
Pengawas membawaku ke ruang UKS Asrama dan kemudian aku pun diperiksa oleh perawat yang bertugas di UKS itu. Kata perawat itu aku mengalami syok berat dan kemudian dia memintaku untuk tidur agar keadaanku kembali stabil.
Mendengar permintaannya itu aku pun langsung memejamkan mataku dan tak perlu menunggu lama aku pun lelap dalam tidurku. Mungkin rasa lemas ini adalah pemicu mudahnya aku terlelap.
Begitu aku terlelap, aku pun tiba-tiba berada di lantai dua asrama. Aku berdiri di depan kamar yang bernomor tiga belas di pintunya. Disini sangat gelap, apakah mungkin aku sedang berada di alam lain. Cahaya disini sangat sedikit dan cahaya itu berasal dari lampu lampu neon yang berjejer rapi di setiap langit langit koridor. Cahaya yang dipancarkan seluruh lampu neon itu sangat remang seakan dayanya akan habis.
Suasana disini sangatlah sepi, tak ada suara lain selain semilirnya angin yang berhembus menemani kesunyian ini.
Aku bingung mengapa aku berada di sini, aku bingung dengan apa yang harus kulakukan sekarang.
" Dor! Dor! Dor! "
" Tolong! "
Aku sedikit terkejut, tiba-tiba suara bising terdengar dari balik pintu yang tepat berada di hadapanku. Aku mendengar suara orang yang menggedor-gedor pintu sambil meminta tolong.
" Siapapun yang ada diluar tolong bukakan pintu ini untuk saya! Tolong! Ada orang yang akan membunuh saya! "
Suara bising itu kembali terdengar dan membuat aku khawatir dan kemudian aku pun langsung memutuskan untuk mencari benda keras yang bisa aku pakai untuk merusak pintu kamar itu dan akhirnya aku pun menemukan palu yang tergeletak di depan kamar yang bernomor sebelas. Kemudian aku pun langsung kembali ke kamar nomor tiga belas itu lalu aku pun langsung merusak pintu kamar itu menggunakan palu yang kutemukan.
" Dor! Dor! Dor! "
" Tolong....! "
Suara itu terus terdengar dan dengan perlahan suara orang itu semakin melemah. Aku mendengar suara pukulan dari dalam kamar itu dan setelah suara pukulan itu berhenti, seketika suara bising itu pun lenyap seketika dan setelah itu barulah aku selesai merusak pintu itu lalu aku pun membuka pintu kamar itu dengan perlahan.
" Aaaa!! "
Aku sangat terkejut ketika aku melihat ada gadis yang sudah terbaring tanpa nyawa dan bajunya robek robek tak karuan. Gadis itu sangat pucat dan dipenuhi memar di sekujur tubuhnya.
Aku merasa seperti patung melihat jasad yang mengenaskan itu hingga aku tidak menyadari bahwa di samping jasad itu ada seorang pria bujang yang hanya mengenakan celana sanwos dan terlihat ada bekas cakaran di dadanya. Dia terlihat lebih menyeramkan dibandingkan dengan jasad itu.
Mata merahnya tertuju kepadaku dan kemudian aku mundur dengan perlahan lalu aku pun berlari untuk menghindarinya.
" Tolong. "
Dengan penuh rasa cemas aku berlari sambil meminta tolong namun tiba-tiba aku pun merasa kalau ada yang memegang tangan kananku. Setelah aku menoleh untuk melihatnya, ternyata pria bujang itu yang memegang tangan kananku.
Aku hendak berteriak, namun dia menutup mulutku lalu menyeretku ke teras dan kemudian dia pun membuang aku dari lantai dua asrama.
" Tolong! "
Aku teriak dengan sangat keras sehingga akhirnya aku terbanting keras ke lantai halaman tengah asrama.
Setelah beberapa saat kemudian orang orang pun berhamburan keluar dari kamar mereka masing-masing untuk melihatku. Aku memegang kepalaku karena aku merasa pusing dan setelah itu aku pun merasa kalau kepalaku basah. Setelah aku melihat tanganku ternyata ada darahnya dan setelah itu kepalaku semakin terasa sangat sakit dan pada akhirnya aku pun tidak bisa melihat lagi. Semuanya terlihat sangat gelap dan aku pikir kalau aku sudah mati.
Aku sangat khawatir bagaimana jika aku benar-benar mati. Aku berusaha melihat untuk memastikan bahwa aku masih hidup, namun setelah beberapa saat aku pun lelah untuk berusaha melihat.
" Tidak! Aku belum siap mati! Tidak! Aku belum siap untuk mati! "
Ucapku dalam hati karena ternyata aku juga tidak bisa mengeluarkan suara dari mulutku.
" Aaaaa... Aaaa... Aaaa... "
Pada saat aku membuka mata, aku pun melihat ada dua perawat di sampingku dan aku juga melihat ada ka Adit, Klara dan juga Riana yang melihat aku dari balik jendela kaca. Mereka terlihat sangat mencemaskan aku.
" Airin tenang ya, itu hanya mimpi buruk. "
Ucap salah satu perawat yang berusaha menenakan pikiranku dengan sangat lembut. Aku mengangguk dan bersyukur karena ternyata kejadian tadi hanyalah mimpi buruk.
Kedua perawat itu terus menemaniku hingga aku benar-benar merasa tenang. Setelah itu, perawat itu pun meminta aku untuk memakan obat penenang yang mereka berikan. Setelah itu mereka pun menyuruh aku untuk beristirahat dan kemudian mereka pun keluar.
Saat perawat itu di depan pintu, aku melihat ka Adit dan kedua kawanku menghampiri kedua perawat itu dan berbincang untuk beberapa saat. Kemudian setelah itu mereka pun masuk dan untuk menemui aku.
" Apa yang terjadi Rin?
Tanya ka Adit dengan tenang dan kemudian aku pun menjawab kalau tadi aku melihat ular dan ketakutan setengah mati.
Aku berbohong kepadanya karena aku tidak mau membuatnya khawatir dan mengingat kisah kelam di masa silam.
Ka Adit bilang setelah aku merasa lebih baik, aku bisa keluar dari UKS ini dan kami pun akan pergi pulang bersama teman-temanku juga.
Mendengar itu, aku pun langsung berkata kalau aku sudah merasa lebih baik karena aku tidak sabar untuk pulang ke rumah orangtuaku. Aku juga tidak sabar untuk menceritakan tentang hal yang sebenarnya kepada Riana.
" Kalau begitu ayo pergi. "
Ucap ka Adit dan kemudian dia pun menggendongku.
" Ka Airin sudah besar! Gak perlu digendong seperti ini. "
Ucap karena merasa tidak enak dipandang oleh orang orang yang ada disekitar.
" Kamu masih terlihat gak berdaya makannya Kaka gendong. "
Jawab ka Adit dan kemudian aku pun hendak membatah dan dia pun bilang.
" Udah ayo pulang gak usah banyak bicara. "
Ka Adit menggendongku keluar dari UKS dan membawaku ke mobil. Seketika aku pun ingat masa kecil aku bersamanya dan juga ka Haura.
Dulu kami sering berlibur ke puncak dan berjalan jalan di menikmati udara segar bersama papa dan mama. Dulu aku paling malas untuk di ajak jalan-jalan dan dengan murah hati ka Adit pun bersedia untuk menggendongku selama berjalan-jalan.
" Airin, oleh-oleh udah di ambil? "
Tanya Klara kepadaku dan kemudian aku pun menjawab kalau aku tidak jadi mengambilnya karena tadi aku melihat ular.
" Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan mengambilnya. "
Ucap Klara dan kemudian dia pun berlari untuk mengambil oleh-olehku. Awalnya aku hendak melarangnya, namun dia sudah terlanjur pergi. Dia pun kembali membawa oleh-olehku setelah lima menit berlalu dan kemudian aku sangat berterimakasih kepadanya karena dia sudah mengambilkannya untukku.
" Semuanya sudah siapkan? "
Ucap ka Adit memastikan kami dan barang bawaan kami lalu kami pun langsung saja berangkat setelah dipastikan bahwa semuanya sudah siap.
–Bersambung–