
" Sangat memalukan! "
Ujar Klara dengan kesal dan kemudian dia pun pergi ke dapur untuk mengambil segelas air lalu dia meminum air itu untuk menenangkan dirinya.
Setelah merasa bersalah dan juga malu, kami merasa kesal dengan ibu Margaret yang mengusir kami dengan tidak hormat. Aku jadi ingin tau apa yang di rahasiakan ibu Margaret kepada kami.
Di sisi lain aku penasaran mengapa ibu Margaret bisa begitu ketakutan ketika mendengar alasan kami mencari buku itu.
Memang benar ini sangat berbahaya tetapi ketakutan yang ditujukan oleh ibu Margaret membuat aku berpikir kalau ada sesuatu yang membuatnya harus menjaga rahasia dengan erat. Aku merasa kalau ada orang yang mengancamnya. Aku berpikiran seperti ini karena aku sangat peka terhadap perasaan dan pikiran orang.
Kini aku bingung dengan cara apa aku bisa melihat buku data itu. Apakah sebaiknya aku abaikan saja kasus ini lagi pula selain Belia tidak ada lagi penghuni lima tempat sakral yang datang untuk meminta bantuan kepadaku.
" Teman-teman bagaimana kalau sekarang kita pergi ke rumah sakit untuk menjenguk ka Adit. "
Ucapku dengan tenang karena aku pikir dari pada kami tidak melakukan apapun lebih baik kami pergi menjenguk kakakku.
Tanpa berpikir panjang mereka pun setuju dan kemudian mereka pun langsung mau ikut bersamaku dengan membawa tas selempang kecil saja karena kami tidak akan menginap setelah sore hari tiba kami akan kembali ke kampus.
Kami turun dan pergi ke ruangan pengurus asrama untuk meminta izin setelah itu kami pun pergi ke tempat parkir untuk mengambil mobil lalu berangkat menuju ke rumah sakit.
Perjalanan kami lancar lancar saja sampai akhirnya kami pun sampai di rumah sakit.
" Bagaimana dengan ka Adit Tan? Apakah ada perkembangan? "
Tanyaku kepada Tante Kirana dan kemudian Tante Kirana pun menjawab kalau perkembangan kesehatan ka Adit ada namun ka Adit masih belum pernah sadar dari komanya.
Kami bergantian menjaga ka Adit lalu mempersilahkan Tante Kirana beristirahat hingga akhirnya Tante Kirana bangun tidur di jam empat sore dan kami pun harus berpamitan untuk kembali ke kampus.
" Tan kami pamit ya! Airin titip ka Adit. "
Ucapku berpamitan kepadanya dan kemudian aku pun menghampiri si kembar untuk berpamitan juga kepada mereka berdua.
Setelah berpamitan kami pun kembali ke mobil dan segera pulang ke kampus sesuai dengan apa yang telah aku putuskan sebelum berangkat kesini.
Saat perjalanan pulang ke kampus hujan pun turun disertai dengan suara guntur yang keras. Terlihat pepohonan bergerak-gerak karena di tiup oleh angin yang ikut menyertai turunnya hujan yang semakin lama semakin deras.
" Awas!!! "
Seru Keyla dengan histeris.
Disaat yang bersamaan dia juga berusaha mengambil alih kemudi dari Klara dan seketika Klara banting setir sehingga mobil kami pun bergerak tak terkontrol. Kami terombang-ambing dan panik akan terjadi kecelakaan.
" Huh.. Huh.. "
Kami merasa lega karena akhirnya kami bisa berhenti dengan selamat.
" Ada apa sih Key? "
Tanyaku kepada Keyla yang masih terlihat panik.
" Tadi kita hampir nabrak orang. "
Jawab Keyla dengan tegangan dan kemudian dia pun keluar dari dalam mobil.
" Apa kata Keyla? Ngapain dia keluar? "
Setelah Riana dan klara mendengar jawabanku, mereka pun mengajak aku untuk menghampiri Keyla dan ikut memastikan apa benar bahwa kami hampir saja menabrak seseorang.
" Mana orangnya? "
Tanya Klara kepada Keyla dan kemudian Keyla pun menjawab kalau dia tidak menemukan orang itu.
" Mungkin kamu salah lihat. "
Ucap Riana dengan yakin dan kemudian Keyla pun menyangkalnya dan bilang kalau dia tidak mungkin salah lihat. Katanya dengan sangat jelas dia melihat ada seorang nenek yang menyebrang jalan dan hampir saja kami menabraknya.
Karena Keyla begitu yakin, kami pun memutuskan untuk mencari nenek-nenek itu dibawa derasnya air hujan dan juga angin yang berhembus kencang namun tetap saja kami tidak menemukannya. Lagi pula jalan ini sepertinya jauh dari pemukiman warga mana mungkin bisa ada nenek-nenek di sini.
" Kamu apa-apaan sih Key? Gak ada siapapun disini! Kamu halusinasi atau gimana sih? Kita hampir saja kecelakaan tau! "
Bentak Klara dengan penuh amarah. Klara marah besar dan kemudian dia pun kembali ke mobil.
" Udah jangan dipikirkan lagi! Ayo kembali ke mobil. "
Ajak Riana dengan lembut dan kemudian kami bertiga pun kembali ke mobil untuk menyusul Klara.
Begitu kami sampai di mobil, kami pun langsung masuk dan Klara pun langsung menghidupkan mobil.
" Maaf ya teman-teman tapi tadi aku yakin kalau aku nggak mungkin salah lihat kok. "
Ucap Keyla dengan memelas dan kemudian kami pun memakluminya kecuali Klara. Klara terlihat sangat kesal mungkin karena dia syok dengan kejadian barusan.
" Ih kok mobilnya gak bisa nyala sih? "
Ujar Klara dengan kesal sambil terus mencoba untuk menghidupkan mobil.
" Sial! Apaan lagi sih? "
Ucap Klara dengan kesal dan kemudian dia pun keluar dari dalam mobil lalu pergi untuk memeriksa apakah ada yang bermasalah dengan mobil ini.
Karena ini adalah mobil kakakku, aku ikut turun untuk menemaninya memeriksa kondisi mobil.
" Emangnya kamu paham soal mobil Ra? Mendingan kita telpon siapa gitu. "
Ucapku kepadanya.
" Sebenarnya sih enggak! Kamu bener coba kamu hubungi seseorang untuk bantuin kita. "
Jawabnya dengan tenang dan kemudian aku pun mengajaknya untuk kembali ke mobil.
" Kita hubungin siapa ya? "
Tanyaku kepada mereka dan kemudian mereka pun menjawab kalau sebaiknya aku menghubungi Darius saja.
Kemudian aku pun langsung membuka HP dan langsung mencari kontak Darius namun betapa tidak beruntungnya tak ada sinyal di tempat ini.
Kami bingung harus apa dan harus meminta tolong kepada siapa. Kami harap ada orang yang mau berhenti untuk membantu kami.
–Bersambung–