The Darkness University: Breathing In Two Realms 3

The Darkness University: Breathing In Two Realms 3
Chapter.9 – Perdebatan



Malam buruk itu sudah berlalu. Malam itu Reihan sadarkan diri pada saat beberapa jam setelah kejadian itu. Untuk jaga jaga ka Aditya pun menghisap energi ketakutan milik Reihan agar dia melupakan apa yang telah ia lihat semalam.


" Kami pamit ya semuanya! Terimakasih sudah menerima kami dengan baik di sini. "


Ucap Reihan yang sebelum dia hendak menaiki sepeda motor yang di bawa oleh Darius.


" Iya sama-sama! Lain kali main main kemari lagi ya! "


Jawab ka Amara dengan ramah.


" Iya kak, nanti kalau ada waktu kami datang lagi. Kami pamit ya! "


Sambung Darius menjawab ka Amara dan kemudian Darius pun berpamitan setelah itu mereka pun pergi meninggalkan yayasan ini.


" Adik adik! Kita mau liburan kemana? "


Tanya ka Amara kepada kami dan kemudian kami pun berpikir dan merekomendasikan berbagai macam tempat untuk berlibur sampai akhirnya kami pun menyepakati untuk berlibur ke Alas Sirno saja untuk bertemu dengan ibu pemilik villa merah dan sekaligus kami akan mengunjungi makam makam Eyang Darmo, Bu Sofia dan yang lainnya di sana.


Kemudian kami pun bersiap siap untuk pergi ke sana dan setelah kami selesai bersiap siap kami pun langsung saja berangkat ke sana dengan mengendarai bus yayasan.


" Bus ini sangat luas ya kak! Gita sangat rindu dengan keramaian. "


Ucap Gita kepada ka Amara ketika kami berada di perjalanan menuju ke Alas Sirno.


" Hm.. iya nih tapi nanti setelah liburan yayasan kita akan kembali ramai kok! "


Jawab ka Amara sambil mengusap kepala Gita.


" Apa itu benar ka? "


Tanya Gita dengan harapan penuh kepadanya.


" Iya, benar! "


Jawab ka Amara dengan singkat.


" Hahaha! Yes! "


Gita pun tertawa bahagia setelah mendengar jawaban itu.


" Apakah Kaka sudah mulai sepakat untuk membuka kos-kosan di yayasan? "


Aku bertanya kepada ka Amara setelah dia bilang seperti itu kepada Gita. Aku ingat kalau kemarin kami saling bertukar pikiran tentang bagaimana caranya agar membuat yayasan rumah batin kembali ramai dan waktu itu aku menyarankan agar yayasan rumah batin dijadikan kos-kosan saja.


" Iya bener, Kaka sudah sepakat untuk menjadikan rumah batin sebagai kos-kosan. "


Jawab ka Amara sambil tersenyum.


" Apa maksudnya Ra? "


Tanya ka Aditya dengan memasang tampang yang tidak senang setelah mendengar jawaban dari ka Amara tadi.


" Sudah dua tahun lamanya yayasan kita sunyi, tak ada salahnya kita membuka kos-kosan saja kan? "


Jelas ka Amara dengan tulus kepada ka Aditya.


" Baiklah kalau begitu! Ini berarti kamu sudah mendapatkan beberapa anak indigo kan? "


Ujar ka Aditya menyetujuinya. Namun terselip ancaman dalam ucapannya, aku tau apa yang dipikirkan oleh ka Aditya.


" Tidak, siapa yang bilang begitu? Kita akan buka kos-kosan untuk umum Aditya! "


Ka Amara kembali menjawabnya dengan lembut.


" Ah! Tidak bisa begitu! "


Ka Aditya kesal dan tidak menyetujuinya.


" Ciiittt.... "


Dia menginjak rem sehingga membuat bus berhenti mendadak.


" Kamu gila Aditya! Kalau kecelakaan gimana? "


Ka Amara memarahinya dengan semarah-marahnya dan kemudian ka Aditya pun melihat ka Amara dengan tatapan mata yang sangat tajam.


" Yayasan rumah batin hanyalah bagi orang yang memiliki mata batin saja! "


Tegas ka Aditya kepada ka Amara.


Ka Aditya terlihat sangat tidak terima dengan rencana ka Amara untuk membuka kos-kosan di yayasan rumah batin.


Ka Amara membentak ka Aditya dengan sangat keras sehingga membuat Gita ketakutan.


" Hanya kamu bilang? Itu.... Eh! Sudahlah lupakan saja "


Ka Aditya ingin melanjutkan perdebatan namun karena melihat Gita yang ketakutan dia pun melupakan perdebatan ini dan melanjutkan perjalanan menuju ke Alas Sirno.


" Mari kita pindah kebelakang saja! "


Ka Amara mengajak Gita untuk pindah dari samping ka Aditya dan duduk di dua bangku kosong yang ada di sebelah Riana. Ka Amara terlihat kesal dengan ka Aditya dan setelah itu perjalanan kami menuju ke Alas Sirno pun menjadi tegang dan hening


Aku jadi merasa bersalah karena perdebatan mereka itu di mulai setelah aku bertanya tadi.


" Ka.. "


Aku hendak memanggil ka Amara untuk meminta maaf namun aku tidak jadi karena setelah aku lihat ka Amara sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Dia masih terlihat sangat marah.


Kami benar benar hening di sepanjang perjalanan hingga akhirnya kami pun mengantuk dan akhirnya kami semua pun tidur! Kecuali ka Aditya yang menyetir bus.


" Tin... Tin... Tin... "


Ka Aditya menekan klakson dengan maksud untuk membangunkan kami, dia masih terlihat kesal mungkin karena itu dia tidak membangunkan kami secara langsung.


Ketika kami bangun dan membuka mata ternyata kami telah sampai di Villa merah.


" Apa maksudnya tekan klakson seperti itu? "


Tanya ka Amara dengan kesal namun ka Aditya tidak menggubris perkataannya sehingga membuat dirinya semakin kesal kepada ka Aditya.


" Ayo adik adik kita turun! "


Ajak ka Amara dan kemudian kami pun langsung ikut turun bersamanya lalu setelah kami turun ka Aditya pun langsung pergi untuk mengantarkan bus ke parkiran.


" Hai anak anak! Akhirnya kalian datang juga! Mari masuk! "


Sambut pegawai villa merah dan kemudian dia pun mengajak kami untuk masuk kedalam.


" Wah di sini sekarang sudah ramai ya! "


Ujar ku berdecak kagum melihat keramaian yang damai di lingkungan sekitar yang dulunya sangat sunyi dan lumayan menyeramkan.


" Iya ini semua berkat kalian yang sudah membersihkannya dari gangguan alam gaib! "


Saut pegawai yang mendampingi kami sehingga membuat kami sedikit merasa tinggi hati.


" Ah! Itu memang sudah menjadi kewajiban kami! Jangan memuji kami seperti itu. "


Ucap Riana dengan tersipu malu.


" Baik. "


Jawab pegawai itu dan kemudian dia pun mengantar kami untuk menemui ibu pemilik villa merah ini.


Menemui ibu pemilik villa merah ini sudah menjadi kewajiban bagi kami setiap kami datang kemari. Di ruangan ibu pemilik villa merah ini kami akan disambut dengan sangat meriah dengan aneka macam hidangan yang sangat lezat. Di Villa merah ini kami di perlakukan dengan sangat istimewa sehingga bagi kami Villa merah ini adalah rumah sendiri dan ibu pemilik villa merah ini juga sudah seperti ibu kandung kami sendiri.


" Selamat datang anak anak! "


Sambut ibu pemilik villa kepada kami dan kemudian dia pun memeluk kami satu persatu.


" Perjalanan yang panjang pasti membuat kalian lapar! Silahkan makan dulu! "


Ucap ibu itu dan kemudian kami pun langsung di persilahkan untuk menyantap hidangan yang sudah di sediakan khusus untuk kami.


" Asik! Ada daging sapi BBQ! "


Ucap Gita dengan riang sehingga membuat sang ibu pemilik villa merah ini tersenyum.


" Oh iya, dimana Aditya? "


Tanya ibu itu kepada ka Amara setelah dia menyadari bahwa ada satu bangku yang masih kosong.


" Dia sedang memarkirkan bus Bu. "


Jawab ka Amara dengan senyumannya.


" Oh begitu! "


Ucap sang ibu pemilik villa dan kemudian dia pun mempersilahkan kami untuk makan setelah itu dia akan memberikan hadiah kepada kami karena kami sudah mendapatkan juara di sekolah.


– Bersambung –