The Darkness University: Breathing In Two Realms 3

The Darkness University: Breathing In Two Realms 3
Chapter. 25 – Nyawa Ka Adit



Satu hari sudah aku lalui bersama mereka dengan menghabiskan waktu untuk menyaksikan film-film seru yang ada di laptop Klara. Sebagian besar film yang kami saksikan adalah Drama Korea dan juga film romantis yang religius.


Klara sangat pandai dalam memilih film karena semua yang dia pilih adalah film film yang sangat menyenangkan. Kami menyaksikan film-film itu dengan tawa, tangisan, ketegangan dan bahkan terkadang semuanya tercampur menjadi satu.


Kami menyaksikan banyak film tanpa henti hingga akhirnya waktu tertidur pun laptop itu masih hidup. Ketika sudah beberapa saat kami tertidur, aku pun terbangun dan mematikan laptop itu.


Kemudian aku pun tiba-tiba merasa haus lalu aku bangun dan pergi ke dapur untuk meneguk segelas air namun langkahku terhenti ketika melihat ka Adit yang masih terjaga di ruang tamu. Dia masih belum tidur, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.


Malam itu pukul satu kosong-kosong dan kemudian aku pun memutuskan untuk minum ke dapur terlebih dahulu baru aku akan menghampirinya sambil membawakannya minum.


" Currrr.. "


Setelah mengambil gelas aku meletakkannya di dispenser dan menekan tombol dispenser itu untuk mengisi gelasku. Setelah penuh, aku berhenti menekannya lalu meneguk air itu sampai habis.


" Currr... "


Aku kembali menekan tombol dispenser dan meletakkan gelas lain disitu. Aku mengisi air itu hingga penuh dan kemudian setelah penuh aku pun berhenti menekannya lalu membawakan segelas air putih ini untuk ka Adit.


Aku berjalan dengan perlahan hingga akhirnya aku sampai di ruang tamu dan meletakkan segelas air putih itu ke meja.


" Kaka mikirin apa? Kok belum tidur? "


Tanyaku kepadanya dan kemudian aku pun duduk berhadapan dengannya di sofa ruang tamu.


" Nggak mikirin apa-apa kok Rin, kamu sendiri kenapa belum tidur? "


Ka Adit menatapku dengan datar dan kemudian kembali bertanya kepadaku.


" Sebenarnya aku udah tidur kak, cuma tadi aku terbangun karena haus pingin minum. "


Jawabku sambil tersenyum lalu bersandar ke sofa.


Ka Adit pun meneguk segelas air putih yang kubawa sampai habis dan kemudian dia pun meletakkan kembali gelas itu setelah dia selesai minum.


Dia terlihat pucat dan wajahnya sangat datar, malam itu aku mengira kalau dia sedang sakit dan kemudian aku pun langsung bertanya kepadanya.


" ka! Kaka sakit ya? Muka Kaka pucat banget! "


Ucapku dengan khawatir.


Kemudian dia pun menatapku dengan tatapan kosong sehingga membuatku semakin khawatir kalau dia sedang sakit parah.


" Ka kok diam aja? "


Tanyaku dengan panik dan kemudian aku pun menghampirinya dan mengecek keningnya.


" Ka, Kaka dingin banget! Aku telepon dokter ya kak. "


Ucap dengan panik dan kemudian aku pun hendak bangun dan melangkah menuju lemari hias untuk menghubungi dokter melalui telepon rumah. Tetapi ka Adit malah menahanku, dia memegang tangan kananku dan aku merasakan bahwa tangannya sangatlah.


" Ada apa kak? Kita harus telpon dokter supaya keadaan kaka nggak memburuk kak. "


Ucap dengan khawatir lalu aku melepaskan tangannya dari tangan kananku kemudian aku kembali berjalan ke lemari hias.


" Airin! "


Dengan lemah ka Adit memanggil namaku dan membuat aku menghentikan langkahku kemudian berbalik menatapnya


" Ada apa lagi ka? "


Tanyaku kepadanya masih dengan perasaan khawatir.


" Kaka ingin berpesan kepadamu. "


Ujar ka Adit dengan lirih seakan dia akan pergi meninggalkan dunia.


" Jangan macam-macam ka, gak ada pesan-pesanan! Airin akan telpon dokter buat ngobatin kaka. "


Aku panik dan kemudian aku pun langsung mengangkat gagang telepon dan mulai menekan nomor dokter langganan kami sejak dulu.


" Airin kamu tidak perlu menelpon dokter dek, tidak ada gunanya lagi! "


Ucap ka Adit lalu dia pun menghampiriku dengan langkah yang tertatih.


Aku pun meletakkan telepon itu lalu berbalik badan untuk menatapnya. Dia tersenyum kepadaku dengan diiringi aliran air mata.


" Airin, maafkan Kaka ya! Kaka gak bisa membuat kalian berdua akur. "


" Sekali lagi Kaka minta maaf karena tidak bisa membuat Haura berhenti menyalahkan mu. "


Dia terlihat sangat sedih dan kemudian dia pun memelukku. Aku pun mulai merasakan ada yang janggal dengan perkataan ka Adit di malam itu. Aku aku merasa kalau aku sedang berbicara dengan arwah.


" Ka apa yang Kaka lakukan? "


Disitu aku mulai menangis karena takut kalau aku benar-benar sedang berbicara dengan arwahnya.


" Maaf ya dek, Kaka nggak sanggup melihat kelakuan Haura kepadamu. Kaka sangat lemah! Kaka harap setelah Kaka pergi Haura bisa berhenti menyalahkan mu dan menjadikan kamu sebagai tanggung jawabnya. "


Mendengar perkataannya itu aku terkejut dan langsung mendorongnya. Aku sangat merasa pusing dan juga sedih.


" Kaka gak boleh bicara seperti itu! Kalau Kaka pergi tidak Kaka hanya membuat ka Haura semakin membenciku ka! "


Aku memarahinya dengan air mata yang mulai membasahi pipiku.


" Kaka menyesal tapi penyesalan ini sudah terlambat. Jaga dirimu baik-baik ya, semoga Haura bisa berhenti membencimu. "


Ucap ka Adit dengan dengan raut wajah yang penuh kesedihan lalu dia pun menghilang bagaikan cahaya senter yang dimatikan.


Aku memukuli kepalaku untuk menyadarkan diri jika ternyata aku sedang bermimpi namun aku pun tak kunjung bangun dan berati kejadian ini nyata. Ketika itu aku merasa sangat stres dan sangat membenci diriku sendiri.


" Seharusnya aku tidak pulang agar ini semua tidak terjadi. "


Pikirku waktu itu.


Kemudian dengan di selimuti kesedihan, aku pun berlari menuju kamar ka Adit untuk memeriksa apakah jasadnya ada di sana.


" Krek. "


Sesampainya di depan kamar ka Adit aku pun langsung membuka pintu kamar dan melihat ka Adit tentang di lantai dengan mulut yang berbuih.


" Ka Adit!!! "


Aku teriak histeris lalu langsung menghampirinya dan memeluknya dengan erat. Aku merasa sangat terpukul dan juga merasa kalau aku kehilangan separuh hidupku untuk yang kedua kalinya. Malam itu adalah malam yang terburuk di dalam hidupku.


" Astaga Airin. "


Temanku datang tak lama setelah aku berteriak sangat keras. Mereka menghampiriku lalu berusaha untuk menenangkanku.


" Apa yang terjadi? "


Tanya Riana dengan panik dan kemudian aku pun hanya bilang kalau ka Adit bunuh diri karena waktu itu aku tidak bisa berkata banyak. Aku benar-benar merasa sangat sedih


" Coba aku periksa denyut nadinya. "


Ucap Klara ambil alih untuk memeriksa denyut nadi ka Adit. Aku tidak kepikiran sampai kesitu.


" Airin, denyut Kaka mu masih ada! Masih ada kesempatan bagi kita untuk menyelamatkannya. "


Ucap Klara dengan serius dan kemudian dia tersenyum kepadaku.


Seketika aku berhenti menangis dan merasa sangat bersyukur karena masih ada kemungkinan untuk ka Adit bisa di selamatkan.


" Siapa yang bisa nyetir mobil? "


Tanyaku kepada mereka berdua.


" Aku! "


Jawab Klara dengan spontan dan kemudian aku mengajak mereka untuk mengantar ka Adit malam itu juga menggunakan mobil ka Adit yang kuncinya kami dapat di atas meja di kamarnya.


Sesampainya di garasi kami pun langsung masuk dan melajukan mobil dengan secepat mungkin. Beruntung saat di jalan raya sepi jadi kami bisa melaju lebih cepat lagi.


Kami sampai di rumah sakit dengan menempuh waktu lima menit saja. Begitu sampai di rumah sakit, Riana pun keluar dan melapor bahwa ada pasien yang sangat darurat.


Tak lama setelah itu perawat pun datang dengan membawa hospital bad ( Ranjang rumah sakit ) dan langsung memindahkan ka Adit ke atas ranjang itu.


Kami mengikuti perawat yang membawa ka Adit dan kami pun akhirnya sampai di ruangan UGD. Ka Adit di bawa kedalam dan kami pun di suruh untuk menunggu diluar.


Belum ada konfirmasi yang pasti dari para perawat dan dokter yang memeriksa ka Adit


Kami tidak tidur semalaman dan terus menantikan kabar dari perawat maupun dokter yang memeriksa ka Adit. Belum ada yang keluar dari ruangan itu selama beberapa jam yang sudah berlalu. Aku harap mereka berhasil menyelamatkan nyawa ka Adit.


–Bersambung–