
Isabel POV
'Uh! saraf lelaki itu, masa dia memanggilku anak kecil? ... Astaga.'
Kataku dalam hati berjalan ke arah Natan dan Jeni memindai belanjaan di sana.
"Kenapa kau lama skali? Dan kenapa kau terlihat sangat kesal?" Natan bertanya aku memberinya tatapan tajam karena dia hanya berdiri di belakang Jeni untuk di jadikan tameng.
"Woah. Bel, Apa yang terjadi padamu?" Jeni bertanya.
"Aku melihat pria yang menumpahkan minumanku di bajuku waktu di klub kemarin malam."
"Dan apa yang terjadi?"
"Kami berdua mengambil es krim pada saat yang sama dan si cowo gila itu bilang kalau aku bertingkah seperti anak kecil," aku mendengus.
"Yah, kadang-kadang kau bersikap seperti anak kecil Isabel," Jeni mengejek, mulai berjalan menuju mobilku.
"Sekarang kau memihaknya?"
"Aku tidak memihak siapa pun Bel," kata Jeni menutup pintu mobil, perjalanan kembali ke rumah senyap, Natan berusaha membuat kita berbicara satu sama lain tapi tidak ada yang berhasil.
Aku tidak mau bicara. Omg dia benar, aku bertingkah seperti anak kecil. Kami tiba di rumah kami dan membongkar kantong-kantong belanjaan dan meletakkan makanan di tempatnya, aku mengambil napas dalam-dalam dan berjalan ke dalam kamar Jeni.
"Jeni. Lihat aku."
"Tidak apa-apa Bel, sungguh." Dia berkata duduk di tempat tidurnya.
"Tidak, aku harus melakukan ini. Maaf aku bertindak seperti anak yang keras kepala, apa kau menerima permintaan maafku?"
"Mungkin jika aku punya teman untuk makan sekotak es krim dan menonton TV sepanjang malam bersamaku, aku bisa mempertimbangkannya." Dia bercanda, aku cepat-cepat melompat ke ranjang dan memeluknya erat-erat.
"Akhirnya kalian berdua berbaikan," canda Natan sambil berdiri di pintu, memakan es krim.
"Tutup mulut dan temani kami di ruang tamu sambil memakan es krim dan nonton tv," kataku, Natan dan Jeni tertawa.
Aku tidak ingat jam berapa kami tertidur tadi malam, aku terbangun di sofa ruang tamu, melihat ke sekeliling mataku melihat jam di dinding.
Oh sial! Kita terlambat!
Aku segera bangkit dan berlari untuk membangunkan Jeni di kamarnya kemudian untuk melakukan tugas-tugas pagiku.
Aku mengenakan rok hitam, blus putih, blazer biru navy dan sepatu berwarna pink, lalu aku bergegas merias wajah dan menata rambutku menjadi kuncir kuda yang kencang. Jeni mengatakan padaku kalau dia sakit perut karena es krim yang dia makan tadi malam sehingga dia akan ijin sakit hari ini.
Saat sampai di tempat kerja aku disambut oleh Martin di meja resepsionis. Aku akui dia agak seksi untuk seorang lelaki banci, ya itu benar, Martin itu banci.
Sangat lucu saat wanita melihatnya dan mengoceh tentang dirinya, mereka tidak tahu kalau Martin tidak tertarik dengan lawan jenis, hanya aku dan Jeni yang tahu rahasianya sejauh ini.
"Halo, Sayang," kata Martin sambil mengedipkan sebelah mata. Aku terkikik oleh lelucon kecilnya.
'Saya ingin bertemu dengan Anda sesegera mungkin di kantorku'
Setelah meletakkan tasku, aku merasa sangat gugup untuk bertemu dengan Bos baruku.
Bagaimana jika dia tidak menyukaiku?
Aku mencoba untuk menghilangkan rasa gugupku. Aku berhasil menuju pintu dan mengetuk ringan tiga kali suara serak berteriak di sisi lain pintu. "Masuk," katanya, aku mengambil napas dalam-dalam sebelum aku tahu, aku disambut oleh mata pria yang sama dari klub dan dari toko swalayan kemarin.
"K.. k ..k .. Kau bos baruku?" Aku berkata mundur beberapa langkah.
"-Tunggu. Kenzo Marco Julian, si playboy kayaitu ?!" Aku melanjutkan saat dia menatapku dengan tajam sebelum kembali ke pekerjaannya.
"Sepertinya kau sudah melakukan riset terlebih dahulu sebelum kau mengatakan hal itu, ya aku ingat kau wanita dari klub dan yang berada di swalayan kemarin. Sekarang semuanya sudah berakhir, ambil kertas-kertas itu di sana dan kemudian simpan untukku besok, itu saja. Isabel."
"Nona Isabel, Pak," Aku mengepal rahangku dengan erat. Karena dia sebagai bos ku, aku sudah bisa mencium pekerjaan ini, sampai jumpa.
Sesampainya aku di ruanganku, aku berlari ke arah tas ku mengambil ponselku dan mengirim pesan ke Jeni
'Coba tebak?' Kataku.
'Kau pasti bertemu pria yang kau panggil gila selama beberapa minggu terakhir ini, dia bos barumu sekarang!'
'Tunggu. Bagaimana kau tahu?'
'Aku sudah mengetahuinya kemarin, saat aku sedang menonton saluran gosip, fotonya muncul'
'Tapi kenapa kau tidak memberitahuku tentang itu ?!'
'Ups Aku lupa, maaf'
Telpon kantorku berdering, lampu merah kecil menyala, tandanya itu panggilan dari 'Kantor Bos'. Aduh!! Aku mengirim chat ke Jeni kalau aku akan meneleponnya setelah jam kerja selesai, aku menjawab panggilan dan mendengar Pak Kenzo berteriak pada seseorang dan memecat mereka, pria ini tak berperasaan dan kasar. Saluran lain menutup teleponnya sehingga membuat pria gila itu dan aku saling bicara.
"Nona Isabel, aku mau bicara denganmu sekarang," katanya dengan nada bisnisnya.
Aku menutup telepon dan berjalan ke arah ruangannya.
"Apa ada hal lain yang Anda ingin saya lakukan untukmu, Pak?" Kataku, memasang senyum palsu.
"Ah. Ya, buat janji untuk bertemu besok pukul 13:36" Dia berkata saat matanya terpaku pada laptop-nya, aku sesegera membuat janji dengan klien yang dia maksud.
"Apa itu saja?"
"Tidak, aku punya lebih banyak pekerjaan lagi untukmu," dia menunjuk ke arah tumpukan di meja yang ada di sudut, aku akan butuh waktu sepanjang malam untuk menyelesaikannya.
Aku menghela napas berat dan meraih tumpukan kertas itu, berjalan menuju pintu, aku bisa merasakan mata Pak Kenzo membakar punggungku.
Penjahat itu memberiku pekerjaan ekstra, sekarang aku harus menghabiskan sepanjang malam untuk menyelesaikan tumpukan kertas ini. Ini akan membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya, aku mengirim chat ke Jeni kalau aku akan lembur untuk menyelesaikan dokumen-dokumen ini, pada awalnya dia ingin membantu tapi dia memiliki kencan malam ini dengan seorang pria yang dia temui tiga bulan yang lalu. Haruskah aku menelepon Natan? mungkin tidak. Akhirnya setelah menghabiskan 5 jam mengerjakan kertas-kertas itu, aku bisa menyelesaikannya sekitar jam 12 siang, aku berlari dengan kertas-kertas di tanganku untuk mengantarnya ke ruangan Pak Kenzo sebelum aku berangkat. Aku membuka pintu aku melihat pria gila itu di depan laptopnya, aku meletakkan kertas kerja di mejanya dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun satu sama lain. Aku sampai di rumah dengan selamat dan sehat, aku sangat lelah, aku berlari ke atas ke kamarku melepaskan pakaian kerjaku dan dengan segera kubiarkan bantal dan kasurku mengambil alih tubuhku dalam sekejap.