The Love Story Of Billionaire

The Love Story Of Billionaire
Episode 43



Isabel POV


Aku mengantar Mike ke rumahnya, yang aneh nya lagi tempat tinggalnya sangat dekat dari rumahku dan selama ini tidak pernah terpikir oleh ku. Aku berterima kasih padanya karena menyelamatkan ku dan membuat Kenzo meminta maaf karena meninju wajahnya. Lalu aku dan Kenzo pergi ke rumahnya, selama perjalanan di mobil kami tidak saling bicara, sunyi, canggung. Maksudku canggung karena aku duduk di sebelah mantan pacarku.


Kami sampai, dia membuka pintu, lalu kami berjalan ke sofa. Aku duduk sejauh mungkin, Kenzo berusaha memelukku dan aku menjauh lebih jauh, "Sayang? Kenapa kamu menolak sentuhanku?" Dia bertanya.


"Aku, aku tidak ... Aku lebih suka duduk di sini saja. Itu saja." aku tersenyum lemah.


"Aku tau, kamu berbohong dan hanya beralasan, kan."


"Jadi," kataku, diam canggung lagi. "Kita harus membicarakan ini."


"Oke. Jadi, bicaralah, Kenzo. Jelaskan semuanya, kenapa kamu berbohong. Kenapa kamu tidam memberitahuku sebelumnya? Jika dulu kamu memberitahuku, aku tidak akan tinggal bersamamu."


"Lihat, kita belum tahu apakah itu anakku. Dan ya, pada waktu itu kupikir kamu akan meninggalkanku."


"Tunggu. Lalu kenapa kamu berdua mengklaim kalau itu anakmu di acara BBQ?"


"Karena pada saat itu dia hanya tidur denganku atau kupikir begitu. Kemudian andrew melihatnya tidur dengan pria lain di sebuah pesta tapi kami tidak pernah menemukan pria itu, kami mengklaim itu anakku agar membuat semua orang di keluarganya tetap tenang."


"Oh. Baiklah, tapi kenapa kamu tidak memberitahuku?"


"Ya. Kupikir kamu akan meninggalkanku, dan tidak akan pernah melihat ku lagi," katanya sambil meletakkan tangannya di wajahnya, aku menghela nafas dan duduk dekat dengannya. Aku menarik wajahnya ke wajahku saat kami saling memandang.


"Kenzo. Cinta kita satu sama lain jauh lebih kuat daripada yang kamu pikirkan. Jika kamu berpikir kalau kamu mungkin menjadi ayah dari bayi Clara lantas akan membuatku pergi maka kamu tidak mengenal ku. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, untuk sesuatu hal yang bodoh seperti itu, aku sangat mencintaimu dan tidak akan menyerah begitu saja tanpa perlawanan. " Dia tersenyum padaku.


"Aku juga mencintaimu, sayang," katanya mendorong bibirnya di bibirky.


Aku menginginkannya, aku membutuhkannya. Aku menginginkannya sekarang.


Ciumannya dan semuanya. Kami pindah dari ruang tamu menuju kamar.


"Aku tahu kamu menginginkanku, sayang, tidak perlu menggoda," kata suaranya, bergema di sekelilingku dan membuatku sedikit menggigil.


"Aku bisa melihatnya di matamu. Setiap keinginan dan hasratmu terpapar di mataku."


Aku tersentak dan tegang saat Kenzo dengan ringan meletakkan jarinya tepat di atas celah bokong ku dan perlahan-lahan mengusal belakangku, kekecewaanku adalah saat dia melepas sentuhannya dari kulitku. Dia tertawa cekikikan karena reaksi ku "Reaksi tubuhmu lucu skali karena sentuhan kecilku."


Tangannya bersandar ringan di pinggangku, mengirimkan gelombang kesenangan ke seluruh tubuhku. Dia membaringkan ku di tempat tidur. Aku bisa merasakan miliknya mengeras dalam waktu singkat.


"Terutama," bisiknya ketika tangannya dengan santai meraih pinggangku, turun ke pinggulku, dan aku tersentak pada kekerasannya, membuatku mengerang nyaris tanpa suara, "Sepotong daging di sini." gumamnya mencium pahaku.


Aku merasa seperti akan meledak.


"Tidak perlu bersembunyi. Aku mencintai setiap bagian tubuhmu, sayang. Santai saja dan nikmati jumlah kesenangan yang aku akan memberikan padamu sepanjang malam," bisiknya, "Kulit lembut, indah, begitu hangat, Kanu tidak tahu sudah berapa lama aku menunggu dan bermimpi tentang hari ini. Aku orang yang paling bahagia karena menjadi orang pertama mengambil kesucianmu malam ini." katanya.


Kenzo perlahan melepas semua pakaiannya, dia kemudian mulai menyodorkan dirinya di dalam diriku. Awalnya terasa sakit karena ukuran tubuhnya yang besar tapi setelah itu seluruh malam itu wawww luar biasa. Saat kami bangun kami melakukannya di dapur, kamar mandi, ruang tamu, dan kembali ke kamar tidur. Kenzo memiliki banyak energi selama beberapa hari terakhir, tidak seperti ku. Kakiku terasa seperti kaku, dan pinggulku serasa ingin membunuhku.


"Bagaimana kalau ronde ke 7?" Kenzo berkata melingkarkan tangannya di pinggangku, menaruh ciuman di leherku saat aku memasak sarapan.


"Aku masih sakit sejak ronde pertama yang kita lakukan. Kita perlu istirahat, aku perlu istirahat," kataku menciumnya lalu aku kembali memasak.


Dia memasang wajah imutnya, yang membuatku sulit untuk mengatakan tidak.


"Tidak. Kenzo. Tidak!!!"


"Tapi aku bisa meringankan rasa sakitnya jika kamu mau. Apa kamu ingin aku menggosok punggungmu ?" dia mengedipkan mata.


"Tidak, terima kasih. Terakhir kali kamu mengatakan kalau kamu ingin memijat punggungku tapi ujungnya kita berakhir di tempat tidur, dua kali. Jadi, aku baik-baik saja terima kasih. Aku mau pergi ke kolam renang," aku menepuk pundaknya. Aku menghidangkan makanan untuk Kenzo dan aku memakan milikku, begitu aku selesai, aku mencuci piring dan pergi untuk mengenakan bikini, yang paling seksi yang aku miliki.


Aku cepat-cepat mengenakan bikini, Kenzo sedang berada di ruang kerjanya sedang menelepon. Pertama aku menyelam ke dalam kolam, sangat menyegarkan dan aku merasa semua luka ku hilang. Setelah mengambil beberapa pakaian renang, aku mengeringkan diriku dan Kenzo keluar.


"Sayang, aku berpikir..." dia berhenti, melihat ke atas dan ke bawah dua kali, membasahu bibirnya lalu menyeringai, "Jika kau ingin aku merobek semua pakaianmu kau tinggal bilang saja padaku. Tidak usah menggodaku, dengan mengenakan sesuatu seperti itu" katanya dengan nada serak. Dia berjalan di atasku, matanya gelap, dipenuhi napsu. Menakutkan namun aku menyukainya, aku menyukainya saat dia memandang ku seolah aku adalah wanita terakhir di dunia, itu membuat ku merasa dicintai dan diinginkan.


Dia menjepitku ke dinding, bau parfumnya-nya dan bau pasta giginya memenuhi lubang hidungku. "Bagaimana kalau kita berenang bersama." katanya mencium leherku.


"Aku berpikir kalau pikiranmu soal berenang jauh berbeda dari apa yang kamu mau saat ini." aku menghela nafas. Dia menatapku dan menyeringai.


"Tepat skali." Lalu dia mendorongku ke kolam, dan melepas semua pakaiannya sampai dia hanya memakai celana pendek. Kenzo menukik ke dalam, lalu berenang ke arahku, mengunci aku di sudut di mana aku tidak bisa melarikan diri.


Astaga, ini tidak bagus. Tidak bagus sama sekali, bagaimana aku bisa keluar dari sini?


"Aku. Aku harus pergi dan mengambil beberapa pakaian untuk tidur." kataku mencoba bergerak tapi aku terpaku di sudut.


"Tidak perlu sayang. Aku akan menyuruh beberapa orang untuk memindahkan semua barangmu ke rumahku sekarang"


"Kenapa? Kupikir kita akan menunggu."


"Aku tidak bisa menghabiskan hari ku sedetikpun tanpamu di sebelahku," katanya menggosok-gosokkan punggungku.


Dia berenang ke arah celananya dan mengeluarkan cincin itu dan meletakkannya di jari ku, aku hampir lupa betapa indahnya cincin itu. Setelah kami berenang sebentar, kami mandi. Orang-orang yang disuruh Kenzo bergerak menjatuhkan semua pakaian dan barang-barang ku di kamar Kenzo, aku menghabiskan 2 jam, merapikan pakaianku ke lemari besar.


Aku suka perasaan ini. Aku akhirnya menemukan pangeran tampan ku, dan dia menemukan cinderella nya yang telah lama hilang.