
Kenzo POV
Kemarin,
"Kau tidak bisa masuk ke sana, nona." Aku mendengar seorang wanita menjerit. Pintu terbuka dengan paksa sehingga merobohkan beberapa fotoku yang ku gantung di dinding. Yang berdiri di hadapanku adalah seorang wanita dengan begitu banyak kejahatan dan kegelapan di dalam hatinya sehingga dia bisa membunuh siapa pun hanya dengan satu pandangan.
"Maaf, Pak. Dia datang tanpa-"
"Tidak apa-apa. Kembali lah bekerja, aku akan menanganinya. Terima kasih," kataku dan dia menatapku lalu meninggalkan kantorku.
"Bukankah aku sudah memberitahumu untuk membuat janji sebelum masuk ke kantorku, Vina?"
"Ya, tapi aku ingin melihatmu," dia tersenyum ketika aku memandangnya dari atas ke bawah.
"Apa maumu? Aku tidak punya banyak waktu untuk bermain permainanmu hari ini"
"Jangan begitu bapak CEO. Apa yang salah denganku, kenapa kau tidak ingin melihatku?"
"Kau orang terakhir yang ingin kulihat pagi ini."
Dia tersenyum jahat lalu berjalan menuju mejaku.
"Aduh. Itu menyakitkan sekali. Aku tahu kau merindukanku."
"Apa yang kita lakukan hanyalah kesalahan, dan kau tahu itu," kataku dengan dingin, wanita ini membuatku keluar dari pikiranku. Aku tidak pernah membenci seorang wanita sebanyak aku membencinya dalam hidupku.
"Awh. Aku mengerti apa yang terjadi di sini. Bapak CEO, kau sedang jatuh cinta, Siapa wanita yang beruntung itu?"
"Hubungan kita sudah berakhir, jika kau tidak punya hal lain yang ingin kau katakan, silahkan keluar! Pintu selalu terbuka," kataku, oh betapa enaknya memberitahunya. Vina menatapku saat amarah melintas di matanya, aku tahu bahwa aku sudah mulai berani dengannya.
"Aku tidak suka jika tidak dihargai, Kenzo," katanya, semakin dekat di belakang mejaku, lalu dia menarikku ke kursiku dan duduk di atasku.
"Vina, pergilah. Aku peringatkan kau sekarang!"
"Aku suka kalau kau marah itu sangat membuatku bersemangat," katanya, ada goyangan dengan gagang pintu sebelum aku bisa mendorongnya keluar dari diriku. Dia melemparkan bibir racunnya kearahku, aku bisa melihat Isabel berdiri di dekat pintu. Dia tampak sangat seksi dengan pakaiannya yang berwarna merah, aku suka cara dia berpakaian hari ini. Dia meninggalkan pintu seolah-olah tidak terjadi apa-apa, aku menoleh ke arah Vina yang sepertinya sedang menikmati pertunjukan kecil itu.
"Ups. Apa itu wanita beruntung yang mencuri hatimu?" katanya berjalan keluar pintu.
"Aku akan bermain denganmu lain kali, Bapak CEO" dia melambaikan tangan.
Aku sudah muak dengan permainannya.
Pagi Berikutnya..
"Halo, teman baikku" Sebuah suara laki-laki berkata di kamarku, membangunkanku dari tidurku, aku mendongak dan melihat teman kuliahku dari Universitas di kamarku dengan senyum cerah di wajahnya saat dia bersandar di pintu.
"Apa yang kau inginkan, Samuel?"
"Woah, kau menyebutkan nama lengkapku, apa kau baik-baik saja? Ada orang yang sedang tidak dalam mood yang baik pagi ini," dia terkekeh.
"Apa yang kau lakukan di kamarku? bagaimana kau bisa masuk ke rumahku? "kataku bangkit dari tempat tidur mengikutinya menuju dapurku.
"Ibumu yang mengajariku. Ngomong-ngomong, apa yang membuat temanku dalam suasana hati yang tidak baik sepagi ini?"
"Wanita itu akan menjadi kematianku suatu hari nanti. Aku tidak akan pernah mau memberitahumu."
"Kenapa tidak? Kecuali kalau.. Oh, selamat teman lamaku. Aku tidak pernah mengira kau akan jatuh cinta."
"sialan kau."
"Aku berutang 50 juta padanya," dia menghela nafas dalam-dalam saat aku menatapnya naik turun dengan keingintahuan.
"Dengan siapa kau bertaruh?" Aku berkata berusaha untuk tetap tenang.
"Uh ... yah ... aku khawatir aku tidak bisa memberitahumu. Tapi jika kau mau tau tanya ibumu," dia tersenyum.
"Dia akan menjadi kematianku," aku menggosok leherku.
"Tentu saja, aku lupa hari ulang tahunnya, Kau akan melihatku dan teman wanitaku nanti. Aku lupa bertanya bagaimana kabarnya juga dengan anakmu yang belum lahir itu?"
"Dia baik-baik saja, dan membuatku gila." dia menghela nafas dan aku tertawa. "Ngomong-ngomong, lebih baik aku pergi sebelum dia mengirim ancaman pembunuhan lebih banyak ke padaku," kata Sam meninggalkan rumahku.
Aku melihat arlojiku, mungkin aku sebaiknya ke rumah Isabel sekarang. Aku tidak pernah bisa menyingkirkan wanita ini dari pikiranku, setiap wanita yang menatapku atau mencari aku tidak lagi menganggapnya cantik atau menarik. Tidak ada yang bisa secantik Isabel dengan mata cokelat kemerahannya yang besar, bibir merah muda montok yang manis, rambut coklat panjang yang lembut, dan tubuh yang cantik, belum lagi bagian favoritku: pantat imutnya yang menggemaskan. Aku tidak tahan lagi, aku menginginkannya, aku membutuhkannya, tubuhku tidak bisa menunggu lebih lama lagi aku harus bergegas dan membuatnya tahu bahwa dia milikku. Aku tidak bisa berhenti berpikir tentang tubuh indahnya jika di bawah selimutku, kulitnya yang lembut, aroma parfum lavendernya, setiap kali aku dalam suasana hati yang buruk hanya dengan melihat wajahnya yang tersenyum akan membuat hariku lebih baik.
Seiring waktu berlalu, pikiranku terus tertuju padanya. Setelah aksi bodoh yang dilakukan Vina, aku tahu dia tidak ingin melihatku, tapi aku ingin dia mengerti bahwa bukan aku yang menciumnya, tapi dia yang menciumku. Aku bangkit dan berlari menuju mobilku, aku tahu ini sudah terlambat tapi aku ingin dia tahu yang sebenarnya bahkan jika dia tidak percaya padaku setidaknya aku harus mencoba. Aku mencapai rumahnya, berjalan menuju pintu masuk, aku bertemu seorang wanita ketika aku balik, itu Isabel dan penjahat itu, Mike sopirku dengan lengan di pinggangnya.
Penjahat kecil itu berpikir ini hanyalah permainan. Yah aku akan mengajarinya untuk tidak bermain dengan seorang yang sudah pro.
Aku mengawasinya dengan marah, matanya berubah karena marah. Aku benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium bibir montok pink mungil yang menggemaskan itu, melihat wajahnya berubah merah padam saat dia berdiri di sana tanpa berkata-kata. Aku merasa terhormat bahwa aku hanya memiliki efek pada dirinya, sekarang setelah aku menciumnya, tubuhku tidak puas. Tubuhku menginginkan lebih dari itu dan aku tahu dia merasakan hal yang sama juga dengan cara dia bereaksi terhadap ciumanku, saat aku pergi, aku melihat dia masih di tempat yang sama di posisi yang sama, ku pikir aku sudah berhasil membuatnya merasa besar kepala.
Aku akan memintanya datang ke pesta makan malam ulang tahun itu besok pagi di tempat kerja atau haruskah aku mengiriminya pesan sekarang?
Dalam perjalanan menuju ke rumahku, aku mendapat telepon dari ibuku, aku belum mendengar kabar darinya sejak pertemuan terakhir di acara amal. Apa yang dia inginkan sekarang?
"Halo, anakku."
"Senang mendengar suaramu ibu."
"Bagaimana kabarmu dengan Isabel?"
"Kenapa?"
"Hey apa bagus kalau ibu bertanya tentangnya? Dan juga kamu?"
"Ya, karena aku tahu ibu biasanya marah, ibu tidak pernah bertanya tentang sekretaris pribadiku yang lain di Kantor, dan sekarang kenapa? Apa wanita ini sangat menarik bagimu?"
"Aku khawatir kau sudah tahu pertanyaan itu sayangku, toh apa kau akan menghadiri ulang tahun istri Samuel besok?"
"Ya tentu saja bu."
"Apa kau akan membawa teman kencan? Seorang wanita muda yang baik kali ini lebih berkelas, perilaku yang baik dan tidak berpakaian terbuka, seperti gadis-gadis yang merusak ulang tahunnya, terakhir kalinya."
"Aku tahu, bu. Aku sudah minta maaf pada Brenda seribu kali dan sudah memberinya hadiah sebagai permintaan maaf atas perilaku vina"
"Baiklah, sampai jumpa besok. Ibu sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu dan Isabel besok malam, sampai jumpa" katanya menutup telepon.
Aku melihat nomor pada kontak ponselku dan berhenti saat aku melihat nama Isabel dengan tulisan tebal.
'Bersiaplah besok sekitar pukul 6, kita diundang ke pesta ulang tahun ostri temanku. Aku akan menjemputmu jam 7 pas'
Aku menunggu selama 15 menit sebelum dia membalas sms ku
'Oke'.
"Bisakah kita bicarakan hari ini?"
"Apa yang ingin kau bicarakan, Pak?"
"Tolong Isabel, panggil aku dengan namaku saja. Kau membuatku terdengar tua"
"Ok jika itu yang kamu mau, Kenzo. Apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Terima kasih. Apa yang kamu lihat kemarin, tidak seperti yang kamu kira."
"Ini bukan tempatku dimana aku bisa mencampuri kehidupan pribadimu Kenzo, yang pernah terjadi kemarin, itu bukan urusanku."
"Tolong, Isabel. Biarkan aku menjelaskannya."
"Baiklah, kita bicara lagi besok, Kenzo. Selamat malam," dia mengirim sms terakhir, aku tahu percakapan ini sangat menyakitinya, tapi aku tidak akan berhenti berusaha membuatnya percaya padaku.
Dan besok kita akan membicarakan hal ini bahkan jika dia percaya padaku atau tidak, yang harus dia lakukan hanyalah mendengarkan.