The Love Story Of Billionaire

The Love Story Of Billionaire
Episode 36



Isabel POV


Aku tidak bisa menghapus senyum lebar ini dari wajahku, semuanya terlalu indah untuk jadi kenyataan.


Aku bertunangan. Aku bertunangan. Astaga aku bertunangan! Ini adalah langkah besar. Seperti apa hubungan kami di masa depan? Apa kami nanti masih bisa saling mencintai?


Aku sedang dalam perjalanan pulang untuk mengambil beberapa pakaianku dan menghabiskan beberapa malam lagi di rumah Kenzo. Membuka kunci pintu, perlahan aku membuka pintu tiba-tiba Jeni dan Natan menindihku.


"Ok. Ok. Aku juga merindukan kalian," aku tersenyum memeluk mereka kembali.


"Tolong jangan tinggalkan aku di rumah ini sendirian dengan penjahat itu. Kemarin dia mencoba membunuhku dengan spatula," Natan berteriak.


"Karena kau mengambil semua makananku, padahal aku sudah bilang jangan dimakan." teriak Jeni. Mereka berdua membantuku mulai dari lantai dua dan mulai bertengkar lagi.


"Berhentilah bertengkar. Oh ya, Apa ada yang beda denganku? Kenapa kalian menatapku?" Aku bertanya menggaruk kepala dengan cincin di tanganku. Mereka menatapku dengan curiga.


"Kau terlihat berseri-seri." kata Natan


"Ya. Kau juga mengubah warna rambutmu lebih cokelat lagi," kata Jeni, aku terkesiap.


"Tidak, bukan itu. Coba Lihat." Kataku menunjuk jari manisku. Jeni menjerit melompat-lompat kegirangan, Natan terlihat seperti akan pingsan.


"Kau?! Astaga. Ya Tuahan !!" dia melompat-lompat seperti anak kecil.


"Selamat, Isabel. Aku turut bahagia untukmu," Kata Natan.


"Tolong menginaplah di sini. Lebih baik kita juga mengundang Kenzo, kita bisa nonton tv di tengah malam atau kita bisa pergi ke club?"


Aku menatap Jeni, dia tahu aku benci club. "Baiklah. Nonton tv saja semalamaman, aku akan pergi membeli junk food. Dan es krim kesukaanmu," dia tersenyum meraih kunci dan Natan kemudian meninggalkan pintu.


Aku mengirim pesan ke Kenzo..


"Malam ini Jeni mau kita merayakan hari bahagia kita dengan menonton film di tv bersama, akan ada es krim napoleon juga disini," kataku pada Kenzo


"Tentu, akan sangat menyenangkan menonton film bersama tunangan baru dan juga teman-teman baruku. Bagaimana kalau kita melakukannya di rumah ku? Aku punya ruangan pribadi yang besar khusus untuk menonton film di ruang bawah tanah."


"Sepertinya menarik, kami akan menemuimu di sana malam ini. Semoga harimu menyenangkan di kantor."


"Itu hanya jika aku bisa melihat wajah cantikmu."


Aku menghela nafas, lalu berselfie, aku memotretku diriku dengan wajah konyol yang lucu dan mengirimkannya ke Kenzo.


“Sangat cantik dan terlihat lucu. Ini akan jadi walpaper di layar ponselku, terima kasih sayang. Sampai jumpa malam ini."


Aku tersenyum melihat pesan singkat itu dan masuk ke kamarku untuk tidur siang.


"Maaf. Aku tertidur. Kenzo mengundang kita menonton film di ruang besar bawah tanahnya," kataku sambil bangkit dari tempat tidur.


"Dia punya bioskop pribadi di ruang bawah tanahnya? Kurasa persahabatan kita baru saja mencapai tingkat yang luar biasa," kata Natan.


"Ayo, ayo pergi sekarang sebelum es krimnya meleleh," kataku sambil menarik Natan ke ruang tamu. Tiba-tiba aku berhadapan dengan saudara tiriku dan melihatnya bersama Jeni sedang berciuman.


"Oh astaga. Natan tutup mataku. Aku anggap apa yang kulihat barusan tidak pernah terjadi."


"Isabel? Aku bisa jelaskan ini," kata Joshua, aku terkikik.


"Tidak apa-apa, Joshua. Aku tahu kalian cocok saat pertama kali kalian bertemu," aku tersenyum memberinya pelukan kecil.


"Benarkah? Tunggu, kak apa kau juga pernah melakukannya?!" katanya kaget, aku memandangnya dan mengangguk.


"Kau tidak kelihatan seperti itu," candanya, aku memukul lengannya dengan main-main.


"Dan coba tebak?" Aku berbisik di telinganya. "Jeni belum pernah berciuman dengan siapapun tapi dia suka bertindak murahan jadi orang tidak akan percaya." dia tersenyum cerah dan mengangguk.


Jeni menatap kami dengan curiga, "Apa yang kalian bisikkan? Apa yang dikatakan nenek sihir itu?" dia bertanya pada Joey yang tidak mengatakan apa-apa selain tersenyum.


"Tidak ada. Sama sekali tidak ada apa-apa, mari kita pergi sebelum es krim manisku meleleh" kataku hanya meraih es krimku dan meninggalkan pintu.


Kami tiba di rumah Kenzo semua lampu mati, Apa dia belum pulang? Pintunya terkunci. Ohya aku ingat kunci yang dia simpan di bawah pot bunga tiga langkah dari pintu.


"Bagaimana kau tahu di mana kunci cadangannya?" Joshua bertanya.


"Dia pernah memberitahuku. Tapi ini digunakan jika dalam keadaan darurat atau kalau aku mau datang."


"Atau saat kalian ingin bercinta," Jeni berkata, aku memutar mataku ke arahnya dan membuka kunci pintu.


Semua orang berdiri di pintu dan melihat ke dalam rumah dengan kagum. "Baiklah, letakkan kantong sampah di dapur. Aku akan segera kembali, aku punya kejutan untuk semua orang" Aku akan pergi ke kamar Kenzo. Aku melihatnya sedang tertidur.


Haruskah aku membangunkannya? Dia terlihat kelelahan setelah seharian bekerja.


Aku tersenyum pada tubuhnya yang sedang tidur dan kemudian aku bergegas pergi mandi. Setelah mandi, Aku keluar dengan tubuh ku yang masih basah dan mengenakan handuk yang longgar. Terlintas dalam benakku kalau Kenzo masih di dalam kamar bersamaku, aku membungkuk untuk mengambil bra dan celana pendekku, tiba-tiba aku mendengar geraman pelan.


Aku berbalik dan melihat Kenzo berjalan ke arahku, matanya yang gelap menatapku. "Ini pendek sekali sayang. Jika ini adalah caramu menggodaku, berhenti. Kau menang. Sekarang kau harus menutup matamu dulu," katanya dengan suara serak yang dalam.


"Mataku?"


"Sudah kubilang, kau akan bermain dengan api," bisiknya di leherku dan dengan perlahan menjepitku ke dinding, perlahan dia mengangkat kakiku yang telanjang ke arah pinggangnya, aku bisa merasakan gundukan yang keras menyodok pahaku. Pikiranku menyuruhku untuk berhenti tapi tubuhku merasa menginginkan ini, ia menginginkannya.