The Darkness University: Breathing In Two Realms 3

The Darkness University: Breathing In Two Realms 3
Chapter.23 – Kekhawatiran yang benar-benar terjadi



" Selamat datang kembali! "


Ucap ka Adit ketika mobil yang membawa kami ini memasuki gerbang rumahku.


" Wah besar banget rumah kamu Rin. "


Ucap Klara berdecak kagum lalu aku pun menyenggolnya dan merendah. Aku bilang dia terlalu berlebihan lalu aku pun tersenyum kepadanya.


Setelah mobil berhenti, kami pun turun dari mobil dan menunggu ka Adit yang memarkirkan mobil ke garasi.


" Tidak ada perubahan, rumah ini masih sama seperti dulu sebelum aku pergi ke yayasan rumah batin. "


Aku bergumam dalam hati dan bahkan juga tersenyum bahagia. Aku sangat senang sekali karena aku bisa kembali ke rumah ini lagi tanpa ada sedikitpun perubahan yang kulihat.


" Loh! Kok kalian masih disini? Ayo Rin ajak teman-temanmu masuk kedalam. "


Ucap ka Adit yang baru saja datang dari garasi setelah dia memarkirkan mobilnya.


" Oh tadi aku nunggu Kaka supaya kita bisa masuk bareng-bareng, jujur aku menjadi segan untuk masuk setelah sekian lama aku tinggal diluar rumah ini kak. "


Ucapku dengan polos. Aku benar-benar merasa segan untuk masuk kedalam karena sebenarnya aku takut bertemu dengan ka Haura. Aku takut dia akan memarahi aku dengan kata-kata pahitnya seperti dulu. Aku takut kalau dia masih membenciku dan masih menganggapku sebagai penyebab kematian dari kecelakaan papa dan mama tiga tahun silam. Maka dari itu aku memilih untuk menunggu ka Adit dan memutuskan untuk masuk bersamanya agar jika ka Haura melihat aku dan masih membenciku ka Adit bisa membelaku.


" Apa-apaan kamu ini? Ayo masuk! "


Ka Adit menggenggam tangan kananku lalu mengajak aku untuk masuk ke dalam rumah bersamanya. Aku pun menoleh kebelakang untuk memberi isyarat kepada Klara dan Riana untuk mengikuti aku masuk ke dalam rumah dan kemudian mereka pun mengangguk dan mengikuti aku dari belakang.


" Kaka pulang! Haura ayo keluar Kaka ada kejutan untukmu. "


Ucap ka Adit dengan suara yang keras. Dia terlihat sangat bahagia dan ceria ketika dia bilang kalau dia memiliki kejutan untuk ka Haura.


" Benarkah? Tunggu sebentar aku akan segera datang. "


Seru ka Haura dengan bersemangat dan kemudian dia pun datang setelah beberapa saat kemudian. Dia datang dengan berjingkrak-jingkrak dan juga terlihat sangat gembira. Sepertinya dia sangat senang karena ka Adit bilang kalau ada kejutan untuknya.


" Mana kekuatan...nya? "


Seketika keceriaan ka Haura pun pudar setelah dia melihat bahwa ka Adit datang bersamaku. Wajahnya cemberut dan kemudian dia pun memalingkan wajahnya dariku. Sepertinya dia masih membenciku.


" Kamu kenapa malah cemberut? Seharusnya kamu senang kalau Airin pulang ke rumah ini. "


Ucap ka Adit kepada ka Haura dengan kecewa dan ka Haura pun tetap diam tak mau menjawab ka Adit.


" Udah mana kejutannya? Aku mau balik ke kamar nih! "


Ka Haura menagih ucapan ka Adit tentang kejutan yang tadi ka Adit ucapkan kepadanya. Mendengar itu ka Adit pun mulai berubah, raut wajah yang penuh dengan amarah terlukis di wajahnya.


" Kamu ini Haura! Kamu benar-benar ya! "


Ucap Ka Adit yang terlihat kesal.


" Kok ngegas gitu sih? Tunggu! Tunggu! Kaka gak bawa apa-apa, jangan bilang kalau kejutan yang Kaka maksud adalah anak pembawa petaka itu! "


Ucap ka Haura dengan sangat sadis.


Ketika mengatakannya, dia mengarahkan pandangannya kepadaku. Dia juga menatapku dengan sinis.


Apa yang telah dia ucapkan tadi sangatlah menyakitkan bagiku. Sebelumnya aku sudah mengkhawatirkan hal ini akan terjadi dan ternyata memang benar-benar terjadi. Aku tidak tau harus apa. Air mataku mengalir karena ucapannya tadi benar-benar menyayat hati.


" Kenapa kamu seperti itu Haura! Kamu sangat keterlaluan. "


Ka Adit terlihat semakin kesal dan kemudian dia pun berjalan menghampiri ka Haura.


" Dia adikmu Haura! Kejadian yang menimpa Mama dan Papa tiga tahun silam bukanlah kesalahannya. Berapa kali Kaka harus menjelaskan ini kepadamu? "


Dengan tenang ka Adit berusaha memberikan pengertian kepada ka Haura agar dia tidak menyalakan dan juga membenciku lagi.


Ka Amara terlihat acuh tak acuh dan tidak mau menatap wajah ka Adit ketika ka Adit berbicara kepadanya. Dia baru menatap ka Adit setelah ka Adit selesai berbicara dan kemudian dia pun berkata.


" Terserah Kaka mau bela dia setengah mati pun aku tetap tidak bisa mengalah untuk menerima si pembawa petaka itu ada dihadapanku atau pun satu atap denganku lagi. "


Setelah mengatakannya, ka Haura pun berjalan ke arahku dengan wajah yang diselimuti oleh ekspresi kebencian. Dia kembali menatap aku dengan sinis.


" Pergi dari rumah ini sekarang! Aku tidak mau melihat wajahmu itu! Kamu adalah penyebab orangtuaku tiada! "


Dia membentak diriku dengan sangat keras dan membuat aku semakin sakit hati dan juga menangis. Aku tidak terima dengan kata-katanya dan kemudian tanpa sadar aku pun membentaknya.


" Aku kesini hanya ingin pulang kerumah orangtuaku bukan untuk menemuimu! Aku hanya ingin bertemu dengan kakakku bukan mau bertemu dengan orang yang tidak ada hati sepertimu! "


Aku benar-benar marah dan meluapkannya tanpa sengaja.


Begitu aku selesai membentaknya, aku pun langsung merasa bersalah karena aku rasa kata kata tadi tidak pantas untuk aku ucapkan kepadanya. Aku melihat matanya yang mulai berkaca-kaca dan wajah marahnya seketika berubah menjadi terlihat sedih. Dia mulai meneteskan air mata sehingga membuat aku semakin merasa bersalah.


Aku memegang tangannya dan meminta maaf darinya.


" Ayo ikut aku! "


Kali ini ekspresi marah dan sedih bersatu diwajahnya. Dia menarik aku keluar dari dalam rumah dan ketika sampai di teras dia pun mendorongku hingga terjatuh dari sepuluh anak tangga yang ada di depan teras.


" Ini rumahku! Jangan pernah lagi kamu tujukan wajahmu disini! Mengerti. "


Ucapnya kepadaku dengan penuh kebencian.


" Airin! "


Ujar kedua temanku yang sejak tadi menyaksikan pertengkaran ini dengan panik dan kemudian mereka pun menuruni anak tangga dengan hati-hati lalu membantuku untuk bangkit.


" Kamu gak papa kan? "


Tanya Riana dengan khawatir dan kemudian aku pun tersenyum dan menggelengkan kepalaku.


" Astaga Airin! "


Seketika Ka Adit yang baru saja keluar dari dalam histeris melihat beberapa luka ditanganku.


" Ini tidak bisa dibiarkan! "


Ucap ka Adit dan kemudian ka Adit pun melihat ka Haura dengan penuh amarah. Dia menggenggam lengan ka Haura dengan sangat kuat lalu dia menghadapkan pandangan ka Haura kepadanya.


" Puk.. "


Ka Adit pun menamparnya dengan sekuat tenaga sehingga membuat ka Haura hampir terjatuh.


Aku sangat kaget melihatnya, aku menghampiri mereka berdua dengan langkah yang pincang. Aku akan melerai mereka berdua karena aku melihat ka Adit masih akan menamparnya lagi.


" Puk.. "


Ka Adit menamparnya untuk kedua kalinya dan pada saat dia ingin memberikan tamparan ketiga aku sudah menahan tangannya dan kemudian aku pun memeluknya untuk menenangkannya.


" Ini tidak akan menyelesaikan masalah ka! Ini hanya akan memperkeruh keadaan. "


Ucapku dengan mencoba untuk tenang dan juga menenangkannya.


Kemudian ka Adit pun melihat telapak tangannya yang digunakan untuk menampar pipi ka Haura barusan. Tiba tiba tubuhnya bergetar dan aku merasa air matanya jatuh ke pipiku. Sepertinya dia sudah merasakan bersalah dan kemudian aku pun melepaskan pelukanku untuk menanyakan apakah ka Haura baik-baik namun ka Haura sudah lebih dulu pergi masuk ke dalam dan meninggalkan kami dengan ekspresi wajah seperti orang yang terkejut. Mungkin, dia tidak pernah menyangka kalau barusan saja ka Adit menamparnya.


" Apa yang telah kulakukan? "


Ka Adit beranyakan kepada dirinya sendiri dengan penuh penyesalan.


" Kaka tenang ya, aku tau Kaka tidak sengaja melakukan itu. "


Ucapku yang penuh pengertian agar dia tidak menyalakan dirinya sendiri.


Kemudian ka Adit pun duduk di bangku yang ada di teras dan menyuruh kedua kawanku dan juga aku untuk duduk bersamanya. Ka Adit meminta maaf kepada kedua temanku karena tak seharusnya mereka melihat kekacauan ini. Mereka pun mengatakan tidak apa-apa mereka mengerti keadaan kami dan kata mereka ka Adit tidak perlu meminta maaf untuk hal ini.


Tak lama kemudian ka Haura pun keluar dari dalam rumah dengan membawa tas dan juga koper.


" Kaka mau kemana? "


Tanyaku kepadanya dan dia pun tidak menggubris pertanyaanku. Karena aku takut kalau dia akan pergi meninggalkan rumah, aku pun menghampirinya dan menahannya dan kembali bertanya kemana dia akan pergi dan dia pun tidak menjawabku lalu dia malah kembali mendorongku hingga terjatuh.


" Ini rumahmu kan? Maka dari itu aku harus pergi! Aku sudah bilang kalau aku tidak mau satu atap denganmu. "


Ucapnya dan kemudian dia pun hendak pergi.


" Jangan pergi kak aku mengalah! Biar aku saja yang pergi. "


Ucapku sambil kembali menahannya dengan memegang kakinya.


" Lepaskan! "


Dia membuka tanganku lalu kembali mendorongku hingga kepalaku terbanting ke lantai, dia mendorongku dengan sangat kuat.


Melihat itu ka Adit dan kedua temanku pun reflek menolongku dan kemudian ka Adit pun langsung mengangkatku sendirian. Kepalaku pusing setelah terbentur dengan lantai, dia mendorongku dengan sangat kuat. Segitu bencinya dia kepadaku.


" Kamu mau pergi? Silahkan! "


Ka Adit kembali membentaknya dan kemudian ka Adit pun membawa aku masuk dan membiarkan ka Haura mengikuti kemauannya sendiri. Ka Adit seakan sudah tidak perduli lagi dan penyesalan terhadap ka Haura tadi puh seperti hilang darinya.


–Bersambung–