The Love Story Of Billionaire

The Love Story Of Billionaire
Episode 12



Ayah Kenzo POV


Isabel yang malang, istriku akan mempermainkanmu aku harus menghentikannya, tapi sebenarnya aku tidak bisa. Istriku sangat menakutkan kalau kau sudah ikut ke dalam rencananya, tapi mungkin karena dia seperti itu aku jatuh cinta padanya.


Saat dia memutuskan sesuatu, sangat sulit untuk mengubah pikirannya, akan butuh berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk mencoba mengubah pikirannya. Aku segera menelpon Andrew untuk membantu saudara lelakinya yang tersayang agar tidak di manipulasi oleh rencana ibunya.


"Halo?"


"Halo, Nak. Aku butuh bantuanmu"


"Bantu untuk apa ayah?"


"Iya, anakku."


"Ada apa? Ayah baik-baik saja? Bagaimana kabar Ibu?"


"Aku baik-baik saja dan ibumu juga. Tapi itu alasan aku menelponmu untuk meminta bantuanmu."


"Bagaimana dengan ibu?"


"Dia sedang merencanakan sesuatu untuk mendekatkan kenzo dengan seorang wanita, sekretarisnya kenzo."


"Oh. Jadi dia melakukannya lagi?"


"Apa maksudmu? Lagi?"


"Ayah, bagaimana aku bisa bertemu Samanta? Itu yang dilakukan ibu."


"Bagaimana kau tahu?"


"Setelah aku memberitahunya kalau Samanta hamil, dia memberitahuku kalau itu terjadi karena dia yang membuat kami saling jatuh cinta. Aku tahu dia akan melakukannya juga sama kenzo saat rencananya padaku selesai," dia menghela nafas berat.


"Ibumu benar-benar..."


"Siapa suruh menikahinya," candanya.


"Ehh jangan bilang begitu, dia yang melahirkanmu," aku bercanda kembali


"Bagaimanapun, kupikir kau harus membiarkan ibu melakukannya ayah. Kenzo juga perlu membuka hatinya,"


"Aku tahu. Awasi saudara laki-lakimu."


"Aku akan melakukannya ayah, selamat tinggal"


"Selamat tinggal."


Wanita ini tidak bisa dipercaya, Hati-hati Kenzo, ibumu punya rencana licik untuk masa depanmu, putraku, hati-hatilah.


Dilain sisi,


Isabel POV..


Aku tidak masuk kerja hari ini jadi aku tinggal di rumah, aku rebahan di tempat tidurku menatap langit-langit selama hampir 2 jam, memikirkan Ricky. Apa karena aku belum siap kehilangan kesucianku? Atau apa cintaku tidak cukup baginya? Mungkin karena keyakinanku yang tidak mau melangkah sejauh itu, aku menghabiskan bertahun-tahun bersamanya mengarang nama anak-anak, dan bagaimana kita merencanakan pernikahan kami, tapi sekarang? Astaga.


BEEPP!!


Ponselku berdering di dalam tas, aku memaksakan diri untuk melihat siapa yang meneleponku saat ini. Jeni mengirimiku 30 pesan.


'Apa kabar?'


'Apa kau baik-baik saja?'


"Balas pesanku Isabel!"


"Aku bersumpah jika kau bunuh diri, aku akan menjatuhkan tubuhmu di selokan."


'Tolong, Chat aku kembali'


'...'


Aku menertawakan semua isi pesan temanku itu kemudian mengiriminya pesan kembali.


'Aku baik-baik saja, terima kasih untuk semua pesanmu Jen,' aku membalas pesannya.


'Maaf, aku membutuhkan perhatianmu. Tolong berhenti galau hanya karena satu cowok Bel kau jauh lebih baik dari itu,' Jeni membalas chatku.


Mungkin dia benar, aku seharusnya tidak mondar-mandir seperti setan hanya demi seorang penjahat yang tak berperasaan itu.


'Baiklah, aku tidak akan menggalaukannya lagi. Sampai jumpa, saat kau sampai di rumah, aku akan mengabarimu lewat pesan.'


':)'


Dia mengirimiku emoji tersenyum sebagai jawaban. Ponselku lowbat. Aku melihat ke dalam tas untuk mencari charger tiba-tiba aku melihat surat emas dengan namaku di atasnya.


Bagaimana ini bisa ada di sini? Dari siapa ini?


Perlahan aku membuka surat itu, aku melihat ada nama Ny. Julians dengan huruf tebal kursif


'Sayangku, Isabel. Aku ingin mengundangmu ke acara amal keluarga Julian yang akan diadakan pada minggu ini Kamis pukul 7.45, Kau bisa membawa tamu sebanyak yang kau mau, akan ada banyak makanan, tarian, dan orang-orang kaya yang bisa kau ajak bicara. Silahkan bergabung dengan kami, kau tidak dapat menolak tawaran ini karena kau sekretaris Kenzo dan kau harus bergabung.


Aku akan meminta sopir untuk menjemputmu sekitar jam 6:30.


J*angan khawatirkan soal gaun, aku sudah menyediakannya satu untuk kau pakai, nanti akan dikirimkan lengkap dengan sepatu dan aksesorisnya. Terima kasih dan selamat menikmati*nya Isabel.'


Aku berdiri di sana membaca surat itu berulang-ulang mencoba memahami, kenapa? Kenapa harus aku? Tunggu... Tadi dikatakan hari Kamis? Aku melihat kalender di dindingku. Hari ini adalah hari Kamis dan sekarang sudah jam 2:10. Astaga! Ada ketukan di pintu, aku berlari ke arah pintu. Aku melihat Natan tertidur di sofa. Membuka pintu. Aku disambut oleh seorang pria muda dengan mata cokelat cerah dan rambut hitam pekat dengan tuksedo. Aku mengakui bahwa dia sangat tampan.


"Jadi, kau hanya akan berdiri di sana?" dia bercanda dengan aksen Inggris pipiku memerah. Oh betapa aku suka aksen Inggris.


"Maaf, ada yang bisa kubantu?"


"Aku mencari Nona Isabel?"


'Aku Isabel'


"Yah, dia benar kau secantik matahari terbenam ... Oh. Maafkan aku." Dia tersipu.


"Tidak apa-apa, sangat menggemaskan," aku terkikik.


"Aku Mike, pendampingmu di acara amal Julians. Ini gaunmu, Nona." katanya sambil memberiku kotak emas.


"Oh. Terima kasih, Mike."


"Sama-sama. Bersiaplah sekitar jam 6:30 Nona. Sampai jumpa," katanya, menunjukkan kulit putihnya yang mutiara lalu melambaikan tangan ketika aku menutup pintu di belakangku, berbalik. Aku melihat Natan berdiri menguap menggosok-gosok matanya menatapku.


"Siapa itu?"


"Pengawal untuk acara amal Julians malam ini"


"Pengawal kita?"


"Ya. Kita harus bersiap sebelum jam 6:30"


"Bagaimana dengan Jeni?"


"Dia akan datang sekarang, aku sudah mengirim chat padanya tentang hal itu." Aku berkata berjalan ke kamarku dengan kotak itu, aku membuka kotak itu dan melihat gaun paling seksi dan berkelas yang pernah kulihat dalam hidupku. Gaunnya panjang dan ramping, dengan satu tali samping, bagian atasnya terikat karena bagian bawahnya halus dan ada lubang untuk paha kanannya dan itu akan menutup tubuhku dengan sempurna. Tunggu. Bagaimana Nyonya Julian tahu ukuran baju dan sepatuku? Aku cepat-cepat berlari dan mandi cepat-cepat dan mencuci rambutku dengan sampo stroberi favoritku, lalu aku mengenakan gaun itu dengan sepatu hitamku, aku membiarkan rambutku ke bawah dan satu sisi melambat ke bawah lalu memakai sedikit riasan dengan favoritku lipstik merah. Aku melirik pada jam dan sekarang sudah pukul 5:15. Aku kemudian berjalan keluar dari ruanganku melihat Natan siap untuk pergi dengan gel rambutnya dengan tuksedo hitamnya. Dia perlahan-lahan menatapku dari atas sampai ke bawah sebanyak dua kali kemudian ke arah mataku.


"Bel, kau terlihat sangat cantik. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan betapa seksinya penampilanmu dengan gaun itu saat ini," katanya menatapku, dia tidak bisa mengalihkan pandangan dariku untuk satu detikpun.


"Terima kasih, Natan, kau sendiri juga terlihat tampan. Aku yakin semua wanita akan ngiler melihatmu malam ini," aku bercanda.


"Tentu saja. Aku ini Natan. Tapi aku tidak segan akan membunuh siapa pun yang mencoba untuk mengganggumu dan Jeni." katanya dengan wajah lurus yang membuatku terkikik.