
Keadaanku kembali stabil setelah aku sampai di Villa merah. Ka Aditya meminta bantuan para karyawan wanita untuk membantu Riana membawa aku dan Gita untuk kembali ke kamar. Sedangkan ka Aditya dengan ka Amara dan juga Dara pergi untuk menyadarkan pak Rahman yang sedang kerasukan.
" Pak! Pak! Tolong bantu bawa pak Rahman ke yang tertutup. "
Aku mendengar ka Aditya meminta bantuan para karyawan pria yang ada di sekitar untuk membantu membawa pak Rahman ke tempat yang tertutup dan kemudian
Sedangkan di sisi lain aku mendengar para pengunjung dan orang-orang saling berbisik satu sama lain. Aku tidak mendengar jelas pembahasan mereka namun aku yakin kalau mereka sedang membahas tentang pak Rahman dan orang yang keluar dari dalam mobil bersamanya.
" Aaa!! Aaa!! "
Suara teriakan terdengar dari satu orang ke orang lain dan dengan refleks seluruh mata pun tertuju pada asal suara teriak itu. Setelah berteriak mereka pun satu persatu jatuh dan terbaring di tempat, tak lama setelah itu mereka pun kejang kejang lalu berteriak, marah, dan juga menangis layaknya orang yang dirasuki. Hal itu membuat diriku berhenti lalu meminta karyawan yang mendampingi aku tadi untuk mengantarkan Gita saja karena aku ingin memantau kejadian
Teriakan itu berhenti ketika sudah tiga belas orang. Teriakan itu seluruhnya berasal dari wanita, baik dari karyawan maupun para pengunjung.
Kejadian ini membuat orang di sekitar ketakutan, mengetahui hal ini ka Amara pun kembali setelah mengantar pak Rahman. Dia menghampiriku dan menyuruhku untuk beristirahat saja namun aku tidak mau. Aku penasaran dengan maksud di balik kesurupan massal ini.
" Kalau begitu kamu tunggu disini saja! Kaka akan berkomunikasi dengan arwah arwah yang merasuki mereka. "
Ucap ka Amara dan kemudian dia pun meninggalkanku. Dia pergi menghampiri tempat yang lapang dan meminta bantuan kepada orang-orang sekitar untuk membantu mengumpulkan orang orang yang kerasukan di hadapannya. Ka Amara mulai berkomunikasi dengan para arwah dan karena rasa penasaran aku pun pergi menghampirinya.
" Universitas kegelapan! Universitas kegelapan! Universitas kegelapan! "
Suara kompak berulang ulang yang menyeramkan mulai terdengar ketika aku menghampiri mereka.
" Apa maksudnya? "
Ucapku dengan spontan karena rasa penasaran dan membuat seluruh mata orang orang yang kesurupan itu tertuju kepadaku, mereka menatapku dengan tatapan mata yang sangat tajam.
" Kamu akan menderita di sana! Ha Ha Ha. "
Teriak seseorang mengagetkanku dari belakang dan kemudian dia pun mencekik leherku dan membawaku menjauh dari ka Amara.
" Aaaa.... Sa.. kit.. "
Ucapku dengan napas yang tertahan.
" Airin! "
Teriak ka Aditya ketika melihatku dicekik, dia berlari menghampiriku begitu juga dengan ka Amara dan kedua temanku.
" Biarkan kami tuan kami berpesan! "
Ucap mereka orang orang yang kesurupan itu dengan kompak menghadang ka Aditya dan yang lainnya.
" Kamu harus mengungkapkan penderitaan yang tersembunyi di sana dan kamu juga harus membuat universitas itu kembali menjadi terang. "
Ucap arwah itu sebelum akhirnya dia meninggalkan jasad pak Rahman. Ya, Benar pak Rahman adalah orang kerasukan yang mencekik leherku.
" Bruk! "
" Uhuk! Uhuk! "
Dengan keadaan tengkurap aku batuk hingga mengeluarkan darah karena aku merasa cekikan yang kudapat tadi sangatlah kuat.
" Kenapa pada diam? Ayo cepat bantu mereka! "
Ucap ka Aditya dengan lantang dan kemudian orang orang pun mengambil tindakan untuk membantu mereka yang tidak sadarkan diri. Sedangkan aku langsung dibantu oleh ka Aditya, dia mengangkat ku dan membawaku ke ruang kesehatan di villa merah ini.
" Tolong periksa dia. "
Ucap ka Aditya menjadikanku ke atas ranjang ruang periksa dan kemudian ka Aditya dan yang lainnya pun disuruh untuk menunggu di luar.
Aku di periksa oleh petugas medis setempat dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar. Kepalaku terasa begitu sangat pusing dan cenat cenut. Darah dari mulutku sudah berhenti, namun darah itu kini keluar dari dalam hidungku.
Petugas medis yang memeriksaku adalah dua orang wanita, mereka mengelap darahku dengan kapas dan kemudian mereka pun menyuntik tanganku sehingga membuatku sangat mengantuk.
Aku tertidur pulas dan pada saat aku bangun, aku pun sudah merasa lebih baik dan bahkan sangat baik. Ka Amara dan ka Aditya sudah ada di sampingku ketika aku bangun dan ketika aku bertanya mana yang lainnya ka Amara pun menjawab kalau mereka pergi untuk menemani Gita di kamar.
Setelah itu ka Aditya pun bertanya tentang keadaanku dan aku pun menjawab kalau aku sudah merasa lebih baik.
Kemudian ka Aditya pun bertanya kepadaku tentang pesan arwah yang tadi kepadaku dan aku pun menjawab kalau arwah itu berpesan kepadaku agar aku bisa mengungkapkan penderitaan yang tersembunyi di universitas kegelapan, aku rasa yang di maksud arwah itu adalah universitas swasta yang akan menjadi tempat aku untuk melanjutkan pendidikanku nanti.
Setelah mendengar jawaban dariku, ka Aditya pun merenung sejenak dan kemudian dia pun bilang kalau mungkin sebaiknya aku dan Riana akan di batalkan untuk berkuliah di sana. Kata ka Aditya dia takut kalau universitas itu sangatlah berbahaya bagi aku dan Riana nantinya. Sebab setiap arwah yang datang dan berhubungan dengan universitas itu tidak hanya datang dengan bersedih dan mengeluh saja, mereka datang dengan teror dan juga kontak fisik yang mana arti dari perilaku mereka ini tidak hanya ingin meminta tolong saja, mungkin mereka juga akan mencelakai aku dan Riana. Entahlah, ini hanya perkiraannya dia juga tidak tau pasti tapi cara para arwah itu untuk meminta tolong memanglah sangat sangat menimbulkan banyak pertanyaan.
Setelah beberapa saat kami berbincang di ruang tempat aku di periksa, petugas medis pun datang dan berkata kalau aku sudah bisa meninggalkan ruangan ini.
Petugas medis itu bilang kalau lukaku tidak terlalu parah dan dengan hitungan jam luka ini akan segera membaik.
" Terimakasih dok. "
Ucap ka Amara sambil memikul ku keluar dari ruangan kesehatan villa merah dan membawaku pergi kembali ke kamar.
" Mari silahkan. "
Ucap karyawan wanita yang datang dengan membawa kursi roda dan menyuruhku untuk duduk di kursi itu.
" Terimakasih. "
Ucap ka Amara dengan senyuman dan kemudian ka Amara pun mendorong kursi roda menuju kamarku. Aku merasa badanku sangat berat dan aku juga merasa sangat gerah mungkin aku terlihat pucat.
" Lihat gadis itu! Bukankah dia yang di serang orang kerasukan tadi? "
Pada saat perjalanan menuju ke kamar kami pun melewati kerumunan orang yang asik berbisik satu sama lain. Mereka bercerita tentang kejadian yang barusan saja terjadi hingga akhirnya suara itu hilang ketika aku sudah sampai dikamar ku.
–Bersambung–