The Love Story Of Billionaire

The Love Story Of Billionaire
Ep. 47



Alvaro POV


"Alvaro, tolong pikirkan lagi. Hentikan sikap nakalmu itu," kata ibuku Isabel.


"Kamu tidak harus mengambil alih perusahaan keluarga sekarang, sayang. Nanti, sampai kamu lulus dari perguruan tinggi," kata ayahku Kenzo.


"Lihat saudaramu, dia sudah lulus sekolah menengah lebih awal dan menerima 30 beasiswa kuliah, dan tinggal di Jerman sendiri," lanjutnya.


"Bagaimana jika aku tidak mau menjadi seperti dia? Setiap hari yang kudengar dari kalian berdua hanyalah 'Lihat adikmu' atau 'Cobalah untuk menjadi lebih seperti dia' hanya karena kami kembar bukan berarti kami punya hal yang sama. Aku tidak ingin perusahaan keluarga, berikan saja itu sama anak ke dua terfavoritmu."


"Kami tidak punya favorit. Kami sama-sama mencintaimu, dan kau tahu itu. Kami tidak membesarkan kalian berdua dalam favoritisme, Alvaro," katanya lalu memberi ku ciuman di kepala dan pergi untuk memasak makan malam.


"Kalau begitu berhentilah berusaha menyuruhku menjadi seperti dia."


"Kami hanya khawatir tentangmu, sayang. Kamu sudah ditangkap sebanyak 10 kali, kamu sudah terlibat dalam 30 perkelahian. Tidakkah kamu pikir sudah waktunya untuk tumbuh dewasa? Untuk bersiap-siap menghadapi dunia yang sebenarnya?"


"Kamu tahu? Aku akan mengajarimu pelajaran yang diajarkan ayahku saat aku seusiamu, anak pembangkang. Aku akan memberimu uang jajan 80 juta dan apartemen berperabot di Dumai, kamu akan pindah ke sana. Ini akan mengajarkanmu tentang tanggung jawab, dan betapa sulitnya hidup sendirim Kau akan berangkat besok pagi. Buktikan kalau ayah salah, sayang. Tunjukkan pada ayah kalau kau bisa berubah." dia pergi ke kamarnya.


Mereka tidak mengerti ..


Ibuku kembali dari dapur, "Aku tahu kamu akan membuktikan bahwa dia salah, Alvaro. Ingatlah bahwa kami akan selalu mencintaimu bagaimanapun caranya, dia melakukan ini karena dia peduli padamu dan hanya menginginkan yang terbaik untukmu. Berjanjilah padaku kamu akan baik-baik saja di luar sana sendirian, "katanya, air matanya jatuh di wajahnya.


Aku menghapusnya dengan ibu jari dan memeluknya "Aku janji, Bu," bisikku di telinganya, dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu aku pergi untuk bicara dengan ayahku.


Aku berjalan ke kamar ku, membanting pintu di belakang ku dan mulai mengemasi barang-barang ku.


Aku senang mereka ingin mengirim ku pergi selama beberapa bulan setidaknya aku tidak mendengar lagi tentang saudara perempuan ku setiap hari.


Setelah selesai mengepak semua barang ku, aku melompat keluar dari jendela dua lantai dan berlari ke tempat persembunyian ku. Aku memanggil rekan ku dalam kejahatan untuk menemui ku di tempat persembunyian kami. Duduk menunggu semua orang, ada sinyal rahasia mengetuk pintu.


Mereka semua disini.


Aku membukakan pintu untuk teman terdekat ku, si kembar Jay dan Ajay, Maxim dan Micky


"Ada apa, Bos? Ada apa?" Maxim bertanya duduk di sofa bersama semua orang.


"Ayahku. Dia menyuruhku pergi ke Dumai sendirian untuk membuatku mandiri dan menjadi lebih bertanggung jawab atas diriku, aku tidak peduli, aku butuh sedikit relaksasi dan cukup mendengar orangtuaku bicara tentang Angel sepanjang hari," aku mengangkat bahu.


"Sial, jadi siapa yang akan menjadi bos baru kami? Kurasa aku bisa," Ajay mengangkat tangannya.


"Aku juga bisa," Jay mengangkat tangannya.


"Baiklah. Baiklah. Micky kaulah bos baru sementara, selama aku pergi. Jangan mengecewakanku, kawan," kataku.


"Aku tidak akan mengecewakanmu. Terima kasih kawan," katanya memberi pelukan persaudaraan.


"Apa ?! Kenapa dia?" Semua orang berteriak.


Senyum pecah di wajah ku, "Karena Micky lebih bertanggung jawab daripada kalian semua"


"Tapi kamu yang dikirim untuk belajar bertanggung jawab," canda Maxim, aku menjentikkannya.


"Ngomong-ngomong, aku akan berangkat besok pagi. Aku akan tetap berkomunikasi dengan kalian, jangan lupa aturan utama kita." Aku memandang semua orang.


"Jangan ketahuan atau kamu akan tertangkap." Aku selesai, semua orang menganggukkan kepala.


Keesokan harinya..


Aku terbangun karena mabuk. Aku bahkan tidak ingat apa yang terjadi semalam semuanya tampak buram, gelas dan makanan berserakan di mana-mana, semalam adalah malam yang cukup baik meskipun aku tidak bisa mengingatnya semuanya. Aku mengeluarkan ponselku, melihat ada 46 pesan dan ada beberapa video.


Ponsel ku berdering; itu ayahku.


"Di mana kamu? Ayah sudah menelepon sejak 3 jam yang lalu. Cepat pulang, pesawatmu akan segera berangkat," katanya dengan nada bisnis yang keras.


"Aku di suatu tempat. Aku sedang dalam perjalanan sekarang," kataku, aku mendengar dia mengucapkan kata kutukan dalam bahasa Inggris sebelum aku menutup telepon. Aku meraih jaket ku dan pergi ke rumah ku. Aku berhenti di pinggir jalan dan minum aspirin dan sarapan sebentar.


Membuka pintu aku diremukkan oleh ibuku yang memelukku erat. "Apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang luka? Apa kamu perlu rumah sakit? Dari mana kamu? Kami khawatir padamu, Alvaro. Kenapa kamu tidak mengabari kami?" Dia bertanya.


"Maaf, Bu. Aku baik-baik saja. Ponselku hilang," aku berbohong. Dia mencium kepalaku dan tersenyum padaku.


"Syukurlah," katanya, lalu menampar kepalaku, "Lain kali, hubungi kami Alvaro," katanya, ibu menciumku lagi dan pergi ke kamar.


Ayah keluar, "Ini uang dan paspormu. Hubungi kami jika kamu membutuhkan apapun," katanya, menyerahkan uang dan paspor itu pada ku.


Seorang pria besar masuk melalui pintu depan, "Ini James, dia akan menjadi pengawalmu"


"Aku bisa menjaga diri ku sendiiri."


"Aku tahu, nak. Tapi kalau kamu butuh bantuan atau seseorang untuk membuatmu keluar dari masalah, ada dia yang membantumu."


"Terserah," kataku, lalu berjalan ke ibu dan memeluknya dan mencium selamat tinggal, berpaling kepada ayahku aku memberinya anggukan. James membawaku ke jet pribadi keluarga dan menuju ke Dumai, kami bicara tentang kehidupannya dan hal-hal lainnya. Akhirnya, kami sampai di Dumai. Aku terdiam. James mengendarai mobil menuju apartemen, tempat aku akan tinggal.


Saat itu jam 10:00 pagi. "Anda akan bersekolah di State High School dalam beberapa menit, ini jadwal Anda," kata James menyerahkan kertas itu padaku.


"Oh dan ayahmu menitipkan hadiah di garasi, Tuan. Sebaiknya anda cepat mengambilnya atau anda akan terlambat," kata James berjalan pergi ke kamar tidurnya.


Aku mengenakan jaket kulit ku dan berjalan ke garasi, membuka pintu, aku melihat Honda KLX CRF 150; masih baru dan warna hitam.


"Astaga. Orang tua ku pengertian sekali, aku pikir aku akan memanggilmu Blacky." kataku mengagumi setiap inci dari motorku. Pintu garasi terbuka, aku mengenakan helm hitam pekat yang cocok dengan Blacky. Aku mundur dan melaju dengan kecepatan penuh ke sekolah baruku.


Aku sampai di sekolah, sangat tenang dan bersih, saatnya untuk berganti pakaian.


Aku melepas helm ku, beberapa gadis berjalan memperhatikan ku dan menatap ku seolah-olah aku adalah artis, aku hanya menyeringai pada mereka dan mereka semua kegirangan.


Berjalan ke sekolah, koridor dan lorong berikutnya itu mulai sepi, aku melihat seorang gadis langsing berambut yang di gulung sosis dengan dua anteknya di belakang. Dengan cepat aku tahu kalau dia adalah ketua cheerleaders dan ketua geng yang paling top di sekolah. Bagaimana bisa aku tahu ini? Yah, aku pernah punya hubungan asmara dengan wanita rendahan seperti dia.


Ada seorang gadis berambut hitam pendek di lantai, wanita rendahan dan anteknya pergi. Aku merasa ingin membantu wanita yang dibully oleh wanita rendahan barusan, biasanya kalau aku melihat yang seperti ini, aku hanya mengabaikan mereka, tapi kalau dengan dia itu berbeda.


Astaga. Dia terlihat seperti Velma yang ada di film Scooby Doo, sangat tak berdaya dan rapuh.


Aku menghampirinya, membantunya berdiri, memberikan buku-bukunya dan kacamatanya yang pecah. Tanpa kacamata dia sangat cantik. Dia memiliki mata cokelat yang sangat indah dan bintik-bintik manis di hidung, rambut pendek hitam yang lembut dan halus.


Apa yang aku lakukan? Astaga. Ugh. Semakin cepat aku mengantarnya semakin baik.


Aku mengantarnya ke pintu terdekat yang bisa aku temukan.


Menghabiskan rokokku, aku melihat gadis-gadis menatapku dengan girang.