The Darkness University: Breathing In Two Realms 3

The Darkness University: Breathing In Two Realms 3
Chapter.21 – Gadis aneh



Tak terasa dengan berjalannya waktu kami pun semakin akrap dengan klara. Kami terus berbincang-bincang untuk mengisi waktu kosong ini agar tidak terasa begitu membosankan.


Klara bilang kegiatan kampus bagi mahasiswa baru akan di mulai seminggu lagi jadi ternyata kami memiliki waktu bebas selama seminggu. Kata klara, waktu bebas ini bisa di gunakan untuk belanja barang kebutuhan diluar kampus ataupun jika mau kami boleh kembali pulang ke rumah masing-masing asalkan bisa kembali ke kampus sebelum kegiatan kampus bagi mahasiswa baru di mulai.


Klara bilang kehadiran hari ini hanya untuk pengisian absen asrama sekaligus pengisian anggota untuk setiap kamar yang ada di asrama ini.


Mendengar mendengar perkataan darinya itu, aku pun tak sengaja teringat rumah orang tuaku dan berpikir untuk mengajak Klara beserta Riana untuk bermalam di rumah itu sampai sehari sebelum waktu kegiatan kampus tiba.


Namun tiba-tiba aku teringat kalau di rumah itu ada ka Haura yang sangat tidak menginginkan aku ada dihadapannya lagi, itu membuatku takut juga sedih.


Namun disisi lain aku pun teringat kalau ada ka Adit di sana. Dia sangat menyayangiku dan aku yakin kalau ka tidak akan membiarkan ka Haura membuat aku tidak nyaman berada di sana. Setelah mengingat ka Adit seketika kekhawatiran akan ka Haura lenyap begitu saja. Kemudian setelah aku pikir pikir aku pun memutuskan untuk mengajak mereka untuk pergi ke rumah orangtuaku dan tanpa berpikir panjang mereka pun langsung menjawab kalau mereka mau.


Aku pun langsung menghubungi ka Aditya setelah mendengar kalau mereka berdua mau ikut denganku.


" Halo Rin! "


Ka Adit memulai percakapan setelah dia mengangkat panggilan dariku.


" Kaka sedang ada dimana? "


Aku menanyakan keberadaannya dan kemudian dia pun menjawab kalau dia sedang ada di perjalanan pulang. Kemudian aku pun menanyakan kepadanya.


" Emangnya Kaka dari mana? "


Lalu ka Aditya pun menjawab kalau dia baru saja pulang dari kantor tempat dia bekerja.


" ka jemput Airin dong! "


Ucapku dengan langsung menuju inti percakapan.


" Jemput ke Yogyakarta Rin? "


Tanya ka Aditya dengan bingung.


" Bukan ka! Sekarang Airin udah ada di Universitas yang Airin ceritakan waktu itu sama Kaka. "


Jawabku menjelaskannya.


" Ooh, ya udah tunggu aja ya! Kaka Otw kampus kamu. "


Jawab ka Adit dan kemudian dia pun mengakhiri panggilan.


Setelah telponan dengan ka Adit, aku pun meminta Klara dan Riana untuk bersiap siap karena ka Adit sedang berada di perjalanan menuju ke sini untuk menjemput ku dan juga mereka.


Dengan gembira, mereka pun mulai bersiap siap mengemasi beberapa baju yang akan mereka bawa ke sana.


" Hey Rin! Kamu kok diam aja? Kamu gak kemas kemas? "


Tanya Riana kepadaku setelah dia melihatku hanya duduk manis di ranjang ku.


" Apa yang harus aku kemas Riana? Bajuku sudah banyak di sana, Palingan aku cuma bawa oleh-oleh dan tas kecil untuk ke sana. "


Jawabku kepadanya dan kemudian dia pun menepuk jidatnya dan berkata.


" Oh iya, itu kan rumahmu ya. "


Setelah itu, dengan membawa barang bawaan kami masing-masing, kami pun turun untuk pergi meminta izin kepada pengawas dan setelah kami mendapatkan izin kami pun memutuskan untuk menunggu ka Adit di luar pagar kampus.


" Rin, katanya kamu mau bawa oleh-oleh! Mana oleh-olehnya? "


Tanya Riana kepadaku setelah beberapa saat kami menunggu di ka Adit di luar pagar kampus.


" Oh iya ya! Aku lupa oleh-olehnya Ketinggalan di kamar. "


Aku baru menyadari kalau ternyata aku lupa membawa oleh-oleh yang akan kuberikan kepada ka Adit. Kemudian aku langsung meminta kunci kamar kepada Klara. Aku pun langsung bergegas berlari kembali ke kamarku yang berada dilantai tiga A. Aku sangat buru-buru hingga akhirnya aku berjalan dengan normal ketika aku bertemu dengan gadis aneh di tangga kedua.


Dia sangat aneh bahkan benar benar aneh. Dia memakai baju kemeja putih dan rok mini. Dia tidak menatapku dan wajahnya ditutupi oleh rambut panjangnya kemudian dia pun menghentikan aku.


Dia berkata kepadaku kalau aku akan kembali berhadapan dengan mahkluk yang tidak ingin ku hadapi. Katanya, aku akan kembali merasakan ketakutan yang amat sangat memainkan kesehatan jiwaku. Aku akan kembali menderita dan kembali kehilangan orang yang aku sayangi dan katanya setelah penderitaan itu semua aku akan ikut menghilang bersama orang orang yang aku sayangi itu.


Aku benar-benar merasa sangat ketakutan dan kemudian aku pun memutuskan untuk tidak melewatinya.


Aku memutuskan untuk tidak jadi kembali ke kamar dan kemudian aku pun langsung menuruni tangga untuk langsung kembali bersama Klara dan Riana namun betapa sialnya gadis aneh itu kembali muncul dihadapanku. Tiba tiba saja dia sudah duduk di tangga satu dan kembali menghalangi jalanku.


Aku benar-benar bingung karena setelah aku lihat kembali tangga dua, aku pun melihat gadis itu lagi dan di situ aku pun yakin kalau dia adalah maksud dari salah satu ucapannya sendiri yang dia ucapkan tadi. Dia adalah makhluk yang tidak mau aku hadapi lagi.


" Ha Ha Ha Ha. "


Gadis itu pun tertawa jahat dan membuat diriku semakin ketakutan.


" Jangan menggangguku! Kekuatanmu tidak sebanding denganku! "


Aku memberanikan diri untuk mengancamnya.


" Benarkah? Coba tunjukkan apa yang bisa kamu lakukan! "


Gadis menyeramkan itu menantangku dan membuat aku semakin takut saja namun aku berusaha tenang dan kemudian aku pun mengancamnya kalau aku akan menyanyikan lagu tolak bala jika dia terus menghalangi jalanku.


" Dasar gadis kecil! Permainan belum dimulai! "


Setelah mendengar ancaman dariku tentang lagu tolak bala, akhirnya dia pun berlari meninggalkanku dengan secepat kilat. Aku sangat lega setelah gadis aneh itu pergi, namun aku masih merasa sedikit ketakutan dan juga merasa sedikit lemas.


Kemudian aku pun langsung berlari sekuat tenaga untuk segera menghampiri Riana. Aku harus menceritakan tentang kejadian ini kepadanya.


Jantungku berdetak kencang dan bahkan aku juga merasakan kalau aku berkeringat dingin. Aku merasa seperti Dejavu karena kepalaku terasa sangat pusing hingga aku tidak bisa membedakan antara sadar dengan tidak sadar. Kepalaku terasa sangat ringan dan aku merasa seperti berada di dalam mimpi.


Aku berusaha lari secepat mungkin dengan keadaan lututku yang terasa lemas hingga akhirnya aku pun tak kuat lagi dan terjatuh di depan Ruang pengawas. Tak ada satu orang pun yang melihatku, entah kenapa asrama ini terasa sangat sepi dan menakutkan.


Aku takut akan ada makhluk lain yang akan menggangguku dan kemudian aku pun terus berusaha untuk keluar area asrama dengan cara ngesot karena kakiku sudah tidak sanggup lagi untuk kupakai berjalan.


Aku merasa putus asa dan akhirnya aku pun memutuskan untuk berteriak meminta tolong sambil terus mengesot sekuat tenaga.


Ini terasa seperti mimpi buruk hingga membuatku tidak kuasa menahan air mata dan tak lama setelah aku menangis, akhirnya pengawas asrama pun keluar dan menolongku. Mereka mengangkatku yang semakin kehilangan energi karena rasa takutku yang berlebih.


Aku takut dengan ucapan gadis aneh tadi, aku takut semua yang dikatakannya benar-benar terulang kembali


–Bersambung–