
Isabel POV
"Hei, apakah kau sudah siap?" Jeni mengetuk pintu kamarku dengan ringan.
"Ya, hampir" kataku meraih tasku, sejujurnya aku tidak mau skali bergaya, aku mengenakan jins ketat, v-neck putih, sepatu bot coklat dan syal merah maroon dan mengonde rambutku dengan agak sedikit berantakan.
"Jadi, di mana kita akan bertemu dengan mereka?" Aku bertanya menutup pintu di belakangku.
"Cafe di ujung jalan lalu pergi ke bioskop"
"Oke, siapa dua orang itu?"
"Mike dan Ben," dia tersenyum padaku.
"Mereka? Sejak kapan kalian saling mengenal?"
"Kami bertemu saat di supermareket dan dia bilang aku dan temannya sangat cocok dan saat itulah kami membuat rencana untuk double date."
"Setidaknya mereka bukan bukan orang asing," candaku.
"Ayo pergi sebelum mereka pikir kita tidak jadi," katanya, kami tiba di cafe agak terlambat karena jalannan macet.
"Hei, Mike," kataku. Dia membalikkan kepalanya ke arahku, matanya berbinar dan senyumnya melebar.
"Halo, Isabel. Lama tak jumpa," katanya dengan aksen Inggris yang sangat kucintai lalu memelukku.
"Ini temanku Beni," katanya saat Ben mengulurkan tangannya dan aku menjabatnya.
"Jadi, mari kita makan bersama, oke?" Kataku saat semuanya mengangguk. Aku duduk di sebelah Mike dan Jeni duduk di sebelah Ben, kami mulai dengan obrolan ringan dan itu sangat menyenangkan.
"Meja 5, makananmu sudah siap," kata seorang wanita melalui suara mikrofon seketika Ben dan Jeni bangun dan pergi untuk mengambil makanan itu. Meninggalkanku dengan Mike di belakang agar tidak menggangguku.
"Bagaimana perasaan mu selama bekerja dengan Kenzo?" Mike bertanya.
Haruskah aku memberitahunya?
"Yah lumayan," aku berbohong sambil tersenyum.
"Bagaimana denganmu? Saat aku pertama kali melihatmu kau bekerja menjadi sopir kemudian bartender lalu sekarang apa lagi?" Aku bercanda. Mike menatapku dan tersenyum memamerkan giginya yang putih berkilau sempurna.
"Yah aku memang sopir, tapi jika ada kesempatan untuk menghasilkan uang aku akan menerimanya. Apa pun akan kukerjakan demi mengirim uang ke ibuku"
"Dimana dia?"
"Luar negeri. Aku suka mengirimikannya uang untuk menghidupinya."
"Kau berbakti skali."
"Terima kasih. Um.. Isabel Aku.." Perkataan Mike terputus saat Jeni dan Ben kembali dengan makanan yang terlihat menggiurkan. Aku mengambil bagian pertama, setelah kami selesai makan kedua lelaki itu bersikeras yang akan membayarnya. Satu jam kemudian kami pergi ke bioskop, kami semua akan menonton film Action terbaru. Anak-anak itu berkeras agar kami menonton film yang mereka minta agar kami menontonnya. Di dalam bioskop aku melihat Ben memeluk Jeni yang meringkuk di bahunya, kuharap Mike tidak berpikir dan melakukan hal yang sama.
"Biar aku yang mengantarmu pulang," kata Mike berjalan di sampingku.
"Kau.."
"Sekarang, lelaki mana yang tega membiarkan seorang wanita muda cantik sepertimu berjalan pulang sendirian dimalam hari, akan sangat berbahaya." dia tersenyum.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, kau tahu tapi kurasa kau bisa mengantarku," kataku dan dia tersenyum lagi, rasanya agak dingin, bulu kuduk bermunculan seperti orang gila, kurasa Mike menyadarinya.
"Ini, pakailah jaketku," katanya meletakkannya di atas pundakku dan melingkarkan lengannya padaku.
"Kau tidak perlu melakukannya."
"Tidak apa-apa Isabel, kau membutuhkannya daripada aku" Kami tertawa.
"Terima kasih"
"Tidak masalah. Apa pun untukmu, Isabel," dia mendengking di telingaku dengan aksen Inggris seksi itu. Entah bagaimana kalau kenzo yang melakukannya, mungkin aku akan lumpuh, jantungku berdetak begitu kencang hingga aku menahan napas dan wajahku memerah terang, tapi saat Mike melakukannya, aku merasa jengkel dan aneh.
Kami tiba didepan rumahku tiba-tiba aku tidak sengaja menabrak seseorang yang sedang berjalan, aku berbalik dan melihat Kenzo, aku tak bisa berkata-kata.
"Isabel? ... Mike?!" katanya dengan suara keras.
"Kenzo, senang melihatmu di saat seperti ini," aku berbohong, jauh di lubuk hatiku aku ingin melarikan diri dan lupa bahwa aku pernah melihatnya. Ingatan itu kembali menempatkan rasa sakit di hatiku lagi, oh betapa aku membenci perasaan ini.
"Kita perlu bicara," katanya dengan nada bisnisnya
"Tidak, tidak, seperti yang kau lihat aku sedang berkencan. Kita akan bicara besok pagi," kataku dengan suara yang sama, wajahnya berubah menjadi marah.
"Tidak ada yang mengatakan 'tidak' kepadaku. Saat aku menginginkan sesuatu, maka itu harus terjadi dan sekarang kita perlu bicara," teriaknya.
"Yah, Kau adalah bosku, kau hanya bos saat aku berada di tempat kerja. Saat kau datang ke kehidupan pribadiku kau tidak memiliki hak atas diriku. Permisi, aku mau pulang. Ayo Mike." Aku balas berteriak, menarik Mike ke deoan rumahku.
Memangnya dia pikir dia itu siapa, seenaknya memerintah di dalam kehidupan pribadiku?
"Aku peringatkan kau, Isabel. Jika kau tidak kemari saat ini juga akan ada konsekuensinya"
"Dengar, Isabel. Sampai jumpa besok," kata Mike memberiku ciuman di pipi.
"Apa kau yakin?" Aku bertanya dan dia mengangguk masuk ke taksi dan pergi. Aku pikir aku mendengar seseorang menggeram dari belakangku
"Kau menghancurkan hidupku," Teriakku, dan dia berjalan ke arahku agar tidak putus kontak mata. Aku sangat marah.
"Malam ini, aku sangat bahagia dan senang, sampai kau muncul berpikir kau bisa mengendalikan hidupku dan...." Kenzo meraih wajahku dan menciumku memotong apa yang aku katakan.
Dia menciumku ... Dia menciumku ... DIA menciumku!
Dia menarik diri dariku dan menyeringai licik, "Kau tidak tahu sudah berapa lama aku ingin menciummu," Dia tersenyum berjalan pergi ke mobilnya meninggalkanku di depan rumahku, sekali lagi, tanpa kata-kata, pikiranku kabur , jantungku berdebar, lututku terasa seperti tak bisa memapah tubuhku lagi dan tubuhku serasa menginginkannya lagi dan lagi.