
Isabel POV
Aku duduk di kantorku menatap layar komputer kosong, mudah-mudahan aku tidak melihat Kenzo hari ini. Kenapa harus aku? Ada jauh lebih banyak wanita cantik daripada diriku untuk menjadi cadangannya jadi kenapa harus memilihku begitu?
Aku sedikit terlonjak mendengar suara ponselku berdering didalam tasku, aku kemudian mengambilnya dan yang menelponku adalah ibuku. Bagus.
"Halo ... ibu"
"Kenapa kau terdengar seperti kau tidak ingin bicara dengan ibu? Apa ada yang salah?"
"Aku selalu suka bicara denganmu seperti ini, Bu"
"omong kosong, Sayang, itu tidak terdengar seperti biasanya, Bel?"
"Iya bu?"
"Kau ada kencan dengan 2 orang miliarder?"
"Darimana ibu mendengar itu?"
"Berita itu ada di Tv dan semua orang membicarakannya"
"Astaga secepat itu? Ugh. Apa yang harus aku lakukan ?!"
"Dengar. Pertama-tama bernapaslah, kemudian rilekskan dirimu. Ini tidak buruk, Sayang"
"Ya, aku tahu ibu. Aku akan mengatur kencan dengan bosku dan kliennya."
"Kalau begitu batalkan."
"Aku tidak bisa. Semua uang itu untuk anak-anak tunawisma"
"Kalau begitu, jalani dan jadilah wanita kuat sekuatnya."
"Wow. Terima kasih semangatnya ibu."
"Sama-sama, Sayang, sudah dulu ibu mau pergi, tapi hubungi ibu jika terjadi sesuatu atau jika kau membutuhkan seseorang untuk diajak bicara"
"Baiklah bu. I love you bu"
"love you too," katanya sambil menutup telepon.
Haruskah aku membatalkannya? atau haruskah aku memorotinya? Ada ketukan pelan di pintuku, aku mendongak dan itu Kenzo dengan ekspresi sedih di wajahnya seperti seseorang yang baru saja patah hati, aku harus tahu itu.
"Halo, Pak."
"Kau bisa membatalkannya kalau kau mau?"
"Apa yang sedang anda bicarakan?"
"Kamu tidak harus menarik Id Card si bodoh itu padaku, Nona Isabel," desahnya sambil bersandar di pintu.
"Kau tahu itu?"
"Ya, benar, beri tahu aku sekarang agar aku bisa menelepon Aldo dan segera memberitahunya."
"A... aku ..."
"Baiklah aku bisa melihat jawabanmu, aku akan pergi dan menelponnya sekarang." katanya keluar dari kantorku, jantungku berdegup kencang, naluriku mengatakan 'ya' tapi hatiku mengatakan bahaya. Apa yang harus aku lakukan? Ugh.
"Tunggu!"Aku berteriak saat Kenzo berbalik melihat langsung ke mataku dengan mata cokelatnya yang indah. Tunggu? Apa?
"Iya?"
"Aku... aku tidak ingin membatalkannya, Pak." kataku, menatap lantai mencoba yang terbaik untuk tidak melihat ke atas.
"Apa kau yakin, Nona Isabel? Tidak akan ada jalan kembali," katanya, menyeringai licik, ada apa dengan cowok-cowok sekarang? Kenapa mereka senang sekali menyeringai?
"Ya aku yakin, itu pasti menyenangkan" aku tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, Isabel," dia mendengus dengan mengedipkan mata lalu meninggalkan pintu, cara dia mengatakan namaku dalam aksen Inggris membuat seluruh tubuhku terasa lemah. Bayangan mata cokelatnya melumpuhkanku, senyumnya membuat lututku lemas. Apa yang orang ini lakukan padaku? Dia adalah bosku. Kecuali,tidak ada yang tidak bisa terjadi. Aku baru saja keluar dari keterpurukan terburuk sepanjang waktu bulan lalu.
Telpon kantorku berdering dan mengacaukan apa yang ada di isi pikiranku, lampu merah berkedip. Kenzo?
"Ya ?"
"Buat reservasi makan siang untukku dalam 30 menit di Ekspresso untuk dua orang, terima kasihm"
"Segera, Tuan," kataku menutup telepon, aku menelepon restoran tepat sebelum mereka dipesan.
20 menit kemudian..
"Ikut aku, Nona Isabel."
"Wah? Kenapa, ini jam istirahat makan siangku!"
"Jangan khawatir, tidak akan lama," katanya sambil meraih pergelangan tanganku keluar.
"Kita mau kemana?" Aku bertanya berjalan menuju mobil, aku melihat Mike.
"Hai, Mike."
"Halo Isabel, kau terlihat cantik hari ini."
"Ini hanya pakaian kerjaku yang membosankan, tapi terima kasih atas pujiannya." Aku tersenyum, memandang Kenzo yang wajahnya keras seperti batu, aku merasa tidak enak dengan penampilan yang dia berikan pada Mike.
"Ayo. Nona kita tidak punya banyak waktu," Kenzo mendesis menutup pintu. Aku duduk jauh di sudut memastikan aku memiliki ruangku sendiri.
Kami akhirnya mencapai tujuan, keluar mobil, aku melihat ada tanda besar yang mengatakan Ekspressom
"Kenapa kita kesini?"
"Untuk makan," katanya saat kami berjalan menuju pintu masuk, aku belum pernah ketempat seperti ini. Tempat ini sangat mahal dan mewah.
"Halo, Tuan Kenzo" kata wanita di balik meja menatapnya.
"Reservasi untuk 2 orang," katanya menatapku.
"Baiklah, Tuan," katanya menatapku dengan kebencian, aku menjulurkan lidahku padanya.
Kami duduk di sudut restoran dekat jendela.
"Aku melihat itu," dia terkekeh
"Apa?"
"Kau menjulurkan lidahmu padanya," katanya malu menutupi wajahku, pipiku memerah, Kenapa aku merasa begitu gugup dengannya.
"Oh, benar?"
"Ya aku melihatnya, itu lucu."
"Oh," kataku, pipiku terasa panas.
"Apa yang kau mau?" suara lelaki yang familier berkata, aku dengan berani menoleh dan melihat. Ricky.
"Ri..Ri.. Ricky?"
"Isabel, bagaimana kabarmu? Kau terlihat lebih baik sejak terakhir kali aku melihatmu," Dia mencibir, aku merasa seperti ingin pingsan tapi kata-katanya menyentuh hatiku.
"Kalian saling kenal?" Kenzo bertanya.
Jantungku berdegup kencang, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, tapi hal pertama yang muncul adalah aku serasa ingin lari. Aku bangun dan berlari keluar restoran secepat mungkin, aku tidak pernah berlari secepat ini dalam hidupku sampai sekarang. Aku bisa mendengar Kenzo memanggil namaku, hatiku menyuruhku lari dan tidak akan berhenti. Akhirnya aku sampai di rumahku, tapi aku meninggalkan kunci di mobilnya dengan dompetku, aku menggedor pintu dan melihat Natan mengenakan handuk yang meneteskan air ke rambutnya dan ke tubuhnya. Kata-kata tidak mampu keluar dari mulutku sehingga air mata yang bicara. Natan cepat-cepat meraihku, menarikku ke pelukannya dengan erat, menutup pintu di belakangnya dan mendudukkanku di sofa.
"Apa yang terjadi?" Jeni berkata keluar kamarnya berlari ke arahku, tapi kata-kata itu sepertinya tersangkut di tenggorokanku.
"Tidak apa-apa, kau tidak harus memberi tahu kami sekarang," dia terus meletakkan kepalaku di bahunya.
Kemudian Natan kembali dengan beberapa pakaian dan memberikanku secangkir cokelat panas dengan tambahan cream vanilla di atasnya seperti yang biasa diberikan ayahku sebelum bercerai.
"Sekarang, apa kau siap untuk memberi tahu kami?" Tanya Natan.
"Yah..." Aku diinterupsi oleh ketukan di pintu, berjalan menuju pintu lalu membuka, aku melihat Kenzo dengan tasku di tangannya, aku hampir lupa aku mengenakan tank top pink dengan celana piyama pendek.
"Kau meninggalkan ini sebelum meninggalkanku di restoran," katanya menatapku dengan penuh gairah di matanya, lalu menyerahkan tasku.
"Terima kasih, lihat, aku minta maaf karena membuatmu malu di restoran."
"Tidak apa-apa, Isabel. Aku tahu kau mungkin punya alasan sendiri."
"Terima kasih atas pengertiannya, Kenzo," kataku sambil melangkah beberapa langkah lebih dekat ke arahku sampai tidak ada ruang yang menghalangi kami, ia membungkuk ke arah telingaku, membuat punggungku menggigil, aroma parfumnya memabukkan.
"Apa yang sudah kubilang padamu, Isabel?"
"Mmm Untuk memanggilmu dengan namamu?" Aku tergagap, lututku semakin lemah.
"Jadi, siapa namaku?" Dia berbisik ke telingaku dan membuat rambut di bagian belakang leherku berdiri.
"Kenzo," kataku berbisik, dia menarik diri dariku, menyeringai licik membuat dia terlihat lebih seksi karena aroma parfumnya masih ada di hidungku yang membuat otakku mabuk.
"Gadis yang baik, Sekarang aku ingin kau mengambil libur besok," katanya berjalan pergi, aku menganggukkan kepalaku mengawasinya berjalan pergi. Berjalan kembali ke rumah aku melihat Natan dan Jeni dengan mulut ternganga, aku mengabaikan mereka dan berjalan langsung ke kamarku meninggalkan mereka terdiam.