
Lari dan lari.
Hanya itu yang bisa ku pikirkan saat ini. Tapi kaki ku terasa tak mau bergerak sama sekali.
"Apa yang terjadi di sini? Apa dia memanggilmu ayah?" Joshua berkata memecah kesunyian.
"Sayang, kau baik-baik saja?" Kenzo bertanya, aku benci saat orang melihatku menangis, itu membuatku merasa lemah. Aku tidak tahan lagi berada di sana, dan akhirnya kakiku mau berkompromi. Aku tidak tahu harus kemana dan aku sudah tidak peduli, yang kuinginkan saat ini hanya ingin keluar dari sana. Ada balkon, aku berlari menuju ke sana dan menutup pintu di belakangku.
Aku tidak bisa bernapas. Serangan panik mulai menghampiriku.
Punggungku mengarah ke pintu, "Isabel bernafas, dengarkan suaraku. Pikirkan tempatmu yang bahagia, santai. Bernapaslah." Kata ayahku, aku cepat-cepat berbalik. Mendengarkan apa yang dia katakan, aku santai dan mulai bernapas dengan benar.
"Isabel, dengarkan. Ayah tidak berharap kau memaafkanku—"
"Kau benar," teriakku.
"Jangan gunakan nada itu padaku, nak."
"Ooooh, aku sangat takut. Apa yang akan kau lakukan? Luangkan waktu untukku?"
"Dengar, Ayah mengerti kalau kau marah pada-"
"Marah? Marah? Bukan. Marah itu hanya meremehkan. Aku sangat marah. Kau tidak tahu bagaimana perasaanku selama ini, aku sering di ejek karena aku tidak punya ayah, setiap ada acara hari Ayah di sekolah, ibulah yang datang bukan kau!! Seorang pria mencoba memperkosa ku suatu malam dan aku menjerit memanggilmu tapi kau tidak pernah datang untuk menyelamatkanku" aku menangis.
"Isabel. Ayah minta maaf. Ayah tidak tahu"
"Tentu saja, kau tidak akan tahu. Tapi biar kutebak, itu yang bersamamu sekarang adalah sekretaris murahan mu kan yang kau gauli di kantormu saat aku dan ibu mengunjungimu di tempat kerja?" Aku berteriak. Cih Menggoda suami orang adalah perilaku yang buruk.
"Isabel-"
"Cukup! Aku benar-benar membencimu. Kau buat ibuku sakit hati di hari itu, dia menangis setiap malam selama 2 bulan terakhir. Dia selalu berhenti bicara dan menatapku karena aku mengingatkannya pada pria yang telah berselingkuh dengan sekretaris murahannya. Aku yakin kau bahkan tidak mencintai kami, kan !?" Aku terengah-engah dan sangat marah.
"Isabel, jaga ucapanmu, jangan bilang seperti itu. Ayah mencintaimu juga ibumu dengan sepenuh hati. Ayah siap mati untuk kalian berdua. Jangan pernah berpikir kalau Ayah tidak pernah mencintaimu berdua. Jika aku bisa kembali ke masa lalu dan mengubah apa yang Ayah sudah perbuat tapi Ayah tidak bisa. Setiap ulang tahunmu tiba, siapa yang selalu membelikanmu hadiah mahal terbaru? Atau siapa yang mengirim perhiasan mahal untuk ibumu? Ayah kan? Ayah mengirim penjaga yang menyamar untuk mengawasimu dan ibumu. Penjaga itu biasanya mengikuti kalian agar bisa merekammu dan menunjukkan kepadaku tentang aktivitasmu setiap hari maupun di sekolah. Ayah ingin melihatmu tapi ibumu tidak mengizinkanku untuk melihatmu, oleh karena itu dia hanya mengirimiku album foto mu saat tumbuh menjadi wanita cantik di depanku" katanya, aku melangkah mundur dengan kaget.
"Kau bohong, itu tidak benar. Lalu apa yang terjadi saat 12 Juli 2006?"
"Saat itu timmu memenangkan kejuaraan voli putri kan? Ayah memang tidak ada disana tapi ayah ada di sana sepanjang hidupmu mengawasimu dari belakang. Tolong percayalah padaku, jika kau tidak percaya tanyakan pada ibumu saatnya dia mengatakan yang sebenarnya, Tolong Isabel maafkan Ayah," katanya, air mata jatuh dari wajahnya, melihat orang tuaku menangis membuatku juga selalu ingin menangis.
"Kau punya pilihan. Tetap tinggal bersama sekretarismu dan memiliki kehidupan dan keluarga baru atau Memilih kami dan meminta pengampunan? Kami akan memaafkanmu, tapi sepertinya kau membuat pilihan itu sendiri dan dengan siapa kau ingin bersama. Senang mengenal Anda, Bapak Alexandero, tapi sekarang saatnya bagiku dan teman-temanku untuk pergi, terima kasih telah mengundang kami, selamat malam." Kataku menyeka air mataku. Aku berjalan melewatinya menuju pintu "Selamat tinggal, Ayah" kataku tidak berbalik, Membuka pintu Kenzo memelukku, begitu pula Jeni dan Natan.
"Kurasa kau sudah mendengar semuanya, ya?" Aku tersenyum lemah. Mereka semua tampak bersalah, dan mengangguk ke sana.
"Jadi, ini artinya kita berdua adalah saudara tiri?" Joshua berkata aku tersenyum padanya dan memberinya pelukan selamat tinggal,
"Sampai jumpa, Joshua," kataku.
"Sampai jumpa, Kakak," dia melambaikan tangan pada kami.
Kami masuk ke dalam mobil "Kenzo, apa kau keberatan? Humm tidur denganku malam ini, kumohon."
"Tentu saja, sayang. Apa pun untukmu," katanya mencium tanganku. Kami sampai di resort dan aku sangat tertekan secara emosional. Semua orang pergi mandi dan mengepak barang-barang mereka untuk besok pagi, aku memakai baju lengan pendek dan celana pendek hello kitty.
Aku merangkak ke tempat tidur terlebih dulu, lalu Kenzo mengikutiku di belakangku.
Kami berbaring sambil berhadapan, "Apa kau baik-baik saja?" Dia bertanya.
"Tidak, sebenarnya aku ingin memaafkannya, jujur tapi dia selingkuh dengan sekertarisnya, dia menyakiti ibuku." Aku menyeka air mataku kembali.
"Kau bilang kau hampir di lecehkan?" Dia bertanya, aku menarik napas dalam-dalam.
"Ya, kalau bukan karena tetanggaku yang berisik. Malam itu ibu ku membawa pulang laki-laki, dia terlihat mabuk. Dia menyuruh ibuku untuk pergi membeli lebih banyak minuman untuknya. Jadi, dia mendengarkan dan meninggalkan ku di belakang dengan orang asing itu. Pada saat aku berusia 12 tahun, pasti kan seorang anak sepertiku sudah mulai puber dengan buah dada kecil dengan tubuh ku yang melengkung. Pokoknya saat itu aku tidur, aku memastikan sudah mengunci pintu tapi entah bagaimana ia masuk ke dalam dan yang aku ingat, aku berteriak dan memanggil ayah ku, kemudian tetangga ku muncul dengan beberapa polisi. Ibu ku hampir masuk penjara jika aku tidak membantunya dan berbohong kepada polisi" Aku menghela nafas dalam-dalam.
"******** itu, aku seharusnya memukulnya saat itu" kata Kenzo mengencangkan rahangnya.
"Kenzo, santailah. Yang aku tahu pria itu masih di penjara"
"Dia pantas mendapatkannya."
"Yah, pokoknya mari kita ganti topik pembicaraan, pria sok jagoan" canda ku. "Pria sok jagoan, ya? Aku suka itu," dia terkekeh.
"Kau tahu, kau harus memaafkannya suatu hari nanti, kan?"
"Aku tahu, tapi aku belum siap, Kenzo. Mungkin jika sudah waktunya. Selamat malam," kataku menguap.
"Selamat malam, sayang," kata Kenzo menciumku di pelipisku.
Aku terbangun di tengah malam dengan dering di teleponku
"Halo?" Kataku.
"Apa ini Nona Isabel?" Seorang wanita di telepon bertanya.
"Ya, saya Isabel. Siapa ini?"
"Seorang perawat dari Rumah Sakit Kasih Bunda, ada keadaan darurat"
Rumah Sakit? Kenapa mereka menghubungiku?
"Apa daruratnya? Ada apa?"
"Ibumu, dia mengalami serangan jantung," katanya, air mataku seperti sungai yang mengalir di wajahku.
"Baiklah, aku akan segera kesana. Mungkin besok pagi," kataku menutup telepon.
"Sayang? Ada apa? Kenapa kau menangis?" Kenzo bertanya, aku mengenakan pakaianku dan mengepak sisa pakaianku.
"Ibuku ada di rumah sakit, aku butuh jet pribadimu untuk menerbangkanku kembali."
"Baiklah, aku ikut denganmu," katanya dan aku mengangguk.
Ya Tuhan .. Kenapa ini terjadi padaku?