sampai jumpa di pesta nanti ya, Culun?" dia tersenyum sambil melambaikan tangan, aku menjulurkan lidah ke arahnya dan pergi.


Aku tidak butuh pengawal, aku punya Lucky, dia akan tinggal bersamaku dan melindungiku. Apa itu terlihat kalau aku tidak pernah melakukan hal buruk sebelumnya? Maksudku, aku memiliki IQ tinggi, catatan kehadiran sempurna, nilai sempurna, aku kira ya aku belum melakukan hal buruk sebelumnya.


Aku pulang ke rumah, mengeluarkan ponselku, aku menghubungi Lucky, beberapa menit kemudian dia datang dan kami duduk di ruang tamu sambil menonton siaran tv.


"Hei, Alisia. Bagaimana rencananya?"


"Dia manusia yang paling menjengkelkan, banyak menuntut, mengerikan yang pernah kutemui, Lucky. Jujur, aku harus berpikir dua kali tentang rencana ini," kataku. Aku memberi tahu Lucku tentang insiden dengan Tomi dan Alvaro dan tentang apa yang aku dan Alvaro bicarakan.


"Apakah kamu yakin itu?"


"Apa aku pernah salah mengarahkanmu, Alis? Jujur."


"Tidak. Kamu tidak pernah salah, Lucky. Jadi, kamu mau ikut denganku ke pesta Jumat malam?" Aku bertanya sambil memkan popcorn. "Tentu saja aku akan ada di sana bersamamu di pesta pertamamu, apa yang akan kamu pakai?"


"Aku belum tahu. Apa yang kamu kenakan?"


"Aku sedang berpikir. Kostum pangeran, Tuan Putri."


"Awh. Pangeran Tampan. Aku akan ... eh ... aku masih punya kostum Halloween tahun lalu."


"Tidak. Kamu harus membeli yang lain. Kostum Halloween itu tidak seksi, buang kostum seperti itu, Alisia." katanya melemparkan popcorn padaku, aku melemparkan beberapa padanya.


"Ini tidak kekanak-kanakan tapi baik-baik saja. Kita akan belanja beberapa kostum."


Kami selesai menonton TV sampai Lucky harus pulang sebelum neneknya tiba.


Aku pergi ke kamarku yang gelap dan memperhatikan sesuatu. Jendelaku terbuka lebar, aku tidak pernah membuka jendela itu kecuali aku membersihkan kamarku. Menutup pintu di belakangku, aku merasakan tangan yang kuat melingkari pinggang dan mulutku.


Astaga? Apakah aku akan mati? Yah hidup akan indah apa bila kita masih hidup dan masih menjalaninya. Selamat tinggal dunia kejam yang manis.


"Culun." orang misterius itu berbicara.


Culun? Tahan. Satu-satunya orang yang memanggilku dengan sebutan itu adalah Alvaro! Orang ini akan menjadi kematianku, secara harfiah.


Aku menginjak kakinya dan membuatnya melepaskanku, aku memukul perutnya dengan kekuatan penuh dengan sikuku, menendang bagian belakang kakinya untuk membuatnya jatuh, dan menendangnya ke lantai.


Berkat ibuku yang memasukkanku di kelas bela diri, aku bisa melakukan semua ini pada Alvaro.


"Demi Tuhan! Apa yang kamu pikirkan? Kenapa kamu naik ke jendelaku dan menakut-nakuti aku. Tapi kamu sangat bodoh, sangat sangat bodoh!" Aku berjalan menuju tempat tidur dan duduk di atas ranjangku.


Alvaro berbaring di lantai berusaha mengatur napas. "Kamh gadis yang terlihat lemah tapi nyatanya cukup kuat, culun," katanya duduk di lantai.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Alvaro? "


"Aku berjalan di sekitar sini, aku melihat rumahmu dan aku rasa, aku ingin mampir."


"Apakah mengetuk pintuku tidak melintas di benakmu?"


"Oh ayolah, santai saja?" dia tersenyum.


"... Kamu tidak bisa dipercaya"


"Sangat seksi," dia menyeringai.


Aku mendengar pintu depanku terbuka, "Sayang, kita pulang lebih cepat." ibuku berteriak dari bawah tangga.


"Orang tuaku ada di rumah, keluar dari sini, sekarang!" Aku berkata mendorongnya, dia merobohkan beberapa kertasku di mejaku, aku bisa mendengar ibuku menaiki tangga. Kami berdua dengan cepat mengambil kertas itu.


Aku berlari untuk mematikan lampu, berbalik, Alvaro sudah keluar jendela. Dengan cepat aku berlari ke tempat tidur dan menutupi kepalaku dengan seprai. Ibu membuka pintu dan memperhatikan aku sedang tidur, dia mencium kepalaku dan menutup pintu perlahan-lahan.


Dia sangat dekat. Aku tidak pernah melakukan hal seperti itu; punya teman laki-laki yang masuk ke dalam kamarku. Perlahan aku bangkit dan berjalan ke mejaku tempat kertas-kertasku tadi jatuh di lantai. Melihat melalui tumpukan kertas, aku tidak dapat menemukan Catatanku, biasanya selalu ada di meja ini.


Dimana yah?! Biasanya aku tidak pernah salah menaruhnya, seseorang mungkin mengambil catatanku itu, ada begitu banyak hal memalukan yang aku tulis, yang ingin aku lakukan di sana. Oh tidak. Mungkin Alvaro... astaga, dia kan termasuk dalam List di catatanku itu.