
" Rin! Bangun Rin! Ayo makan malam. "
Suara Riana terdengar samar-samar dan kemudian aku pun terbangun dari tidurku.
" Wah sudah malam ya? Jam berapa sekarang? "
Tanyaku kepada Riana dan kemudian dia pun menjawab kalau sekarang sudah jam sembilan belas malam atau sama dengan jam tujuh malam.
Tak terasa, cukup lama aku terlelap dalam tidurku dan berada di Dimensi alam bawah sadar. Untung saja Riana membangunkan aku, jika tidak mungkin aku akan bangun karena teror si Titan di jam dua belas malam.
" Cuci muka dulu sana Rin! "
Ucap Klara kepadaku lalu aku pun langsung bangun dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukaku. Kemudian aku kembali berkumpul bersama mereka untuk makan malam.
" Rin malam ini aku nggak bisa ikut berjaga soalnya aku merasa sangat mengantuk. "
Ucap Klara sambil menguap lalu membagikan nasi kotak kepadaku dan juga Riana.
" Oh iya gak papa kok! Biar aku yang berjaga kalian beristirahatlah. "
Jawabku sambil membuka nasi kotaku lalu kami pun makan bersama-sama.
" Eee' "
Klara bersendawa setelah selesai makan.
" Iss... Gak sopan tau.. "
Ucap Riana dengan tidak nyaman.
" Ups! Hehe.. gak sengaja Riana. "
Jawab Klara yang tak merasa bersalah sambil tertawa menggelitik.
" Aduh kenyang banget! Aku langsung tidur aja ya. "
Ucap Klara lalu dia pun langsung berjalan ke sofa setelah meneguk segelas air putih.
" Oh iya Rin, tadi ada suster datang dan bilang nanti sekitar jam sembilan malam kamu panggil dokter Eric untuk mengecek keadaan kakakmu. "
Ucap Klara sebelum dia merebahkan dirinya ke atas sofa.
" Aku panggil ke mana? "
Tanyaku kepadanya lalu dia pun menjawab.
" Panggil aja keruangan pribadinya di dekat tempat pendaftaran pasien. "
Kemudian Klara pun langsung menutup matanya dan langsung mengeluarkan suara dengkuran halus.
" Selesai makan langsung tidur gak baik tau! "
Ucap Riana sambil memasukkan kotak bekas kami makan kedalam kantong plastik.
" Itu mitos. "
Jawab Klara sambil tetap menutup matanya. Dia menjawab dengan bodoh amat.
" Mitos apanya? "
Tanya Riana dengan nada yang sedikit menekan.
" Ya itu memang mitos! Pasti alasan kamu bilang kalau setelah makan langsung tidur itu gak baik karena kamu pikir aku bisa berubah jadi kerbau kan kalau tidur setelah makan! Alah.. basi banget itu, mitos kuno. "
Jawab Klara dengan pedenya.
" Sok tau kamu! Aku aja gak tentang mitos kalau orang tidur setelah makan bakalan jadi kerbau. "
Jawab Riana menolak pernyataan Klara tadi.
" Terus apa alasannya kamu bilang tidur setelah makan itu tidak baik? "
Klara bangun dan duduk lalu bertanya kepada Riana dengan sorot mata yang usil.
" Huh! Kamu benar-benar gak tau atau pura pura gak tau kalau setelah makan sebaiknya kita tidak langsung tidur atau berbaring karena resikonya adalah diabetes atau kamu bisa menjadi gemuk! Setelah makan ada baiknya kamu menunggu sepuluh menit dulu baru deh kamu bisa berbaring bahkan juga tidur sesuka hatimu. "
Jelas Riana dengan rinci.
Aku jarang melihatnya seperti ini bahkan sepertinya ini kali pertama aku melihat kecerdasan Riana walaupun hanya menjelaskan hal yang sepele namun dengan begitu Riana terlihat cerdas dan aktif.
" Oh gitu? Aku kira gara gara kamu indigo jadi kamu mau monoton dengan mitos tetua dulu. "
Ucap Klara dengan polos dan sedikit menyindir untuk menggoda Riana.
Ucap Riana dengan kesal dan juga geram lalu dia pun pergi ke dekat pintu untuk membuang kotak nasi ke tong sampah.
" Ya udah deh sambil tunggu sepuluh menit aku nonton drama Korea dulu deh biar gak boring. "
Ucap Klara sambil tersenyum kemudian dia pun membuka laptopnya dan memutar film favoritnya. Sedangkan aku dan Riana termenung tidak jelas duduk di atas karpet yang kami bawa dari rumahku pada saat mengambil kebutuhan kemarin.
Kami berhenti termenung setelah sepuluh menit berlalu kemudian Klara pun langsung menutup laptopnya dan tidur.
" Sepertinya dia sangat lelah apakah kamu tidak lelah tuan putri? "
Ucapku ketika melihat Klara tidur lalu aku bertanya kepada Riana dengan ala-ala percakapan film kolosal.
" Saya sudah beristirahat cukup jadi kini saya tidak terlalu lelah Tinkerbell. "
Jawab Riana yang juga berhalusinasi seperti seorang putri.
" Et dah receh amat ha.. ha.. ha.. "
Ucap kami dengan kompak lalu kami mentertawakan diri sendiri.
" Huh! Ngomong ngomong aku mengalami kejadian aneh lagi nih. "
Ucapku kepada Riana berniat menceritakan tentang Dimensi alam bawah sadar.
" Kejadian apa Rin? Coba ceritakan! "
Ucap Riana dengan penasaran lalu aku pun langsung menceritakannya kepada Riana.
Aku menceritakan tentang Dimensi alam bawah sadar kepadanya dengan detail dan setelah mendengar semua cerita itu dia pun menjadi penasaran dan kemudian menyarankan agar aku menanyakan hal ini kepada ka Amara atau kepada ka Aditya namun aku menolak saran itu untuk sementara karena aku tidak mau merepotkan ka Amara maupun ka Aditya.
Kami terus bercerita untuk menyingkirkan rasa bosan hingga akhirnya tiba saatnya untuk kami pergi memanggil dokter yang bernama Eric pada saat jam sembilan malam.
Pada awalnya aku berpikir akan memanggilnya bersama Riana akan tetapi setelah dipikir-pikir harus ada satu orang yang tetap disini untuk menjaga-jaga dan setelah diputuskan akhirnya akulah yang tinggal dan Riana pergi untuk memanggil dokter itu.
Dia pun pergi dan aku menunggunya di sini dengan waktu yang cukup lama sehingga membuat aku hampir bosan. Setelah delapan menit berlalu, dia kembali dengan membawa dokter tampan keruangan ini.
" Selamat malam! "
Ucap dokter itu ketika masuk ke dalam ruangan ini.
Aku pun langsung berdiri dan mempersilahkan dokter itu untuk mengontrol keadaan ka Adit.
" Wus.. "
Pada saat dokter itu melewati aku aura negatif terasa begitu pekat dan membuat aku agak kaget.
" Kamu kenapa? "
Tanya dokter itu kepadaku setelah dia melihat ekspresi kaget dariku.
" Enggak.. gak papa Dok. "
Jawabku sambil tersenyum dan kemudian aku pun keluar dari ruangan itu karena aku merasakan ada sesuatu yang ganjil dari dokter Eric.
Aku duduk di kursi panjang yang ada di koridor lalu Riana pun keluar dan duduk di sampingku.
" Ada apa Rin? "
Tanya Riana dengan penasaran kepadaku lalu aku pun berbisik kepada.
" Ada yang aneh, kita bahas nanti saja. "
Riana pun mengangguk, kemudian kami pun menunggu sampai dokter itu selesai mengontrol keadaan ka Adit.
" Bagaimana dok? "
Tanyaku kepada dokter Eric setelah dia keluar dari ruangan ka Adit.
" Saudara Adit sudah membaik keadaannya, kita hanya tinggal menunggu dia sadar dari komanya saja. "
Jawabnya dengan ramah namun entah mengapa aura negatifnya terus menggangguku.
" Oh begitu ya Dok, terimakasih ya Dok. "
Jawabku sambil tersenyum dan kemudian dokter itu pun tersenyum dan pamit untuk kembali ke ruangannya.
" Dokter itu memiliki aura negatif yang sangat pekat. "
Ucapku kepada Riana memberitahunya tentang hal aneh yang aku maksud.
–Bersambung–