
Akhirnya Dokter dan para perawat keluar dari dalam ruangan ka Adit lalu menghampiri kami yang terduduk panik menunggu kabar terbaik dari mereka.
" Apakah kalian wali dari pasien yang bernama Adit? "
Tanya dokter itu kepada kami.
Kemudian kami pun berdiri dan mengatakan bahwa benar kami adalah walinya. Dokter itu bilang kalau ka Adit berhasil diselamatkan namun dia mengalami koma karena kami agak terlambat untuk membawanya kemari.
Kata dokter kami sudah boleh masuk untuk melihat keadaan ka Adit lalu dokter pun pergi dan kami langsung masuk untuk melihat ka Adit.
" Kalian pasti ngantuk berat, silahkan tidur di sofa. "
Ucapku kepada Riana dan klara saat melihat ada sofa di dalam ruangan ini.
" Ya udah kami tidur dulu ya, kalau kamu mengantuk bangunkan kami agar bisa bergantian menjaga kakamu. "
Ucap Klara lalu dia pun duduk di sofa dan langsung tidur di sofa itu. Kemudian Riana yang terlihat mengantuk berat juga menyusul Klara untuk tidur bersama di sofa.
Sejenak aku berpikir bahwa aku sangat beruntung bisa berkenalan dengan teman sebaik mereka yang ada di saat aku sedang bimbang seperti kemarin dan juga saat ini.
Tak sengaja aku melihat ada selimut di kursi yang ada di samping ranjang ka Adit lalu aku pergi mengambilnya lalu menyelimuti mereka berdua yang sepertinya sudah berada di alam mimpi.
Kemudian aku duduk di kursi yang ada di samping ranjang ka Adit, aku meraih tangannya lalu memegangnya dengan kedua tanganku.
Tangannya terasa sangat dingin lalu aku menggosok-gosok tangannya dengan lembut agar tangannya bisa terasa lebih hangat lagi.
Aku menatap ke wajah ka Adit dengan penuh pertimbangan. Aku berpikir apa jadinya kalau dia benar benar pergi untuk selamanya.
Aku sangat takut kehilangannya karena selain Papa dan Mama hanya dialah satu-satunya keluargaku yang benar-benar sayang kepadaku. Jika dia pergi aku juga harus ikut bersamanya karena dialah alasan mengapa aku masih mau mempertahankan hidupku setelah kepergian Papa dan Mama dulu.
" Konyol! "
Ucapku dengan kesal kepadanya lalu aku menangis sambil menggenggam tangannya.
Dia benar-benar konyol hanya karena masalah di antara aku dan Haura dia berniat mengakhiri hidupnya.
Aku menangis melepaskan semua kesedihanku atas kekhawatiran terhadap keadaan ka Adit sebelumnya.
Aku menundukkan kepalaku untuk melepaskan seluruh kekhawatiran yang ada lalu setelah aku merasa sedikit lebih tenang aku pun mengangkat kepalaku.
" Ini dimana? Ka Adit mana? "
Seketika aku terkejut setelah mengangkat kepalaku karena tiba-tiba saja aku berada di ruangan sepi. ka Adit menghilang dari ranjangnya namun di ruangan ini aku masih melihat Klara dan Riana yang tertidur di sofa. Aku sangat bingung dan merasa kalau aku sedang bermimpi.
Aku menghampiri Klara dan Riana untuk membangunkan mereka dan bilang kepada mereka bahwa ka Adit menghilang namun mereka tidak sedikitpun menggubris.
Aku panik lalu aku pergi keluar ruangan untuk melapor kepada pihak rumah sakit bahwa ka Adit menghilang dari ruangannya.
Dengan bergegas aku pergi untuk melapor dan terkadang aku bertanya kepada orang orang yang kutemui ketika aku sedang dalam perjalanan untuk melapor namun semuanya tidak menggubris ku seakan mereka tidak bisa melihatku.
Aku pun menjadi sangat bingung dan aku mulai berhenti panik untuk menyadari dimanakah aku berada saat ini.
Aku pun memutuskan untuk duduk di kursi panjang dan aku memutuskan untuk tidak jadi melapor karena sepertinya akan percuma.
Sekali lagi aku berpikir apakah aku sedang bermimpi. Aku jadi merasa pusing karena sepertinya tidak ada orang yang menyadari keberadaan ku. Aku benar-benar berpikir keras apa yang terjadi denganku saat ini.
" Apakah aku mati mendadak? "
Pikiranku dengan konyol lalu aku pun mencoba untuk berkomunikasi dengan orang orang yang lewat dihadapanku namun tetap sama saja. Mereka tidak bisa melihatku dan bahkan juga mendengar suaraku walaupun aku berteriak di telinga mereka tetap tidak ada sedikitpun respon dari mereka.
" Ah bodoh amat. "
Aku tidak mau ambil pusing lalu memutuskan untuk kembali ke ruangan ka Adit. Aku harap ini hanya mimpi dan tak lama lagi aku akan terbangun dan semuanya kembali normal.
" Ha Ha Ha Ha. "
Tiba tiba saja ada anak kecil yang tertawa dan setelah aku lihat sepertinya dia mentertawakan diriku.
" Dek kamu bisa lihat Kaka? "
Dengan penasaran aku bertanya kepadanya lalu dia pun hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
" Kok bisa sih? Padahal kebanyakan orang gak bisa lihat Kaka loh! "
Ucap dengan bingung kepadanya lalu dia pun tersenyum dan memberikan isyarat Kalau dia ingin berbisik. Kemudian aku pun mendengarkannya.
" Kita sama ka! Gak ada yang bisa lihat kita. "
Jelasnya kepadaku lalu aku pun bertanya kepadanya.
" Maksudnya? "
Aku bertanya dengan bingung dan dia hanya menggelengkan kepalanya dan berkata kalau dia juga tidak mengerti namun katanya bukan cuma aku dan dia yang mengalami ini. Banyak yang mengalaminya.
" Emangnya ada siapa aja? "
Tanyaku dengan penasaran lalu dia pun menunjuk ke arah bangsal yang terlihat gelap dan berkata.
" Mereka juga seperti kita ka. "
Ucapnya dengan polos.
Aku melihat banyak orang yang mengintai aku dan anak kecil ini dari bangsal yang rumayan gelap itu. Tak semua dari mereka yang terlihat normal ada juga terlihat menyeramkan.
Mereka yang terlihat normal tidak terlihat berbahaya namun mereka yang menyeramkan itu seperti tersirat niat buruk dari tatapan mereka itu.
" Ayo bergabung bersama mereka ka. "
Anak kecil ini menarik tanganku dan membawaku ke bangsal yang gelap itu.
Tanpa sepatah kata aku ikut saja bersamanya dan pada saat aku sudah berada di bangsal itu semua orang yang sama denganku pun menyapaku dengan ramah begitu juga dengan mereka yang terlihat tidak normal. Aku salah menilai mereka ternyata mereka tak seburuk yang kelihatannya.
" Kenapa kamu bisa berada dimensi ini? "
Tanya seorang gadis dari mereka kepadaku.
Mendengar pertanyaan itu aku pun bingung ingin menjawab apa karena aku juga tidak tau mengapa aku bisa berada di sini.
" Aku juga tidak tau, emangnya ini dimensi apa? "
Jawabku lalu kembali melontarkan pertanyaan kepadanya.
" Ini dimensi alam bawah sadar, di dimensi ini kebanyakan dihuni oleh arwah orang orang yang sedang koma dan kami semua adalah sebagian besar dari arwah itu. "
Jelas orang itu kepadaku kemudian aku pun menganggukkan kepalaku karena akhirnya aku tau keberadaan ku sekarang.
" Kok kamu bisa tau sih? "
Tanyaku penasaran dan kemudian dia pun menjawab.
" Aku sudah tiga tahun berada di alam ini dan dimensi alam bawah sadar adalah julukan yang aku buat sendiri agar aku bisa dengan mudah memberitahu tempat ini kepada orang yang baru datang seperti kamu. "
Jelasnya dengan detail dan kemudian aku pun kembali menganggukkan kepalaku karena sekali lagi rasa penasaranku terjawab.
–Bersambung–