The Love Story Of Billionaire

The Love Story Of Billionaire
Ep. 50



Alis POV


Hari ini adalah hari Sabtu, waktunya libur sekolah


Orang tua ku juga hanya libur hari ini, mereka bahagia. "Alisia? Kenapa ada noda darah di bajumu?" Ibu ku keluar dari ruang cuci pakaian dengan baju ku yang ada bekas darah Alvaro di atasnya.


Aku tersedak meminum jus jerukku dan mulai batuk tak terkendali.


"Uhukkk. Hukk. Uhukk Anu ituu."


"Ibu mau kamu jujur, nak."


Aku tidak bisa membohongi ibu, dia akan tahu kalau aku berbohong. Hanya kebenaran yang bisa membebaskan ku


Aku menarik napas dalam-dalam "Heee, bu begini, ada anak baru di kelasku dan dia ditikam di tempat parkir bioskop dan aku tidak bisa membiarkannya mati kehabisan darah. Jadi, aku dan Lucky membawanya ke sini, kerumah bu. Aku membersihkan lukanya dan menjahitnya agar tidak terinfeksi." Aku menundukkan kepalaku.


Aku mendengar seseorang bertepuk tangan, mencari kesana kemari asal suara itu, ternyata suara itu dari orang tua ku. Mereka tampak bahagia dan bangga padaku.


"Tunggu ... Kalian tidak marah padaku?" Aku bertanya.


"Tentu saja tidak, sayang. Kami bangga padamu, Alis. Kau menyelamatkan nyawa seseorang, dan kau melakukan operasi kecil pada mereka. Kau akan menjadi dokter ahli bedah yang hebat saat kau besar nanti." Kata ayahku mencium kepalaku.


Jelas bukan reaksi yang aku maksud Mereka tidak kesal dengan ku karena melakukan operasi kecil pada seseorang tanpa ada izin, aku kira, aku salah.


"Apa kamu mengambil gambarnya?" Ayah bertanya, aku menganggukkan kepalaku dan memberikannya ponselku. Kedua orang tua ku saling berbisik, orang tua ku tidak pernah tampak begitu bangga dengan ku sebelumnya, ibu sedikit lelah dan juga ayah.


"Percobaan pertamamu sangat sempurna. Pekerjaan bagus, Alisia. Awww, ahli bedah kecil kita tumbuh begitu cepat, dia sudah memiliki pasien pertamanya, Daniel," ibuku terharu.


"Ya. Ya, dia punya bakat yang luar biasa, Ana"


"Wow, baiklah. Tapi coba tebak, siapa guru sejarah baruku."


Mereka berbalik ke arahku, "David. David Thomas," kataku.


Ekspresi kedua wajah ayah dan ibuku berubah, "Apa dia mengancammu?" kata ibuku, aku menggelengkan kepala 'tidak'.


"Dia membawaku ke kantin, itu saja. Dia juga meminta maaf."


Orang tua ku tidak suka dengan David, mereka membencinya lebih daripada diriku. Sejak mereka melihat bagaimana dia memperlakukan ku, mereka tidak pernah memandangnya dengan cara yang sama.


"Jangan percaya padanya, anak itu tahu persis bagaimana memanipulasi seseorang dengan penampilan dan kata-katanya," kata ibuku.


Ayah pergi dan kembali dengan senjata di tangannya. Terakhir kali dia mengeluarkan pistol itu saat aku memberitahunya kalau aku menyukai Lucky sebelum aku tahu Lucky suka sesama jenis, dia menakuti Lucky hari itu. Fapi sekarang Lucky berubah.


Cepat-cepat aku berlari di belakangnya, "Ayah, mau pergi ke mana?" Aku bertanya.


"Ayah mau bicara dengannya"


"Ayah, tidak perlu."


"Biarkan aku bicara dengannya, aku tidak akan menembaknya 'secara tidak sengaja'. Aku hanya ingin bicara, itu saja." dia tersenyum, memasukkan peluru ke dalam.


"Bu. Hentikan dia," Aku berbalik, ibuku sedang mengasah pisau dapurnya sambil tersenyum jahat.


Ya ampun, orang tua ku akan membunuh David. Mereka bisa menjadi pembunuh profesional dan tidak pernah memberi tahuku.


"Ayolah, jangan lakukan ini. Jika kalian mencintaiku, jangan lakukan ini," kataku. Mereka berdua berhenti, menatapku dan tersenyum.


"Mungkin lain kali, Sayang," kata ayahku duduk di meja.


"Ya. Lain kali," kata ibuku juga duduk di meja.


"Kalian konyol." Aku tersenyum, kami selesai sarapan.


"Jadi, apa kamu ada kelas hari ini, Alisia?" Ibu bertanya.


Oh astaga, aku lupa tentang itu. Setiap Sabtu aku mengajar di kelas tari dengan anak kecil.


Melihat jam, aku terlambat beberapa menit. "Astaga, aku terlambat" kataku, aku memberi kedua orangtuaku ciuman di pipi kemudian berlari untuk bersiap-siap mengenakan pakaian tari hangatku.


Tiba di pintu, ayah ku menghentikanku, "Kamu tidak akan tiba tepat waktu jika kamu naik angkutan umum." katanya, menyerahkan kunci mobil tuanya padaku, "Ambil kunci ini, Alisia. Itu milikmu," katanya. Aku tersenyum dan memeluknya dan berlari menuju mobil baruku.


Aku membuka garasi dan menatapnya, aku sudah menunggu sejak lama untuk memilikinya dan sekarang akhirnya aku bisa memilikimu. Pertama kali aku melihatnya, mobil itu langsung menarik perhatianku.


Aku memarkir mobil ku dan berlari masuk, "Maaf, aku terlambat," kataku sambil menutup pintu. Semua anak duduk menungguku.


"Halo, Selamat Pagi semuanya" Aku tersenyum, semua anak berdiri dan memelukku lalu pergi ke posisi di sana.


"Selamat Pagi, Bu Alisia," teriak semua anak-anak.


"Baiklah, mari kita mulai dengan pemanasan."


Tiga jam telah berlalu, kelas selesai untuk hari ini, "Aku punya banyak hal baru untuk kalian semua," kataku.


Anak-anak itu melompat-lompat kegirangan, "Kita akan bermain sandiwara." Aku tersenyum, semua gadis itu menjerit dan berlari ke arahku sambil memelukku.


"Minggu depan, aku akan memilih siapa yang akan mendapatkan karakter apa. Sampai jumpa minggu depan dan jangan lupa berlatih," kataku, mereka semua tersenyum dan melambaikan tangan.


Sekarang aku sendirian.


Sekarang jam 1:48, aku berjalan ke belakang dan meraih CD player, memainkan lagu yang aku gunakan untuk menari.


Aku menyalakannya, mengenakan sarung tariku dan menari dengan musik. Aku sudah mulai menari sejak aku berumur 5 tahun, nenek ku dulu memasukkan ibu ke kelas tari dan ibu ku juga melakukan hal yang sama padaku, itu semacam tradisi keluarga.


Lagu sudah berakhir, aku mendengar seseorang bertepuk tangan di belakang ku. Aku terkejut dan berbalik untuk melihat siapa yang bertepuk tangan.


"Tarian yang bagus, Alis." kata suara seorang pria.


Bagaimana dia bisa masuk? Oh astaga aku lupa mengunci pintu belakang lagi.


Aku menoleh, "Alvaro. Apa yang kamu lakukan di sini? Sekolah sedang libur dan kelas tari sudah selesai." Aku tergagap, dia tersenyum.


"Oh, tidak. Aku sudah melewatkan semua kesenangan? Aku tampan yah .. aku tahu, aku juga aktor yang hebat, kan?" Dia menyeringai.


Apa yang terjadi dengannya? Apa maksudnya dia bilang begitu? Kenapa dia bertingkah seperti ini.


"Pergi darisini. Manajer akan segera datang. Tapi aku baru sampai di sini ... aku ingin punya sedikit," katanya melangkah lebih dekat padaku.


Aroma alkohol sangat kuat di napas dan pakaiannya. "Alvaro, kamu mabuk. Kurasa kamu harus pulang," kataku sambil berbalik ke dinding.


"Tidak. Aku muak dan lelah dengan orang yang selalu menyuruhku untuk melakukan sesuatu yang dia inginkan," matanya menjadi gelap.


"Kalau begitu cobalah bersikap baik." kataku, cepat-cepat menutup mulutku sebelum aku mengatakan hal lain yang bodoh.


Dia tertawa, "Aku tidak bisa melakukan itu. Aku mengikuti aturanku sendiri, tidak ada yang boleh mengatur hidupku, aku hanya ingin bersenang-senang. Kamu ingin tahu kenapa? Aku akan memberi tahumu, karena memang aku anak nakal yang akan menjadi apa pun sesukaku," katanya sambil menempelkan ku di dinding, aroma alkohol lebih kuat dari sebelumnya. Aku tidak bisa bergerak, tubuhnya jauh lebih kuat.


Dia meremasku lebih keras ke dinding dengan dadanya yang lebar dan tubuh berototnya, wangi parfum-nya memabukkan pikiranku, matanya yang cokelat menatap jiwaku.


"Kamu ... salah" aku menghela nafas.


Dia tertawa kecil lalu mencondongkan tubuh ke depan dan mengecup leherku, aku mengerang kecil, "Oh? Begitukah?"


"Nah, biar aku tunjukkan betapa buruknya ... aku bisa," katanya menempelkan bibirnya ke bibirku.


Otak ku menjadi berkabut, kaki ku semakin lemah.


Apa yang aku lakukan? Ini salah. Aku harus menghentikan ini, aku tidak mau, tidak mau ... Tidak.


Dengan cepat aku mendapatkan kembali kewarasanku dan mendorongnya dariku. Kami terengah-engah, dia menatapku dengan seringai kemudian dia pergi tanpa mengatakan apa-apa.


Alvaro. Alvaro? Dia gila. Dia mencuri ciuman pertamaku ... itu ... itu ... astaga. Itu bukan untuknya, tapi dia mencurinya. Aku hanya ingin menyimpan bibirku untuk orang yang spesial, dan melakukannya untuk pertama kalinya bersama orang itu seperti di film romantis tapi, tidak seperti ini. Tidak, saya tidak akan menangis. Aku akan membalasmu Alvaro, tapi bagaimana caranya?


Aku mengetuk nomor di ponsel ku.


"Halo?"


"Aku butuh bantuan darurat, secepatnya!"


"Dalam rangka apa?"


"Pembalasan dendam," aku tersenyum jahat.


"Ok, aku akan segera kesana."


Aku menutup telepon. Jika dia pikir dia bisa mengambil ciuman pertamaku darinya dengan begitu mudah maka dia harus membayar apa yang dia lakukan.