The Love Story Of Billionaire

The Love Story Of Billionaire
Episode 39



Isabel POV


Hari ini adalah hari aku bertemu dengan seluruh keluarga besar Kenzo di acara BBQ, aku merasa seperti gugup sekarang. Besok adalah hari di mana aku tinggal bersama Kenzo, Jeni dan Natan memohon padaku untuk tinggal bersamanya selama beberapa minggu, dan ya tengu saja Kenzo sama sekali tidak masalah jika aku tetap tinggal bersama kedua sahabatku.


Melihat jam dinding, menunjukkan pukul 14:27 dan BBQ akan dimulai sekitar 15.00


Uh. Aku lapar...


Aku berjalan keluar kamar menuju dapur, membuka lemari dan tidak ada makanan, aku menghela nafas. Berbalik aku melihat sepiring brownies lezat, aku menggigitnya. Enak skali, dengan cepat aku menghabiskan semua yang ada di piring tanpa meninggalkan sisa. Merasa kenyang dan puas aku berlari ke kamar mandi dan mandi cepat dan berpakaian.


Kenapa tiba-tiba aku merasa ...


Aku berjalan menuju tempat tidur dan tertidur, aku mendengar seseorang di pintu tapi aku lelah dan tertidur.


Kenzo POV


Aku mengetuk beberapa kali lagi, Natan menjawab pintu seperti ada masalah.


"Natan, di mana Isabel? Aku sudah mengetuk dan memanggilnya selama satu jam sekarang"


"Uh? Yah, ada sedikit masalah"


"Apa yang terjadi padanya," kataku memasuki rumah, aku melihat Isabel di lantai bicara seperti orang gila.


"Apa yang terjadi padanya? Apa yang dia lakukan?" Aku bertanya bingung.


"Tadi temanku membawa sepiring ... um ... Brownies dan kurasa dia memakan semuanya, tidak meninggalkan sisa dan kau tau brownies itu mengandung obat terlarang. Saat aku bangun dia bicara dengan aneh dengan gambar-gambar yang di dinding" katanya menggaruk bagian belakang kepalanya.


"Apa kau serius? Kita harus pergi ke acara BBQ keluargaku, mereka tidak bisa kelihatan seperti ini" Aku menunjuk ke Isabel, aku berjalan menghampirinya dan membungkuk.


"Sayang? Apa yang kau lakukan?"


"Seperti apa rupanya? Aku sedang bicara dengan SpongeBob dan Patrick," dia tertawa, aku hanya bisa tertawa dengannya.


"Hei, kau terlihat seperti Bosku dan tunanganku. Ssst ... jangan bilang sama Kenzo kalau ada cowok seksi dengan aksen Inggris nya datang menemuiku waktu itu "dia terkikik berguling-guling di lantai, menatap tangannya dengan kagum.


Pria Inggris? Oh sial Penjahat itu kembali ?!


"Isabel? Kau mau pergi kemana?" Kataku sambil berlari menuju pintu.


"Ke Hogwart !!! Aku ingin menjadi seorang penyihir dan punya burung hantu peliharaan seperti Harry Potter," teriaknya meraih sapu kayu yang berlari menuju pintu.


"Isabel, tolong kembali" kataku mengejar di belakangnya, aku menyematkannya ke dinding.


"Kau memiliki mata yang sangat indah, tuan"


Aku memandangnya dengan bingung, "Tentu saja aky tahu. Tunggu ... tuan?"


"Tuan. Masakkan aku sesuatu, aku lapar ... aku akan membayarmu dengan banyak dan banyak kesenangan," katanya mencium leherku sambil menggosok dadaku.


Sial ini bukan waktunya. brengsek. dia akan mendapatkan bagiannya nanti.


Aku berjalan ke dapur, tidak ada yang bisa dia makan kecuali aku memasak spageti. Aku mendengar bunyi gedebuk, aku berlari ke ruang tamu. Isabel terjatub.


"Apa kau baru saja jatuh dari sofa?"


"Tentu saja tidak, konyol. Sofa ini yang mendorongku," katanya dengan wajah serius.


Aku menggelengkan kepalaku dengan kekecewaan, kita pasti tidak bisa pergi dengan aktingnya seperti ini.


Natan duduk di sisi lain sofa sambil tertawa sambil merekamnya. Isabel merangkak ke arahku, aku berjongkok, dia bersandar ke telingaku. "Ayo pelan-pelan, Aku masih virgin loh," bisiknya ke telingaku lalu menampar wajahku dengan kekuatan penuh.


Aku harus membuatnya pulih ... sekarang.


"Natan. Bagaimana caranya kita bisa membuatnya pulih kembali?" Kataku


"Kita harus menunggu sampai dia pulih sendiri."


"Bagaimana? Kapan kita akan tahu-" Aku mendengar bunyi gedebuk lagi, menatap bagian belakang sofa, Isabel sedang tidur.


"Itu... saat itu. Sekarang mungkin efek obatnya sudah hilang. Tunggu beberapa menit dan dia akan baik-baik saja dan siap untuk bertemu seluruh keluarga. Kalau saja Jeni ada di sini."


"Terima kasih banyak. Di mana dia?" Aku bertanya mengangkat Isabel dari lantai ke sofa. "Yahh di suatu tempat dengan pacar barunya, Joshua," desahnya sambil mengusap rambut kotornya.


"Dia akan baik-baik saja, kawan. Dia lebih tangguh daripada yang kau kira, dia bisa mengurus dirinya sendiri," kataku memasak spaghetti untuk Isabel sambil menunggunya terbangun.


"Kuharap kau benar, Kenzo. Pokoknya terima kasih, kawan," katanya sambil berjabat tangan lalu pergi ke kamarnya.


Sekarang aku harus menunggunya bangun ...