The Darkness University: Breathing In Two Realms 3

The Darkness University: Breathing In Two Realms 3
Chapter.16 – Beres beres kamar kosong 2



" Lah Gita mana? "


Tanya ka Amara ketika aku dan Riana baru saja sampai di ruang makan.


" Dia sedang rapuh ka. "


Jawabku dan kemudian aku pun langsung duduk di kursiku dan Riana duduk di kursinya.


" Rapuh bagaimana Rin? "


Tanya ka Amara yang terlihat bingung.


" Dia ingat ibunya ka. "


Jelasku dan kemudian aku pun mengambil piringku lalu mengisinya dengan nasi dan lauk pauk.


" Oh gitu. "


Ucap ka Amara dan kemudian dia juga mengambil piringnya lalu mengisinya dengan menu pilihannya sendiri.


Kami pun kemudian mulai menyantap sarapan kami dengan tenang lalu setelah sarapan kami selesai, kami langsung membereskan ruang makan sebelum kami pergi untuk membereskan kamar kamar bekas orang lama yayasan ini yang sudah tiada.


" Aku mau mengantarkan sarapan untuk Gita dulu ya kak. "


Aku berpamitan kepada ka Amara di tengah waktu membereskan ruang makan.


" Iya, kalau dia panas bilang ya. "


Jawab ka Amara mempersilahkanku dan kemudian aku pun mengangguk lalu pergi membawakan sarapan pagi untuk Gita yang sedang rapuh.


" Kamu mau kemana Rin? "


Di tengah perjalanan menuju ke kamar Gita, aku bertemu dengan ka Aditya. Dia menghentikan aku lalu bertanya kepadaku.


" Ini ka, aku mau antar sarapan untuk Gita. "


Jawabku dengan singkat dan kemudian ka Aditya pun langsung mempersilahkan aku untuk lanjut berjalan mengantarkan sarapan pagi ini untuk Gita.


" Krek. "


Sesampainya di depan kamar Gita, aku pun langsung membuka pintunya lalu masuk kedalam tanpa menutup kembali pintunya.


Aku berjalan menghampirinya dan kemudian aku pun meletakkan sarapannya keatas lemari kecil yang ada di samping kanan kasurnya.


Kemudian aku menarik selimutnya untuk membangunkannya dari tidur, dia sembunyi di dalam selimutnya dan setelah aku menarik selimut itu ternyata dia masih menangis dengan mata yang tertutup. Dia menangis tanpa mengeluarkan suara dan melihat itu membuat aku jadi terbawa perasaan.


Hampir saja aku terpancing untuk ikut menangis bersamanya, namun aku harus menahan agar aku tidak terbawa perasaan. Kasihan Gita, dia harus kehilangan ibunya di umur yang masih sangat membutuhkan belaian kasih sayang dari seorang ibu.


Aku tahu betul bagaimana tingkat kesedihan yang dia rasakan saat ini. Dia benar-benar rapuh serapuh-rapuhnya, aku tidak bisa membiarkan dia seperti ini karena kerapuhan ini bisa membuatnya sakit.


" Gita, ayo bangun! Kaka bawakan sarapan untukmu. "


Ucapku membangunkannya. Kemudian dia pun langsung membuka mata lalu mengusap air matanya sendiri dan kemudian dia pun tersenyum kepadaku.


Dia tidak sadar kalau aku sudah dari tadi melihat dirinya bersedih dan karena dia sudah menyadarinya, dia pun berusaha untuk menutupi kesedihan itu dariku.


" Oh Kaka! Sejak kapan Kaka ada di sini? kok aku gak tau kalau Kaka masuk? "


Ucapnya sambil tersenyum manis sekan dia baik baik saja.


Dia benar-benar tegar sehingga membutku mulai terbawa arus kesedihan karena melihatnya yang menyembunyikan air mata di balik senyuman manisnya itu.


Jawabku dengan lembut dan berusaha sekuat tenaga untuk menahan agar air mata ku tidak mengalir dihadapannya.


" Wah terimakasih ya kak! "


Ucap Gita dengan gembira dan kemudian dia pun langsung menghampiri sarapannya yang telah kubawa untuknya.


" Bisa makan sendirian kan? "


Tanyaku kepadanya.


Dia pun melirik ke arahku lalu tersenyum dan mengangguk memberikan isyarat Kalau dia bisa makan sendiri.


" Yasudah kalau begitu Kaka tinggal dulu ya! Soalnya Kaka dan yang lainnya mau beres beres kamar kosong untuk Persiapan pembukaan kos-kosan. "


Aku tersenyum kepadanya dan kemudian aku pun pergi meninggalkannya keluar kamar. Dengan perlahan aku menutup pintu kamarnya, aku tidak menutup pintu itu dengan rapat karena aku yakin kalau dia akan kembali bersedih setelah aku pergi. Maka dari itu aku diam diam mengintipnya agar dia tidak menyadari kalau sebenarnya aku masih mengintainya.


" Bunda!!! "


Benar dugaanku. tak lama setelah aku menutup pintu, Gita pun kembali menangis tersedu-sedu sehingga membuatku terpancing untuk mengalirkan air mata. Aku benar-benar terbawa perasaan melihat si manis Gita itu menangis.


Tak tau kenapa rasanya aku ingin berteriak dan menangis sesuka hatiku. Untuk menghindari kekhawatiran yang lainnya, aku pun berlari ke kamar dan kemudian aku masuk ke dalam kamar mandiku.


Aku duduk di dalam bathtub dan menghidupkan shower dan keran dengan sangat deras agar tidak ada yang bisa mendengar aku menangis dan menjerit.


Kesedihan yang tadi kesaksian mengingatkan aku akan kerapuhan yang aku rasakan ketika aku kehilangan kedua orangtuaku pada dua tahun silam. Tak hanya itu, mendengar Gita menangis memanggil ibunya. Aku jadi merindukan sosok mama dan papa yang sampai saat ini jasadnya tidak ditemukan.


Aku terus menangis dan membiarkan air shower mengalir membawa kesedihanku pergi bersamanya. Setelah aku merasa cukup, aku pun keluar dari kamar mandi lalu mengganti pakaianku.


Kemudian aku pun langsung pergi turun untuk berkumpul dan mendengarkan arahan dari ka Aditya soal job Beres beres kamar kosong.


" Rin kamu baik baik aja kan? "


Tanya Riana kepadaku ketika aku baru saja sampai di ruang tamu dengan keadaan rambut yang basah dan mata yang merah.


" Iya aku gak papa kok! Cuma tadi kebawa perasaan pas lihat Gita nangis. "


Jawabku sambil tersenyum dan kemudian Riana pun menjawab senyumku dan menepuk pundakku.


Setelah Job selesai dibagikan, kami pun langsung beraksi sesuai job masing-masing.


Kami membereskan satu-persatu kamar hingga akhirnya kami pun selesai pada pukul empat sore. Kini kami beristirahat di ruang makan dengan ditemani minum sirup yang dibuatkan oleh ka Amara.


Pada saat membereskan kamar tadi, kami banyak mendapatkan barang barang yang bisa dijadikan kenangan bagi kami dan akan kami simpan barang barang tersebut di ruangan almarhumah ibu Sofia.


Sedangkan selebihnya akan kami sumbangkan kepada pantai asuhan yang letaknya tidak begitu jauh dari Desa damar ini. Sekalian mengajak Gita jalan jalan agar dia tidak terus larut dalam kesedihannya.


" Adik adik ayo semuanya mandi! Setelah itu kita akan berangkat ke panti asuhan. "


Ucap ka Amara setelah dia melihat kami sudah menghabiskan minuman kami.


" Baik ka! "


Jawab kami dengan singkat dan kemudian kami pun langsung pergi ke kamar masing-masing untuk mandi karena setelah mandi nanti kami akan pergi ke panti asuhan untuk menyumbangkan pakaian pakaian dan barang-barang bekas yang masih layak pakai.


" Rin! "


Di perjalanan menuju kamar, Riana pun menyukut aku dan setelah aku melihat kearahnya, dia pun memberikan aku sebuah buku yang sampulnya terbuat dari kulit. Kata Riana ini adalah buku milik Varel yang isinya banyak menceritakan tentang diriku.


–Bersambung–