The Darkness University: Breathing In Two Realms 3

The Darkness University: Breathing In Two Realms 3
Chapter.24 – Sisi gelap Universitas



Kini aku ada di kamarku yang dulu, tepat pertama kali mata batinku terbuka pada tiga tahun silam sebelum keberangkatan ku menuju rumah batin. Aku ingat kala itu sebelum mata hatiku terbuka, aku bertemu dengan wanita misterius di depan gerbang sekolah lamaku. Kala itu gadis itu memanggil diriku dan memberikan aku kertas yang bertuliskan angka enam dengan tinta merah berbau darah. Wanita misterius itu mengetahui namaku dan itu membuat aku bingung lalu ketika aku hendak bertanya kepadanya dia pun menghilang begitu saja. Kala itu aku sangat takut sehingga aku pingsan hanya karena mendengar suara klakson yang ternyata itu adalah klakson mobil papa.


Mereka pun membawa aku pulang dan kemudian aku pun baru sadar ketika berada di dalam perjalanan pulang waktu itu. Setelah kejadian itu semuanya pun berjalan normal seperti biasanya hingga akhirnya wanita misterius itu kembali datang pada saat tengah malam.


Aku sangat mengingatnya waktu itu wanita itu datang dengan diiringi hembusan angin kencang dan juga suara yang memanggil namaku bahkan juga suara ribut dari angin kencang itu sendiri. Pada saat itu aku sangat ketakutan hingga akhirnya aku pun pasrah membiarkan sosok wanita misterius itu melakukan apa yang dia inginkan. Dia memegang erat kedua pundakku dan membawa aku melayang lalu dia pun mengatakan kepadaku dengan suara yang menyeramkan.


" Airin kini tiba waktunya bagimu untuk bernapas di dua alam yang berbeda! kamu tidak bisa menghindari takdir ini, jalani lah dan selesaikanlah semua misteri yang kamu temukan. "


Kira-kira seperti itulah perkataannya sebelum akhirnya dia menghilang bersama angin yang mengiringinya itu. Aku ingat setelah sosok itu pergi, aku pun terbanting ke lantai hingga menyebabkan aku pingsan. Keesokan harinya aku tersadar di kamar mama. Begitu aku tersadar, aku pun pergi untuk mengintip kamarku dan mendapati polisi yang sedang berbincang dengan papa dan juga ka Adit. Waktu itu mereka sedang menyelidiki kejadian yang menimpaku dan setelah mengetahuinya aku pun hendak kembali ke kamar dan disitulah aku mulai bisa melihat mereka yang tidak bisa dilihat oleh orang yang tidak memiliki kemampuan khusus. Setelah kejadian itu hidupku sangat tersiksa hingga akhirnya papa memutuskan untuk memanggil mendiang Eyang Darmo dan menyuruh Eyang Darmo untuk mengobatiku, namun eyang Darmo malah menyuruh papa untuk memasukkan aku ke yayasannya yang bernama Rumah batin. Tempat yang khusus untuk anak anak yang memiliki mata batin yang terbuka. Di yayasan itu aku tidak merasa tersiksa lagi karena disitu aku bersama dengan orang orang yang memiliki kemampuan yang persis denganku. Disitu aku tidak merasa kesepian lagi. Hingga akhirnya kami pun pergi ke villa merah untuk mengusir manusia berjiwa iblis yang menyebabkan sebagian besar keluarga yayasan rumah batin tewas. Hanya tersisa beberapa saja. Ka Aditya, ka Amara, Dara, Gita, Riana, dan juga aku. Hanya itulah yang tersisa.


Ingatanku tentang semuanya masih aku simpan dengan baik didalam kepalaku. Ingatan itu sangat menyeramkan namun terkadang aku merasa kalau ingatan itu saru bagaikan rintangan permainan.


Terkadang aku merasa takut ketika mengingatnya dan terkadang aku ingin apa yang kuingat itu terjadi kembali dihidupku. Entah apa yang kupikirkan tapi itulah kenyataannya.


" Krek. "


Pintu kamarku terbuka dan kemudian Klara masuk bersama Riana dengan membawa kotak obat dan juga segelas air putih. Kedatangan mereka menyadarkan aku dari lamunanku.


" Bagaimana kepalanya, Masih pusing? "


Tanya Riana kepadaku dan kemudian dia pun duduk disebelah-ku bersama Klara.


" Udah gak pusing lagi kok. "


Jawabku sambil tersenyum dan kemudian mereka berdua pun mengobati luka ringan yang ada di tubuhku. Mereka berdua melakukannya sambil memberi aku kekuatan untuk menghadapi pertengkaran yang baru saja terjadi kepadaku.


Mereka memberikan aku motivasi agar aku tetap tegar dan berusaha untuk memikirkan berbagai cara terbaik agar ka Haura tidak membenciku lagi.


Setelah selesai mengobati luka ringanku, mereka pun di panggil ka Adit karena. Katanya dia baru saja memesan makanan delivery untuk kami dan meminta tolong kepada kedua temanku untuk mempersiapkannya lalu ka Adit menyuruh mereka untuk makan bersamaku di kamar ini.


" Wah ini makanan Jepang! Aku suka banget. "


Ujar ku dengan gembira dan kemudian mereka pun menggelar karpet di lantai dan kami pun makan bersama di karpet itu.


Kami menikmati semua makanan yang ada sambil memuji betapa lezatnya makanan makanan itu. Aku paling suka memakan ramen dan juga sushi. Untuk makanan penutup kami memiliki dua dorayaki rasa teh hijau Jepang yang masing-masing dari kami memiliki dua bungkus.


Kami menikmatinya dengan gembira dan bercerita tentang apapun yang ingin kami ceritakan hingga akhirnya aku pun tak sengaja mengingat tentang kejadian di asrama kampus tadi.


Dan kemudian aku pun langsung meminta salah satu dari mereka untuk menutup pintu sebelum aku menceritakan hal ini kepada mereka.


" Ada apa Rin? "


Tanya Riana dengan penasaran dan kemudian aku pun mulai menceritakan tentang hal yang ku alami di asrama kampus tadi dengan ringkas kepada mereka.


Aku menceritakannya dengan mendalam sehingga membuat Klara merinding dan bilang dia tidak mau mendengarnya. Aku lupa kalau ternyata dia bukan seorang indigo yang akan biasa saja ketika mendengar cerita seram seperti ini.


Karena aku khawatir kalau dia akan menjadi parno, aku pun menyuruhnya untuk melakukan hal lain dan akhirnya dia pun memutuskan untuk menonton drama Korea di laptopnya dengan menggunakan earphone. Katanya supaya tidak mendengar percakapan kami yang menyeramkan ini.


Setelah itu, aku pun kembali menceritakannya kepada Riana dan Riana menanggapi cerita ini dengan panik. Dia bilang apakah sebaiknya kami tidak usah jadi berkuliah di sana karena sepertinya akan terjadi hal yang lebih menyeramkan dari pada tragedi villa merah. Aku juga ikut panik dan akhirnya kami pun memutuskan untuk menghubungi ka Aditya untuk menanyakan tentang hal ini namun mereka pun tidak merespon panggilan kami. Seketika aku pun teringat kalau hari ini mereka sedang pergi menghadapi iblis yang menewaskan Klara anak yayasan rumah batin.


" Aku rasa mereka sedang sibuk, ayo kita lupakan sejenak dan kembali menghubungi mereka besok. "


Ucapku kepada Riana dan kemudian aku pun mengajaknya untuk bersama menonton drama Korea bersama Klara.


Sejak aku memikirkan bagaimana dengan ka Amara dan ka Aditya, aku harap mereka bisa menghadapi iblis itu dengan mudah. Tanpa terluka sedikitpun, dan aku juga berharap semoga ada jalan terbaik bagi aku dan Riana untuk menghadapi sisi gelap Universitas kami.


–Bersambung–