The Love Story Of Billionaire

The Love Story Of Billionaire
Episode 13



Jeni keluar dari kamarnya mengenakan gaun merah, strapless, lutut tinggi dengan lengan panjang bertali yang menutupi tubuhnya dengan sempurna dan rambutnya keriting.


"Wow, kau terlihat ... Cantik" Kataku dan Jeni pada saat yang sama.


"Kurasa aku harus membawa senjata," Natan bercanda. Tiba-tiba ada ketukan di pintu. Aku membuka pintu dan disambut oleh mata bak samudra yang sama dari kemarin.


"Halo, Mike," kataku sambil membalikkan kepalanya ke arah mataku.


"Halo Isabel, apakah kau sudah siap? Wow, kau terlihat sangat cantik malam ini," katanya dengan gugup dengan aksen Inggrisnya yang menawan.


"Terima kasih," aku tersipu.


"Ya, benar," kataku saat kami semua berjalan menuju Alphard.


"Ini yang kita akan tumpangi?" Tanyaku masih kaget saat Mike menganggukkan kepalanya, membuka pintu sambil memegang tanganku untuk masuk.


Kami tiba di acara amal tersebut, tempat itu didalam sebuah gedung yang besar dan ada banyak orang disana dengan perhiasan dan pakaian mahal.


"Lewat sini, Nona," Mike berkata saat aku, Jeni dan Natan mengikuti, aku bisa merasakan mata semua orang menatapku sejak aku di depan.


Kami hampir mencapai meja makan. Nyonya Julian duduk bersama suaminya, berbicara dengan Pak Julian.


Mike berdehem, "Nona Isabel sudah datang," katanya saat kami berjalan menuju meja, Pak Julian perlahan-lahan menoleh. Matanya melebar, dia menelan ludah menatapku ke atas dan ke bawah.


"Isabel, kau terlihat cantik dengan gaun itu," katanya membuat wajahku memerah. Tunggu. Kenapa aku memerah karena komentarnya? Apa yang terjadi padaku?


"Terima kasih, Pak Julian," kataku saat kami semua duduk, Pak Julian juga sepertinya dia tidak bisa mengalihkan pandangannya selain daripadaku.


"Halo, sekali lagi Tuan dan Nyonya Julian, senang bertemu dengan kalian lagi."


"Aku senang kamu datang, sayangku." Nyonya Julian tersenyum.


"Wah, senang bertemu Anda Nona Isabel. Aku harap putraku memperlakukanmu dengan baik di tempat kerja," kata Pak Julian.


"Ya, Pak. Dan ini adalah teman dekatku Jeni dan kakak laki-lakinya Natan." kataku ketika mereka semua saling menyapa, setiap kali aku berbicara tentang Natan, Pak Julian mengeraskan rahangnya, mungkin karena lelucon konyol yang diucapkan Natan. Kemudian di malam hari Natan dan Jeni pergi untuk berbicara dengan beberapa orang kaya, meninggalkanku di bar sendirian.


"Apa yang bisa ku ambilkan untukmu," sebuah suara Inggris yang akrab berkata, berbalik saat aku melihat Mike.


"Hei, Mike. Kupikir kau seorang pengawal?"


"Hei, Isabel."


"hehe.."


"Jadi, apa yang ingin diminum oleh wanita cantik sepertimu malam ini?" katanya dengan nada genit, aneh bagaimana aku bisa menganggapnya dia menarik.


"Yah, wanita cantik sepertiku ingin minum segelas wine dengan seorang pria tampan sepertimu." Aku berkata kembali dengan nada genit bermain-main mengambil tempat duduk.


"Segera datang, cantik," dia mengedipkan mata


"Kami membayarmu untuk bekerja, Mike bukan untuk main mata," Kenzo meraung membuat Mike melarikan diri dan kembali bekerja.


"Kenapa kau melakukan itu?" Aku bertanya.


"Dia menggodamu bukannya bekerja."


"Kenapa kalau dia ada disini, Pak? Apa itu masalah untukmu?"


"Karena memang begitu, ok? Dan tolong panggil aku Kenzo saja, kita sedang tidak berada di kantor, Isabel," katanya tersenyum, oh Tuhan.


"Oh .. ok, Pak Kenzo maksudku Kenzo," kataku sambil menatap mata cokelatnya yang dipenuhi dengan nafsu dan gairah saat dia mendekat, Kenapa aku tidak bisa bergerak?


"Ini minumanmu," kata Mike, syukurlah dia menghentikannya, sebelum dia mencondongkan badan terlalu dekat, aku mendengar Kenzo mengerang frustrasi.


"Isabel?" Pak Kenzo maksudku Kenzo berkata membuatku mengarahkan pandanganku ke arahnya.


"Ya, Kenzo?"


"Aku.... aku.. ingin.."


"Kau kah itu Isabel, kami sudah mencarimu kemana-mana," Natan memotong, sekali lagi Kenzo mengerang frustrasi.


"Ada apa Natan?"


"Oh. Kami mau pulang, Jeni sangat mabuk dan sekarang dia bicara dengan patung. Aku mencoba mengambil videonya," katanya sambil tertawa.


"Oh. Baiklah, aku akan bertemu kalian di luar. Aku harus mengucapkan selamat tinggal dulu," kataku Natan menganggukkan kepalanya dan meraih Jeni dan melemparkannya ke atas bahunya. Yang kau lihat adalah rambutnya yang pirang berayun ke samping, aku tertawa sedikit saat melihatnya.


"Apa yang mau kau katakan Kenzo?" Aku berbalik ke arahnya saat wajahnya mengeras lagi.


"Ada apa denganmu? Dengar Natan bukan pacarku, dia adalah teman dekatku, dia mengatakan semua omong kosong itu karena dia pikir kau mencoba untuk memukulku jadi dia pergi untuk mencoba menyelamatkanku dan membuatmu meninggalkanku sendirian!" Aku berteriak dia berdiri di sana dengan wajah kosong.


'Tidakkah kau mengharapkan itu?' Aku berkata pada diriku sendiri, aku bisa merasakan semua orang menatapku dengan Kenzo, saat dia berdehem semua orang berbalik. Aku cepat-cepat pergi sebelum kami mulai berdebat lagi. Aku tahu ia ingin menghentikanku, tapi dia tahu aku harus tenang dulu sebelum semuanya kacau.


Sebuah lengan lembut menghentikanku di tengah jalan, aku berbalik dan melihat Nyonya Julian berusaha mengatur napas. Kenapa dia lari ke sini?


"Kau mau pulang?" katanya akhirnya menarik napas.


"Ya. Terima kasih atas undangannya, kami sudah cukup bersenang-senang, Nyonya Julian"


"Sayangku, aku butuh bantuanmun"


"B..b.. bantuanku?"


"Ya. Salah satu wanita di acara amal ini tidak ada di sini."


“Dan anda ingin aku? Aku? Untuk menggantikannya?” Tanyaku, dia mengangguk. Aku mendengar suara keras, memandang ke arah Kenzo. Dia tampak marah. Aku tahu dia meninju tembok di dekat lubang besar di dinding, lalu pergi sebelum aku bisa mengatakan apa-apa.


"A.. a.. Apa yang harus aku lakukan?"


"Jika salah satu miliarder memberi jumlah besar kepadamu, mereka menang satu kencan denganmu pada hari Sabtu"


"A... Apa ?! Aku tidak bisa-"


"Tolong sayangku, kaulah satu-satunya yang bisa menyelamatkan amal ini untuk anak-anak tunawisma," serunya.


"Yah, kalau itu untuk anak-anak tunawisma, aku akan melakukannya, Nyonya Julian," kataku dan seketika senyum lebar muncul di wajahnya, yang membuatnya terlihat 10 kali lebih muda.


Berdiri di atas panggung, aku merasakan begitu banyak mata menatapku, terutama para lelaki dan semua wanita memberiku tatapan yang penuh amarah dan memutar-mutar matanya.


*Ini untuk anak-anak tunawisma.


Ini demi anak-anak tunawisma.


Kau bisa melakukannya.


Ini untuk tujuan yang baik*.


Aku terus mengatakan pada diriku sendiri


"Oke, kita akan melakukan yang pertama dengan Nona Isabel," lelaki dengan mikrofon itu berkata saat aku melangkah ke sampingnya.


"200 Juta"


"500 Juta"


"700 Juta"


"870 Juta," seorang pria muda berkata, aku tidak percaya aku melakukan ini.


"870 juta. Apa ada tawaran sekali lagi?"


"2 Miliar," suara seorang lelaki yang akrab berkata aku membalikkan kepalaku ke arah lelaki itu, tuhan. Kenzo!


"Woah! Baiklah. Bagus sekali? Apa ada tawaran lagi?"


"2,5 Miliar" semua orang terengah-engah termasuk aku, suara akrab lainnya berkata dari kerumunan, memicingkan mataku, aku bisa melihat siapa itu.


"Pak Aldo?"


"Halo, Isabel yang cantik," dia mengedipkan matanya, aku melirik Kenzo jika dia sampai melihatnya dia akan membunuh Aldo sekarang. Mereka berdua saling menatap.


"9 Miliar," kata mereka pada saat bersamaan. Semua orang terengah-engah dan menyaksikan dengan tenang saat pria dengan mikrofon menjatuhkan mikrofonnya; mulut dan mata mereka terbuka lebar.


Setelah 5 menit hening, lelaki itu berbicara, "Untuk pertama kalinya dalam hidupku melakukan ini, aku belum pernah melihat ini sebelumnya. Ngomong-ngomong, jadi bagaimana menurutmu soal berkencan dengan dua orang miliarder ini Nona Isabel."


Aku memandangnya, kemudian pada Kenzo dan Aldo lalu kembali padanya saat dia meletakkan mikrofon di tanganku.


Aku menghela napasku, "Kurasa begitu," kataku, dan semua orang bertepuk tangan.


"Baiklah, Pak Aldo akan mengajakmu keluar sepanjang hari pada hari Minggu sedangkan untuk Pak Kenzo sepanjang hari Sabtu, apa kau sepakat?"


"Ya, aku sepakat," kataku dan semua orang bertepuk tangan.


Ya ampun. Aku baru saja menjual diriku pada dua pria tampan, seksi, dan menggiurkan.