
Isabel POV
Aku bermimpi buruk, Ugh apa yang salah denganku? Aku merasa sangat pusing dan ceroboh. Aku terbangun, melihat sekeliling dan aku tertidur di sofa, aroma lezat spageti memenuhi ruangan.
Aku duduk dan melihat sekelilingku, Kenzo datang untuk membantuku, "Sepertinya obat bius kecilku sudah habis," dia tersenyum padaku.
Obat bius?
"Apa yang kamu bicarakan? Apa yang terjadi? Ugh. Aku bermimpi buruk."
"Aku bicara tentang kamu mengkonsumsi obat penenang dan itu bukan mimpi"
"Apa? Aku tidak akan pernah-"
"Oh, tapi kamu memang mengkonsumsinya sayang. Brownies itu bukan brownies biasa, itu brownies Hash kamu memakannya dengan sangat lahap. Lihat," dia memberiku ponselnya untuk memperlihatkanku video. Aku menutupi wajahku dengan tangan, aku tidak pernah merasa malu dan terhina seperti itu.
"Aku sangat lapar makanya aku memakannya, tapi kenapa brownies itu ada disitu, untuk siapa brownies itu? Tunggu. Natan, kan ?!" Kataku dan dia menganggukkan kepalanya, lalu aku menuju ke dapur untuk memakan sepiring spageti.
Aku selesai makan dua piring seperti aku belum pernah makan spageti selama bertahun-tahun. "Seandainya aku tahu kamu akan sangat kelaparan begini, aku akan membuat kan lebih banyak lagi," candanya.
"BBQ? Oh astaga. Maafkan aku-" Aku melihat jam 5:12 "Oh, astaga. Kita masih punya waktu, biarkan aku mandi cepat dan berpakaian. Terima kasih," kataku mencium pipinya lalu berlari ke kamar mandi.
Aku mandi sebentar, merias wajah sedikit. Cepat-cepat aku mengenakan gaun lengan panjang putih di tengah paha, dengan ikat pinggang cokelat, sepatu bot tinggi pergelangan kaki coklat, dan tas cokelatku lalu meninggalkan rambutku bergelombang.
"Oke, aku siap," kataku sambil menutup pintu di belakangku, aku perhatikan apa yang dikenakan Kenzo. Kemeja biru muda, sweter, celana jeans biru tua, dan sepatu bot coklat.
"Kamu terlihat cantik, sayangku," Kenzo membungkuk.
"Kenapa berterima kasih, Bosku yang baik hati," aku membungkuk, aku mengaitkan tanganku padanya.
"Bagaimana kalau kita berangkat sekarang, nona?" Dia berkata membuka pintu.
"Baiklah," kataku, mengecup bibir nya lalu kami pergi ke rumah ibunya.
Sesampainya di depan rumah..
Apa ini rumah? Woaahh.. Ini ... ini besar sekali... Seperti Istana..
"Ini? Ini rumah orang tuamu? Kamu bilang rumahnya bukan rumah yang besar" Aku berdiri di sana menatap dari luar, Trus bagaimana jika sudah di dalam?
"Jangan gugup, sayang. Kamu sudah bertemu Ibu dan Ayahku jadi tidak ada yang perlu ditakutkan juga aku akan berada di sisimu sepanjang pertemuan," katanya mencium pelipisku, aku mengangguk saat dia membuka pintu. Aku hancur saat seorang wanita muda yang memeluk Kenzon
"Aku sangat senang kamu datang, Kenzo tidak pernah membawa gundiknya yang lain. Kurasa kamu begitu istimewa baginya" dia mundur, aku memandangi Kenzo yang mengepalkan rahangnya.
Gundik lainnya? Dia punya wanita yang lain?
"Amanda, itu sudah cukup! Berhentilah mengatakan kebodohan itu pada tunanganku," katanya dengan nada bisnisnya, gadis bernama Amanda menatap kami berdua dengan kaget, aku menunjukkan padanya cincin itu dan dia terkesiap melompat-lompat menjerit-jerit.
"Isabel, ini sepupu ku yang paling muda, Amanda. Amanda ini tunanganku Isabel."Kenzo berkata kemudian kami saling berjabat tangan lalu dia lari.
Aku tidak bisa menghilangkan anggapan Kenzo yang memiliki gundik yang lain, maksudku wanita dalam hidupnya.
Setelah bertemu seluruh keluarganya, kami duduk di teras sambil mengamati bintang-bintang.
Akhirnya aku memecah keheningan, "Apa maksud Amanda soal gundik?" Aku memandangnya saat dia menggosok bagian belakang lehernya.
"Jangan dengarkan! Dia suka menimbulkan masalah tapi jika kamu mau tahu, sebelum aku bertemu kamu, aku sudah tidur dengan wanita, lebih dari seharusnya."
"Apa kamu pernah mencintai salah satu dari mereka," gumamku
Dia menatapku "Tentu saja tidak ... yah ... mungkin satu tapi itu tidak serius. Dengarkan Isabel itu semua sudah menjadi masa lalu ku, aku sudah berubah, kamu mengubah aku menjadi lebih baik. Aku mencintaimu dan hanya kamu saja."dia mencium pipi ku dan tersenyum.
"Namanya Clara. Itu terjadi beberapa bulan sebelum kita bertemu, kita menginginkan hal yang berbeda, dia ingin memiliki kehidupan baru bersamaku di negara ini tapi aku memiliki pekerjaan dan bisnis untuk dijalankan, jadi dia meninggalkanku" matanya dipenuhi dengan rasa bersalah dan kesedihan.
"Maafkan aku."
"Untuk apa? Seperti yang aku katakan itu sudah menjadi masa lalu, dan aku punya satu wanita di hatiku yang aku cintai dan hargai dengan sepenuh hati." Aku tersenyum padanya, kami bangkit untuk bertemu dengan semua orang di dalam. Tiba-tiba pintu terbuka, seorang wanita berusia pertengahan 20-an, rambut hitam cokelat, softlanse grey dengan tubuh dan kaki model dengan perut hamil besar.
"Clara?" Kenzo tersedak, ini Clara? Dia cantik luar biasa.
"Kenzo, kita harus bicara," katanya sambil menggosok perutnya yang hamil.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Kupikir kamu bilang kamu tidak akan pernah mau kembali "
"Itu yang harus kita bicarakan, kita punya masalah. Aku sudah menelepon mu selama beberapa bulan terakhir dan kamu tidak pernah menjawab. Aku menelepon semua orang tapi mereka bilang kamu sibuk."
"Clara ini tunanganku Isabel dan Isabel ini teman lamaku Clara." dia bicara, kami berjabat tangan dengan canggung.
"Apa kamu mau aku pergi meninggalkan kalian berdua dulu?" Aku bertanya pada Kenzo, dia menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu sudah memberitahunya?" Clara bertanya geli dengan sangat tidak nyamannya aku. Aku melihat mereka berdua dengan bingung,
"Katakan apa maumu?" Aku bertanya, Kenzo terlihat sangat marah.
"Clara, kupikir sudah waktunya kamu pergi sekarang," kata Kenzo dengan nada tegas.
Apa yang sedang terjadi?
"Jadi, kurasa dia tidak menceritakannya padamu. Kupikir pasangan harus saling terbuka, tapi kurasa tidak," dia tersenyum jahat pada Kenzo.
"Clara. Lihat."
"Tidak. Katakan yang sebenarnya, Kenzo. Oooo atau kamu takut dia meninggalkanmu, seperti yang aku lakukan."
"Katakan padaku apa? Apa yang terjadi di sini?" Aku bertanya pada Kenzo.
"Tidak ada. Ayo pulang," katanya meraih tanganku dengan paksa.
"Katakan padanya! Atau aku akan! Kamu tidak bisa melarikan diri selamanya Kenzo." teriaknya.
"Clara, diam!" Balas Kenzo.
"Baik. Kenzo tidak pernah memberitahumu kalau aku hamil." Aku menatap Kenzo yang sepertinya akan meledak
"Itu anakmu, bukan anakku," dia selesai.
Tunggu. Apa? Itu anaknya yang belum lahir ?!
"Kamu bilang padaku kalau kamu tidak punya rahasia lagi. Kamu berbohong padaku lagi." Kataku menarik menjauh darinya, melangkah mundur.
"Sayang, itu bukan masalah besar."
Bukan masalah besar katanya. Apa yang baru saja dia katakan ?! Apakah dia buta atau bodoh ?!
"Kenzo, ini masalah besar, dia mengandung anakmu yang belum lahir. Itu milikmu dan hanya milikmu. Bagaimana itu bukan masalah besar. Kamu berjanji padaku kalau kamu tidak punya rahasia lagi dan ini, lihat, ini adalah yang paling besar. Sudah cukup, ini sudah berakhir." kataku saat air mata turun di pipiku, perlahan aku melepaskan cincin pertunanganku dan meletakkannya di tangannya." Jeni dan Natan akan mengambil barang-barangku di rumahmu dan kantormu, terima kasih sudah mengundangku." Aku mencium pipinya dan pergi, dia memohon dan memohon agar aku tidak pergi tapi sudah terlambat, aku naik ke taksi dan pergi.
Aku melihat ke belakang, dia tampak sangat hancur seperti sebagian besar dari dirinya hilang, dan aku melakukannya.
Keluar dari taksi, aku melihat Mike berjalan pulang dengan tas di tangannya, Natan dan Jeni tidak pulang sampai besok. Hati ku hancur dan bingung, aku melakukan hal bodoh pertama yang muncul di benak ku.
Aku memanggil Mike ke rumah ku dan melakukan hal yang diluar batas.