
Malam sudah berlalu dan kini sudah pukul enam pagi saatnya aku untuk bersiap siap menjemput Tante Kirana kesini.
" Kamu pakai baju rapi emangnya mau kemana Rin? "
Tanya Klara yang baru saja terbangun dari tidurnya.
" Kamu lupa ya? Hari ini kan tanteku datang jadi aku mau pergi menjemputnya. "
Jawabku sambil merapikan sedikit barang yang akan kubawa dan kemudian memasukkan barang itu kedalam tas selempang kecilku.
" Oh iya, kamu pergi sama siapa? "
Klara kembali bertanya dan kemudian aku pun menjawab.
" Aku pergi sendirian Ra! Aku titip ka Adit ya. "
Kemudian aku pun langsung berjalan keluar dari ruangan untuk pergi menjemput Tante Kirana.
Tadi malam, Tante Kirana menghubungiku sebelum dia hendak berangkat ke rumahku. Dia menanyakan alamat rumah sakit ini karena dia berniat untuk langsung datang kemari, akan tetapi Tante Kirana berubah pikiran. Katanya dia membawa barang yang cukup banyak maka dari itu dia pergi ke rumah untuk menitipkan barangnya terlebih dahulu dan dia menyuruhku untuk menjemputnya ke sana.
Aku berjalan melewati berbagai ruangan dan kemudian aku pun tak sengaja bertemu dengan Darius. Dia duduk sendirian di bangku yang ada di dekat taman ruang anak.
Pada awalnya aku tidak yakin kalau itu benar-benar dia namun setelah dilihat lihat dia memanglah Darius. Aku berpikir untuk menghampirinya karena penasaran akan keponakannya yang dirawat di rumah sakit ini. Akan tetapi aku ragu karena aku belum terlalu mengenalinya.
" Ah sudahlah. "
Ucapku dalam hati mengurungkan niatku untuk menghampirinya lalu lanjut berjalan untuk keluar rumah sakit dan mencari taksi untuk pulang kerumah dan menjemput Tante Kirana kemari.
" Eh, tapikan dia pernah jenguk ka Adit apa sebaiknya aku hampiri dia ya? Sekalian mengajak keponakannya! "
Langkahku terhenti, aku jadi merasa bingung dan plin-plan.
" Hai! "
Terdengar suara Darius yang entah memanggil siapa. Aku menengok kearahnya karena aku merasa terpanggil.
" Wah nggak salah orang! Kamu mau kemana Rin? "
Ucap Darius sambil tersenyum kemudian datang dia pun menghampiriku.
" Ini, aku mau pulang ke rumah mau jemput Tante aku disana. "
Jawabku sambil tersenyum dan juga malu-malu kucing.
" Oh gitu! Kamu pergi sendirian? Naik apa? "
Tanya Darius dengan pemasaran.
" Iya aku pergi sendirian! Soalnya Riana harus istirahat karena tadi malam dia menemani aku bergadang semalaman untuk menjaga kakakku. Sedangkan Klara aku minta untuk menjaga kakakku selagi aku pergi menjemput Tante dan sepertinya aku bakalan pulang naik taksi. "
Jawabku kepadanya.
Kemudian aku pun langsung bertanya kepadanya mengenai keadaan keponakannya. Aku juga l bilang kepadanya kalau aku ingin menjenguk keponakannya karena dia sudah menjenguk ka Adit sebelumnya.
Dia terlihat senang lalu dia pun langsung mengajakku untuk menjenguk keponakannya diruang anak.
" Ayo ikut aku! "
Aku mengikutinya dari belakang dan Darius pun berhenti tepat di depan kamar yang bernomor tujuh.
" Itu keponakanku. "
Ucap Darius sambil tersenyum kemudian aku pun menjawab senyumnya sebelum aku melihat keponakannya dari balik jendela kaca.
" Dias? "
Ucapku dalam hati. Aku terkejut dan merasa tidak percaya dengan apa yang sedang aku lihat saat ini.
Tanyaku kepada Darius dan kemudian dia pun menjawab kalau keponakannya itu mengidap tumor otak. Keponakanya koma karena tumor itu semakin ganas.
Mendengar itu aku pun turut merasa sedih dan kemudian aku memberikan semangat kepadanya dan juga doa untuk keponakannya. Semoga keponakannya itu lekas sembuh dan sadar dari komanya.
Kemudian aku pun kembali teringat Dias Kai si kecil yang aku temui di Dimensi alam bawah sadar. Wajah keponakan Darius ini sangat mirip dengan si kecil Dias lalu dengan penasaran aku pun memutuskan untuk menanyakan nama dari keponakannya.
" Dia begitu manis, siapa namanya? "
Tanyaku kepada sambil memperhatikan wajah keponakannya itu dengan seksama.
" Hm, dia memang anak yang sangat manis dan juga ceria. Namanya Dias Kai anak dari Kaka pertamaku. "
Jawab Darius sambil menatap keponakannya dengan tatapan yang dengan penuh perhatian.
" Dias Kai? "
Aku di buat semakin terkejut setelah mendengar nama keponakannya. Aku jadi semakin yakin dengan adanya dimensi alam bawah sadar.
" Trrrrreettt... Trrrrreettt.. "
Tiba-tiba aku merasakan getaran dari dalam tasku, setelah aku lihat tenyata getaran itu berasal dari Handphoneku.
" Tante Kirana. "
Ucapku setelah melihat ada panggilan dari tante Kirana kemudian aku pamit kepada Darius untuk mengangkat panggilan ini diluar ruangan.
Aku berbicara dengan tante Kirana, dia bilang dia sudah menungguku di rumah. Tante Kirana meminta agar aku segera menjemputnya.
Setelah menutup panggilan, aku pun kembali masuk ke ruang anak untuk kembali berpamitan kepada Darius karena aku sudah harus pergi untuk menjemput tante Kirana di rumah.
Darius menghentikan langkahku ketika aku hendak pergi meninggalkannya. Dia menawarkan tumpangan kepadaku, dia bilang dia bersedia mengantarkan aku pulang sekalian juga menjemput tanteku.
Pada awalnya aku menolak tetapi karena Darius bersikeras untuk mengantarkan aku jadi merasa tidak enak untuk menolak tawarannya.
Kemudian aku pun bilang kepada siapa yang akan menjaga keponakannya kalau dia pergi mengantar aku pulang. Darius pun menjawab kalau sebentar lagi baby sitter keponakannya datang dan dia hanya perlu menelpon baby sitter itu untuk memberitahu kalau dia akan pergi.
Jawabannya itu kurang meyakinkan dan aku khawatir dengan keponakannya maka dari itu aku memutuskan untuk menunggu baby sitter itu datang baru kami bisa pergi.
Kami tidak menunggu terlalu lama dan setelah baby sitter itu datang kami pun langsung pergi ke parkiran mobil untuk mencari mobilnya Darius yang akan mengantarku pulang.
" Kalian mau kemana? "
Di parkiran kami tidak sengaja bertemu dengan dokter Eric.
" Wah kebetulan sekali bisa bertemu dengan bapak disini! Airin kenalin, Ini dokter Eric! Beliau adalah dosen jurusan biologi di universitas kita, beliau juga adalah dokter bedah dirumah sakit ini. "
Darius terlihat ceria dan sepertinya dia sangat akrab dengan dokter Eric. Dia memperkenalkan dokter Eric kepadaku.
Aku pun tersenyum kepada dokter Eric lalu menjabat tangannya dan memperkenalkan diriku kepadanya.
Dia tersenyum ramah akan tetapi aku merasa tidak nyaman ketika berada di dekatnya. Aura negatif miliknya membuat aku merasa tidak aman.
" Kalau tidak salah kamu keluarga dari pasien yang bernama Adit kan? "
Tanya dokter Eric kepadaku lalu aku pun melepaskan tangannya dan tersenyum.
" Iya dok! "
Jawabku dengan berusaha menutupi perasaan burukku. Lalu dokter itu kembali tersenyum dan kemudian dia pun pamit kepada kami karena ada urusan yang harus dia urus.
" Itu mobilnya ayo kita masuk! "
Ajak Darius dan kemudian aku pun ikut bersamanya untuk segera berangkat kerumahku. Aku harap tante Kirana tidak menunggu terlalu lama.
–Bersambung–