The Darkness University: Breathing In Two Realms 3

The Darkness University: Breathing In Two Realms 3
Chapter.39 – Seorang nenek-nenek



Sudah begitu lama kami menunggu bantuan, hingga langit benar benar berubah menjadi warna hitam seutuhnya namun bantuan pun tak kunjung datang. tak ada satu kendaraan pun yang melintas sehingga membuat kami pasrah menanti.


"Huh aku menyesal dulu mengabaikan pelajaran fisika di sekolah."


Hardik Klara dengan kesal sambil membenturkan kepalanya ke setir mobil.


"Aduh! Sakit banget."


Ucap Klara dengan ekspresi kesakitan dan kemudian dia mengangkat kepalanya sambil mengusap-usap keningnya.


"Ha Ha Ha."


Kelakuannya membuat kami tertawa.


"Makannya kalau marah itu pikir-pikir dulu! Jangan asal jedutin kepala ke setir mobil."


Ucapku menggodanya dan dia hanya terdiam dan terus mengusap-usap keningnya.


"Eh Klara emangnya apa hubungan antara fisika dengan keadaan kita saat ini?"


Tanya Riana dengan polos.


Mendengar pertanyaannya seketika aku dan seisi mobil pun menjadi hening.


"Kami nggak konek Riana?"


Tanya Klara dengan heran dan Riana pun hanya menjawabnya dengan gelengan kepalanya.


"Ampun deh Riana! Aku gak bisa jelasin tanya aja sama yang lainnya."


Ujar Klara dengan kesal kemudian dia pun kembali meletakkan kepalanya di setir mobil dengan pasrah mengharapkan bala bantuan segera tiba.


"Ha Ha Ha"


Aku dan Keyla mentertawakan mereka berdua sehingga membuat Riana terlihat malu.


"Dih apaan sih? Nggak usah ngegas juga kali!"


Ucap Riana dengan tidak terima kepada Klara.


Akhirnya suasana di dalam mobil pun kembali sunyi sampai Keyla memutuskan untuk menjelaskan hal sepele yang di maksud oleh Klara tadi kepada Riana.


"Jadi maksudnya klara itu, kalau Klara semasa sekolahnya Klara menekuni pelajaran fisika, mungkin saja mobil mogok ini bisa di atasi olehnya."


Jelas Keyla dengan singkat.


"Oh iya aku baru paham sekarang! Fisika itu mempelajari tentang hal-hal yang berhubungan dengan mesin dan sebagainya bukan?"


Ucap Riana dengan gembira setelah dia mengerti akan hal sepele yang Klara maksud.


"Ya kurang lebih begitu."


Jawab Keyla sambil tertawa.


"Terimakasih atas penjelasannya ya key."


Ucap Riana dengan nada mengesalkan sambil mengolok-olok Klara dari belakang. Dia tidak tahu kalau ternyata Klara mengintip olokan Riana dari kaca spion mobil tengah.


"Iya sama-sama."


Jawab Keyla sambil menahan tawa dan kemudian Klara pun kembali mengangkat kepalanya dan memergoki Riana yang sedang mengolok-olok dirinya.


"Eh ketahuan deh."


Ucap Riana kaget ketika dipergoki oleh Klara.


"Ngeselin banget kamu Riana!"


Ujar Klara dengan kesal.


"Kamu juga."


Jawab Riana dengan mendekat seolah menantang Klara. Sepertinya ini harus dihentikan sebelum emosi mereka semakin menjadi.


"Kamu menantang aku hah?!"


Klara menaikkan nada bicaranya dan kemudian aku menarik Klara untuk melerai agar perdebatan mereka berdua tidak semakin menjadi.


"Kalau iya emangnya kenapa?!"


Riana menjawabnya dengan keras lalu aku memberikan isyarat kepada Keyla untuk menangani Riana. Mereka terus berdebat hingga akhirnya mereka baru terdiam saat tiba-tiba saja Klara melihat dua sinar lampu mobil dari kejauhan.


Klara menepis tanganku lalu keluar dari mobil dan berdiri melambaikan tangan untuk meminta bantuan namun sayangnya mobil itu hanya lewat begitu saja.


"Duar."


Dengan kesal Klara kembali masuk kedalam mobil.


Kami tak tau harus apa hingga akhirnya kami pun memutuskan untuk mengunci semua pintu mobil dan menghidupkan musik dengan keras. Kami memutuskan untuk bermalam di sini dan kembali berusaha untuk mencari bantuan esok hari lagi. Lagi pula sudah larut malam, mana ada lagi orang yang mau melintasi jalan seperti ini.


"Tok! Tok! Tok! "


Seseorang mengetuk jendela kaca mobil dan membuat kami semua terbangun dari tidur.


"Aaaaaah.... Eh tunggu! Itu nenek-nenek yang hampir kita tabrak tadi sore!"


Ujar Riana dengan setengah sadar.


"Kamu yakin Riana?"


Tanya Keyla kepadanya dan kemudian dia pun mengangguk.


"Apa? Nenek-nenek? Dimana?"


Tanya Klara dengan bingung.


Dia tidak tahu kalau ada nenek-nenek, padahal nenek-nenek itu berdiri di luar pintu mobil tepat di sebelahnya.


"Kamu tidak melihatnya Ra?"


Tanyaku untuk meyakinkan.


"Nggak Rin! Emangnya dimana?"


Tanya Klara dengan bingung sambil melihat ke kanan dan ke kiri.


"Nenek itu tepat diluar pintu mobil disebelahmu!"


Jawab Riana dengan usil sehingga membuat Klara menjadi panik.


"Apaan sih? Gak ada apa-apa kok! Jangan nakutin aku dong!"


Ujar Klara dengan kesal dan ketakutan.


"Ada kok! Kalau kamu nggak percaya coba tanya Keyla dan Airin!"


Jawab Riana dengan usil dan kemudian Klara pun melihat aku dan Keyla dengan tegangan. Di pandangannya itu tersirat sebuah pertanyaan dan untuk menjawabnya kami pun hanya menganggukkan kepala.


Klara menjadi semakin ketakutan dan meminta aku untuk bertukar tempat dengannya. Dengan santai aku pun menyuruhnya untuk duduk di kursiku lalu aku serta Keyla dan Riana keluar dari mobil untuk menghadapi nenek itu.


"Yah jangan tinggalin aku sendirian dong!"


Ucap Klara ketakutan dan kemudian dia pun ikut turun dari mobil dan sembunyi dibelakang kami. Dia menggenggam tanganku dan juga tangan Keyla dengan sangat kuat.


"Ra sakit banget tanganku"


Ucap Keyla dan kemudian Klara pun hanya diam dan berlindung di tengah-tengah kami.


Sesampainya di hadapan sang nenek kami pun langsung bertanya kepada sosok nenek nenek itu.


"Ada apa gerangan nenek menjumpai kami?"


Tanya Riana dengan ramah dan sangat sopan sehingga membuat nenek itu tersenyum lebar.


"Anak-anak, nenek tau kalau kalian sedang di tunggu oleh ancaman yang tidak main-main maka dari itu nenek membuat mobil kalian mogok"


Jawab nenek itu dengan ramah.


"Benarkah nek? Kalau boleh tau ancaman apa itu nek?"


Sambungku bertanya kepada sang nenek dan kemudian nenek itu menjelaskan kepada kami kalau kami akan sampai di asrama pada saat waktu sakral berlaku, maka dari itu nenek itu menahan kami hingga waktu sakral berakhir.


Kata nenek itu waktu sakral di asrama akan berakhir pada saat azan subuh tiba dan kemudian dia pun berpamitan kepada kami. Katanya sebentar lagi azan Subuh dan pada saat azan tiba maka mobil kami akan kembali menyala.


Setelah nenek itu pergi, kami pun kembali masuk kedalam mobil dan menunggu sampai azan subuh tiba.


"Key, kamu bisa nyetir mobil?"


Tanya Klara dengan tampang cemas.


"Iya aku bisa, kamu kenapa Ra?"


Jawab Keyla dengan khawatir lalu Klara pun menjawab kalau dia takut dan tak siap untuk menyetir mobil.


Akhirnya mereka berdua pun bertukar tempat duduk dan pas ketika mereka berdua sudah masuk kedalam mobil, azan subuh pun berkumandang dan benar saja tiba-tiba mobil pun hidup dengan sendirinya.


Kami bersorak bergembira dan sangat bersyukur. Kami langsung menyuruh Keyla untuk menginjak gas untuk mengejar waktu sebelum terlambat untuk hari pertama masuk kampus.


Di samping jalan kami melihat nenek-nenek tadi tersenyum melihat kepulangan kami. Keyla melambatkan jalannya mobil saat melintas di depan nenek itu untuk melambaikan tangan dan mengucapkan terimakasih atas niat baiknya kepada kami.


Bersambung.....