
Aldo POV
Aku mendengar pintu depan tertutup dan mendengar suara mesin mobil menyala, Kenzo sudah pergi. Tania atau Julia, atau siapapun itu aku merasa namanya muncul di kepalaku. Apa yang dia inginkan sekarang?
"Apa itu ... um? Siapa namamu lagi?" Aku bertanya mengangkat alis, dia menatapku dengan tatapan tegas menyilangkan tangannya.
"Aku Meri, Lagi pula Kenzo tadi mengatakan
'Maaf aku tidak mau berurusan dengan wanita penggali emas sepertimu' (Dalam aksen Cina) Apa artinya itu?" dia bertanya menatapku. Aku tidak tahan lagi, tawaku memenuhi sudut rumah bahkan mungkin tetanggaku akan mendengarnya.
"Itu yang dia bilang? Owh," kataku sambil mengalihkan pandangan dari Meri yang bingung
"Selamat," kataku dalam pikiranku
"Jadi? Apa yang baru saja dia katakan?" Dia berkata.
Aku dengan cepat menghubungi bibi ku; Ibu Kenzo juga bibiku.
"Halo?"
"Halo, bibi. Aku pikir kita membuat kemajuan dengan rencana ini"
"Apa yang dia katakan padamu?"
"Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi caraku berbicara soal Isabel dia bertindak posesif dan memberiku tatapan kematian, juga mengancamku. Dia curiga kalau aku punya rencana, dia juga mengatakan kepada salah satu teman wanitaku 'Maaf aku tidak mau berurusan dengan wanita penggali emas sepertimu'"
"Bagus sekali, Aldo. Sekarang soal teman kencanmu, Isabel. Bawa dia ke suatu tempat yang berlawanan dengan tempat yang dia sukai"
"Suka?"
"Klub, dia membenci klub. Semakin cepat dia membencimu, semakin cepat dia berlari ke hati Kenzo, aku tahu dia menganggapnya menarik, tapi dia juga sedikit keras kepala seperti Kenzo, tapi jangan khawatir aku akan mengatasinya, cepat atau lambat. "
"Baiklah, apa hanya itu saja?"
"Untuk saat ini, aku akan membuat mereka jatuh cinta dengan cara yang mudah. Sudah dulu, hubungi ibu jika ada kemajuan?"
"Baiklah, Sampai jumpa bi," kataku menutup teleponku.
Ya, memang benar aku ikut dengan rencana permainan bibiku tentang Kenzo yang jatuh cinta. Akan sangat menyenangkan melihat sepupuku jatuh cinta pada wanita yang berlawanan dengan kesukaannya. Bibi memberitahuku tentang ini saat pertama kali dia melihat Isabel dan dengan segera menghubungiku untuk memberitahuku tentang dia yang akan segera menjadi istrinya Kenzo.
"Ah, cinta yang dipaksakan," kataku dalam hati saat aku melihat ke arah luar jendela.
Hari minggu kita akan berkencan, maaf Isabel aku harus menghancurkan hatimu.
Isabel POV
Hari ini aku ada kencan bersama Tuan Kenzo, Aku menelepon Tuan Aldo kemarin dan dia menerima pembatalan kencanku bersamanya dengan sangat baik.. sesuai dengan kemauanku.
Aku bangun dengan cuaca cerah dipagi hari, aku tidak bisa berkonsentrasi. Butuh waktu hampir 2 jam untuk tidur setelah aku minum cokelat panas dan memainkan musik klasik untuk menenangkan pikiranku tapi tidak berhasil.
Aku ingin tahu ke mana dia akan membawaku.
Aku harap bukan tempat yang mahal, atau klub. Aku ingat pertama kali aku pergi ke restoran mahal, orang-orang disana sangat kasar dan sombong dan semenjak hari itu aku berkata pada diri sendiri untuk tidak pernah ke tempat seperti itu lagi. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan melakukan kewajiban pagiku, aku melirik jam sudah pukul 12.
'Tunggu ... jam berapa sih, janjiannya?'
Aku berpikir sendiri saat itu juga tiba-tiba Kenzo mengirim pesan kepadaku.
'Bersiaplah sekitar jam 1 aku akan menjemputmu. Kita akan pergi ke pertandingan bola,' teksnya
Aku membaca pesannya berulang kali. Dia akan membawaku menonton pertandingan bola, aku pikir dia akan membawaku ke tempat yang super mahal, lagi-lagi dia membuktikan kalau aku salah.
Tunggu ... bagaimana dia mendapatkan nomorku?
"Natan, jika kau tidak mengembalikan makanan ku, aku akan memotong lehermu!" Teriak Jeni.
"Kau sudah memakan begitu banyak steak Jeni!" dia balas berteriak, aku mengintip kepalaku keluar dari pintu kamarku dan melihat Jeni mengejar Natan berkeliling dengan spatula di tangannya. Jeni suka steak, dia akan memakannya sepanjang hari dan tidak akan pernah bosan, namun berat badannya tidak pernah bertambah. Aku berlari ke arah Natan dan mengambil steak itu dari tangannya dan memasukkannya ke mulutku. Mereka berdua menjentikkan kepala ke arahku, cara mereka melihatku, mereka berpikir akan membunuhku sekarang.
"Itu ... sekarang kalian bisa berhenti memperebutkan sepotong daging" kataku dan mereka berdua menghela nafas dan mengangguk.
"Jadi, kemana dia akan membawamu?" Kata Natan memecah kesunyian
"Bukankah sudah jelas?" Aku berkata sambil menunjuk ke bajuku.
"Kau pasti sangat senang Bel, kau kan belum pernah menonton pertandingan bola selama bertahun-tahun," katanya, aku bisa merasakan perutku berputar karena membicarakannya.
Perutku terasa aneh ... mungkinkah? ... kurasa aku gugup!
"jujur aku sangat gugup sekarang"
"Kenapa?" Tanya Natan
"Bagaimana jika aku melakukan sesuatu yang memalukan? Atau bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi? Seperti hujan atau sesuatu..." Aku ketakutan, Natan berjalan ke arahku dan meletakkan tangannya di atas kepalaku.
"Kau akan baik-baik saja, Isabel. Keringatmu banyak sekali" Natan bercanda menyentuh dahiku
"Aku sangat gugup. Dia itu bosku,"
"Tenanglah Isabel dan jadilah dirimu sendiri, aku yakin kau akan baik-baik saja," katanya ketika keduanya memberiku senyuman meyakinkan.
Ada ketukan di pintu. Aku melihat arlojiku .. Sial, jam 1, dia tepat waktu skali. Aku membuka pintu dengan perlahan.
"Halo, Isabel. Apa kau sudah siap?" Kenzo berkata, dia mengenakan kemeja putih polos, celana jeans biru tua.
"Aku tidak tahu kalau kau suka bola?" Katanya. Aku menatapnya dari atas ke bawah
"Saat aku masih kecil yahh aku menyukainya."
"Oh, kita harus pergi atau kita akan melewatkan pertandingan. Sampai jumpa nanti," aku melambai pada dua rekanku dalam.
"Sampai jumpa," kata mereka pada saat yang sama kemudian menatap satu sama lain. mereka sudah sangat kesal satu sama lain.
Kenzo membawaku ke lantai bawah menuju mobil hitamnya, aku berdiri di sana tanpa berkata-kata, itu luar biasa.
"Kau rindu mobilku?" dia bercanda, dia menjentikkanku saat aku melongo melihat itu.
"Maaf, aku suka mobil sejak aku masih kecil. Ayahku biasa membawaku ke garasi mobilnya dan aku selalu memperhatikannya kadang-kadang dia membiarkanku membantunya." aku tersenyum
"Kupikir kau datang kerumah dengan Mike, tapi lagi-lagi kau sepertinya membuktikan aku salah," candaku. Kenzo menyentuh dadanya.
"Itu menyakitkan Isabel, Aku memanggil Mike kalau aku sedang mau pergi bekerja. Kalau di hari libur aku suka menyetir sendiri" Dia berkata membuka pintu penumpang untukku duduk sambil dia berlari ke sisi lain dan masuk ke mobil.
Kami mencapai stadion, terlihat penuh dan sesak seperti yang aku suka, Kenzo memberikan tiket kami ke penjagaan di meja depan / resepsi. Kami duduk hampir di atas tribun yah kira-kira di tengah-tengah di mana kau bisa melihat seluruh lapangan, aku menatap stadion dan lapangan dengan kagum.
"Apa kau lapar?" Kenzo bertanya dan aku mengangguk.
"Maaf, Tuan," kata Kenzo, tapi lelaki itu tidak bisa mendengar suara lelaki yang lembut itu, aku tertawa kecil, lalu aku bersiul keras dengan dua jari. Itu cukup keras sehingga banyak orang memalingkan kepala ke arahku termasuk Kenzo.
"Yo, biar aku beli dua yang berminyak dengan mustard dan kecap, dua minuman dan sedikit snack," kataku. Pria itu menganggukkan kepalanya dan menyerahkan makanan kami dan kemudian pergi.
"Kau benar-benar luar biasa, Isabel," kata Kenzo sambil menggigit hotdog-nya.
"Terima kasih."
"Iya sama-sama," Dia tersenyum dengan bibir indah itu dan gigi putihnya yang sempurna.