
Pertandingan sudah hampir berakhir, bagian yang paling kutakuti; Ciuman. Aku cepat-cepat menarik topiku ke wajahku sehingga mereka tidak akan memperhatikanku, tapi aku bicara terlalu cepat. Aku melepas topi itu berpikir mereka memilih orang lain tapi orang itu adalah aku dan Kenzo, Kenzo menatapku lalu ke arah kamera lalu seringai bodoh yang selalu aku benci muncul di wajahnya.
"Cium!"
"Cium!"
"Cium! " Kerumunan meraung.
Apa yang harus aku lakukan? Dia bosku..Aku tidak bisa ... Aku tidak akan ... Aku mau ... tapi aku tidak bisa.
Wajah Kenzo sibuk memperhatikan layar, aku cepat-cepat menarik wajahnya dan mencium pipinya lalu semua orang bertepuk tangan ... Oh, malu. Kenzo menatapku dan tersenyum, ada sesuatu yang bermain di matanya; nafsu, keinginan dan gairah. Pertandingan sudah berakhir, akhirnya aku bisa pulang, dan melupakan hari ini, tapi ciuman yang ku berikan di pipinya terus berputar di benakku. Pasangan tua menghentikan kami saat kami keluar dari stadion.
"Sayang, bukankah mereka pasangan yang manis?" katanya, aku menoleh melihat kenzo yang sepertinya menikmati ini.
"Oh, tidak -"
"Terima kasih, Nyonya" Kenzo memotong dengan meletakkan tangannya yang kuat di pinggangku. Oh dia melakukannya.
"Kalian mengingatkanku pada kami saat masih muda," Dia berkata dan suaminya tersenyum dan mengangguk. Dia terus memberi kami senyum lalu melambaikan tangan.
"Sampai jumpa," Kenzo berkata dalam aksen Inggris sambil melambaikan tangan saat kami berjalan menuju mobilnya.
"Apa yang kalian berdua bicarakan?" Aku bertanya, dia hanya memberiku seringai bodoh
"Bukan apa-apa, Isabel"
"Sepertinya tidak apa-apa jika kau masih tersenyum setelah apa yang kalian berdua bicarakan" Aku menatapnya dengan tegas, tapi dia mengabaikanku dan memperhatikan jalan.
"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu, Tuan Kenzo" kataku saat dia berhenti di pinggir jalan lalu mematikan mesin dan menatapku seolah aku melakukan sesuatu yang salah.
Apa yang aku lakukan sekarang?
"Sekarang, apa yang sudah kukatakan soal namaku ... Isabel?" dia bertanya membungkuk ke depan ke wajahku sampai tidak ada lagi ruang di antara kami, aku menelan ludah. Oh sial namanya, tapi kenapa sangat penting bagiku untuk memanggilnya dengan nama tuan di depannya.
"Aku tahu kau tidak ingin mengulangi apa yang terjadi padamu terakhir kali, apa kau tahu itu, Cintaku" Dia mendengkur ke telingaku. Tubuhku membeku, pikiranku menjadi kabur, wajahku memerah seperti ... ini artinya apa mungkin aku naksir dengan bosku sendiri.
"Tidak. Tuan..Aku maksudku Kenzo," aku menghela nafas..menunggu kapan aku menahan napas?
"Itu bagus," katanya kemudian kami pergi, aku tidak bisa menatap matanya.
Aku menatap ke luar jendela dan memperhatikan rumahku "Um ... Kau melewati rumahku" kataku
"Tenang aku tidak akan menculikmu, aku lapar jadi aku mau singgah di restoran" Dia tertawa, tapi tidak ada yang lucu. Kami tiba di restoran dan aku melihat semua wanita murahan kelaparan keluar untuk berburu, aku meraih pergelangan tangan Kenzo ke belakang di mana mereka tidak akan mengganggu ku ataupun Kenzo.
Cemburu ...
Cemburu ...
"Apa kau baik-baik saja, Isabel?" Kenzo bertanya dan mengangguk.
"Ya, Kenapa tidak?" Aku berbohong.
"Yah, kau praktis menyeretku ke belakang restoran"
"Oh, nah di sinilah aku selalu duduk bersama Natan dan Jeni kalau kita datang ke sini" Aku tersenyum, pelayan datang.
"Apa yang kau mau," katanya dengan nada menggoda kepada Kenzo sambil mengedipkan bulu matanya yang palsu padanya. Kenzo bahkan tidak memperhatikannya karena dia hanya menatap menunya.
"Kau bisa membuatkanku secangkir kopi hitam dengan gula dan susu di sampingnya"
"Dan aku ingin Strawberry dicampur dengan milkshake Vanilla dengan krim cambuk ekstra di atas dan bawah dan satu ceri di atasnya," kataku, sambil memutar matanya lalu memberi Kenzo senyum.
"Minuman yang luar biasa," Kenzo berbicara.
"Aduh..Ya, ibuku dulu sering membuatkannya untukku saat aku masih kecil. Kurasa itu menjadi kebiasaan sekarang," aku tersipu. Pelayan kembali dengan minuman kami dan pakaian baru, bajunya memperlihatkan banyak belahan dada dan bajunya terlalu ketat tapi bagian terburuknya adalah make-up nya yang terlalu menor.
"Ini minumanmu, sekarang apa yang bisa aku ambilkan lagi untukmu," dia tersenyum pada Kenzo lalu mengedipkan matanya.
"Maaf, jika kau sudah selesai mempermalukan dirimu sendiri di depan temanku di sini, aku ingin memesan makanan." Aku tersenyum lembut padanya dan Kenzo tersenyum padaku. Kenzo berkata padaku 'Terima kasih' yang membuatku tertawa kecil.
Akhirnya setelah perseteruan kecil dengan pelayan murahan itu, kami menghabiskan makanan dengan tenang dan damai, wanita-wanita lain tidak dapat mengalihkan pandangan darinya, seolah-olah ia adalah magnet bagi mata wanita dan itu menjadi sesuatu yang menjengkelkan.
Cemburu ...
Kata itu terus bermain di pikiranku lagi, aku mendorongnya kembali ke pikiranku.
Kami masuk ke mobilnya dan pulang ke rumahku sampai tiba-tiba berhenti dan itu bukan rumahku, terlalu gelap untuk melihat di mana kami berhenti.
"Kenapa, kenala kita berhenti disini?" Aku bertanya melangkah keluar mobilnya.
"Sialan, kita kehabisan bensin"
"Bagaimana mungkin kau kehabisan bensin?"
"Kurasa Mikee tidak mengisi full tangkinya sejak kemarin,"
"Jadi, kita dimana?"
"Rumahku"
Rumahnya? Aku di rumahnya? Omong kosong aku di rumahnya!