The Love Story Of Billionaire

The Love Story Of Billionaire
Episode 6



Kenzo POV


"Kenzo, di mana peralatannya?"


"Di laci di sebelah oven, bu" kataku kembali mengetik, menyelesaikan pekerjaan di laptopku.


"Dimana?"


"Itu Bu." Aku berkata bangkit dari sofa, berjalan ke arah ibuku yang tidak mengerti perihal dapur. Aku dengan cepat menunjukkan padanya laci peralatan dan berjalan kembali ke sofa untuk menyelesaikan pekerjaan.


"Terima kasih sayang. Sekarang, kemari dan makanlah sebelum mulai dingin," katanya sambil meletakkan spageti dan bakso-ku di piring Cina yang mahal.


"Aku tidak lapar bu, aku punya banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan."


"Kenzo Marco Julian!" Dia berteriak membanting tangannya di atas meja.


Astaga!!


"Kau seperti ayahmu, bahkan saat dia pensiun pun, yang kalian berdua pedulikan hanyalah pekerjaan dan hanya pekerjaan. Kapan ibu memiliki seorang cucu? Kapan ibu bisa melihat anakku berjalan dengan seorang wanita cantik yang dia cintai dan sayangi? " Dia mulai berpura-pura menangis, ibuku adalah seorang aktris yang handal, dia suka seperti itu.


"Ibu, kita semua akan melalui ini, jika sudah waktunya aku akan mencari wanita yang ibu mau tapi saat ini aku tidak ingin melakukannya. Bagaimana aku tahu kalau dia ada di luar sana?"


"Pergi dan cari dia, aku tahu dia ada di luar sana di suatu tempat Kenzo, hanya dengan menghentikan pekerjaanmu sebentar dan keluarlah," katanya dan aku mengeluarkan sedikit tawa.


"Apanya yang lucu?" dia melanjutkan.


"Itu ... Aku merasa lucu kalau Ibu memberi saran pada seorang Kenzo, miliarder playboy dan CEO Julian Entertain untuk berkencan."


"Yah, pertama kau bukan playboy dan kedua aku ini ibumu."


"Aku mengenalimu ibu. Aku tahu." Aku berkata berjalan ke arah ibuku memberinya pelukan manis yang hangat. Tiba-tiba ada telpon mendadak, kurasa itu adalah panggilan bisnis ibu.


"Tidak apa-apa ibu. Kau bisa pergi, sampai jumpa besok sepulang kerja," kataku mengambil sendok penuh spageti ke dalam mulutku, dia menatapku dan memberikan senyum cerah dan ciuman di pipi sebelum pergi ke pertemuannya.


"Tunggu." katanya berhenti di depan pintu aku menatapnya dengan bingung.


"Aku bermaksud menanyakan ini padamu saat ibu masuk. Kenapa kau memiliki dua koper di sofa?" Katanya sambil menunjuk ke dua koper.


"Oh. Itu. Seorang wanita di tempat kerjaku meninggalkannya di lift saat dia bergegas naik taksi," kataku berjalan ke arah itu dan mengambilnya sebelum ibuku meraihnya dari tanganku.


"Kasar sekali. Bukankah ibu sudah mengajarimu hal baik? Aku akan mengambil ini dan memberikannya pada wanita itu pada hari Senin."


"Kau tidak tahu apakah dia punya sesuatu yang rahasia didalamnya sini."


"Tapi kau bisa melihatnya?"


"Ya. Sekarang. Selamat tinggal, Sayang," katanya membanting pintu di belakangnya.


Aku berdiri di sana dan terkekeh pada wanita itu, aku memiliki hubungan yang baik dengan ibuku sementara saudara lelakiku memiliki hubungan yang baik dengan ayahku. Sebuah pesan datang dari ponselku di sakuku, aku membuka ponselku. Aku menerima pesan dari kakak laki-lakiku Andrew,


'Ibu bilang padaku untuk mengajakmu keluar ke klub malam ini. Bersiaplah sekitar jam 7 adik ku.' itu isi pesannya.


Aku tahu dia mungkin akan melakukan sesuatu serendah ini untuk membuatku meninggalkan pekerjaanku. Aku sedang menonton dan aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, aku masih punya waktu untuk menyelesaikan beberapa pekerjaanku sebelum berangkat.


Beberapa saat kemudian..


Akhirnya aku bisa menyelesaikan beberapa pekerjaanku, aku bergegas mandi dan memakai jas abu-abu, kemeja lengan panjang putih polos dan sepatu kerja, kemudian dengan sentuhan akhir aku merapikan rambutku. Terdengar ketukan keras di pintu, mungkin itu Andrew, aku berjalan ke pintu dan terbuka lebar dengan Andrew menyeringai padaku, "Halo, adikku. Apa kau sudah siap membawa pulang beberapa anak ayam?" katanya memberiku mengedipkan mata.


"Kenapa kau suka sekali tidak mengetuk pintu terlebih dahulu, padahal kau juga memegang kunci rumah? Tunggu, kenapa kau bisa punya kunci rumahku?" Tanyaku saat dia menggantung kunci di depan mataku.


"Ibu yang memberikannya padaku, kalau kau menolak permintaannya aku tinggal membukanya menggunakan kunci cadangan itu."


"Ya sudah, mari kita selesaikan ini, Andrew,"


"Halo, Samantha," aku melambai ke sopir wanita Andrew.


"Halo juga, Kenzo," katanya dengan nada menggoda yang membuatku menggigil mendengar suaranya.


"Aku membayarmu untuk mengemudi, bukan main mata dengan adik laki-lakiku, Samantha," kata Andrew dengan nada bisnisnya.


"Masa bodo." katanya naik ke sisi pengemudi, saat kami masuk ke dalam, aku tidak bisa menahan tawa pada argumen kecil mereka yang lucu. Andrew menatapku dengan tajam yang membuatku semakin tertawa, lucu bagaimana aku tahu mereka saling menyukai, bahkan mungkin saling jatuh cinta namun mereka lebih suka tidak menunjukkannya, alih-alih mereka hanya bertengkar dan bukannya berterus terang. Kami tiba di klub, ada beberapa orang melakukan paparazzi padaku dan Andrew, gadis-gadis di sana berteriak sambil menarik perhatian kami, tapi aku pura-pura tidak memperhatikan mereka, tidak seperti Andrew yang memberi mereka perhatian penuh. Aku bisa mendengar Samantha di belakangku mengomel.


Klub itu lebih padat dari kemarin malam, lebih banyak wanita datang daripada pria. Tentu saja Andrew menyewa setengah dari bagian VIP klub, dia bersikeras menyiapkan minuman gratis sepanjang malam. "Aku mau minum, kau mau?" Aku berteriak pada Andrew yang menggelengkan kepalanya 'tidak'. Aku berjalan di sekeliling bar, aroma harum vanilla strawberry menyerbu lubang hidungku, aku mulai mencari di setiap sudut bar aroma sedap ini. Aku berbalik dan tidak sengaja menabrak seorang wanita, aku memandangnya dari ujung kepala sampai ujung kaki dia tampaknya mabuk, namun aroma tubuhnya yang berbau begitu ilahi, begitu aku memperhatikannya dengan baik, aku menyadari kalau dialah orang yang meninggalkan kopernya di lift. Akhirnya aku tersentak keluar dari lamunanku, aku menumpahkan minumannya padanya secara tidak sengaja. Aku tahu itu hal yang buruk, dan dia menatap lurus ke mataku, aku tahu dia marah.


Setelah berdebat dengan wanita gila yang mabuk itu, aku mengirimkan pesan ke Andrew kalau aku sudah muak malam ini


'Aku pulang lebih awal. Katakan pada ibu aku bersamamu sampai jam 2:12 pagi.'


Aku cepat-cepat mengirim pesan ke Andrew saat aku menunggu sopirku. Sopirku, Mike, tiba. Aku senang akhirnya meninggalkan tempat itu dan kembali bekerja, aku harus menyelesaikan pekerjaanku sebelum hari Senin, aku juga belum bertemu dengan sekretaris baruku.