The Darkness University: Breathing In Two Realms 3

The Darkness University: Breathing In Two Realms 3
Chapter.41– Kinanti



Chapter.41


Semua mata kuliah hari ini telah usai, aku terus memikirkan bisikan gaib tadi sampai akhirnya aku pun mengikuti bisikan gaib tadi untuk pergi menjumpainya di perpustakaan.


Aku berdiri dan beranjak dari tempat dudukku tanpa mengajak Klara, Keyla, serta Riana. Aku terlalu penasaran dengan bisikan gaib tadi sehingga aku tidak berpikir untuk mengajak mereka pergi bersamaku.


Dengan penasaran aku terus berjalan dengan agak terburu-buru namun ketika aku sampai di depan perpustakaan langkahku pun terhenti seakan rasa penasaranku telah usai. Sebelumnya aku merasa seperti rasa penasaran ini sudah menarik bahkan mengarahkan ku untuk datang dan masuk ke perpustakaan ini sesuai pesan bisikan gaib tadi, namun tidak tau kenapa rasa itu lenyap begitu saja.


"Rin! Kok kamu ninggalin kami sih?"


Ucap Klara dari belakang dan kemudian aku pun menghadap ke arah mereka dan menjawab.


"Tadi waktu mata kuliah berlangsung, aku mendengarkan bisikan gaib yang menyuruh aku untuk datang kemari"


Aku menjawabnya sambil bengong karena diliputi oleh rasa penasaran dan juga bingung, aku bingung karena aku tidak tau mengapa langkahku terhenti begitu saja. Aku merasa seperti tidak diperbolehkan untuk masuk atau yang lebih tepatnya lagi ada yang menahan aku untuk tidak masuk kedalam perpustakaan.


“Aduh drama horornya mulai lagi deh, ngomong-ngomong pagar Sukmoku masih kokoh kan? Aku takut nih"


Ucap Klara dengan ekspresi ketakutan sambil bersembunyi dibalik badan Keyla dan Riana.


"Tenang aja Ra, pagar Sukmoku masih kokoh kok"


Jawab Riana dengan tenang sehingga membuat Klara menjadi lega.


"Oh iya, terus kenapa malah berhenti? Ayo kita masuk, untuk Keyla dan Klara sekarang kalian kembali ke kamar lebih dulu nanti aku dan Airin akan segera menyusul setelah masalah ini selesai"


Ucap Riana kepadaku dan juga kepada Klara dan Keyla.


"Baiklah kalau begitu, aku dan Klara tunggu di asrama ya!"


Sahut Keyla lalu pergi bersama Klara meninggalkan aku dan Riana disini.


"Ayo Rin kita masuk"


Ajak Riana lalu aku menganggukkan kepalaku dan ikut masuk ke dalam perpustakaan bersamanya.


"Krek!"


Pintu berbunyi ketika kami masuk kedalam perpustakaan.


Aku melihat banyak mahasiswa juga mahasiswi didalam sini. Aku juga melihat ibu Margareth yang sibuk melayani mahasiswa dan mahasiswi yang mengantri untuk meminjam buku.


"Ayo Rin"


Ajak Riana lalu aku bersamanya melangkah untuk keliling keliling perpustakaan mencari pesan yang disampaikan bisikan gaib tadi.


"Eh ngapain lagi kalian kemari? Keluar!"


Hardik ibu Margareth ketika kami hendak melewati loket peminjaman buku. Ibu Margareth benar-benar membuat kami kaget sekaligus malu karena dia membentak kami dihadapan orang banyak dan karena itu kami menjadi pusat perhatian di perpustakaan ini.


"Sebelumnya kami minta maaf Bu, tapi kami harus mencari buku untuk mengerjakan tugas"


Jawabku dengan tenang supaya keadaan tidak terlalu mencekam.


"Gak usah cari di tempat ini! Keluar!"


Ibu Margareth menolak kedatangan kami dengan mentah-mentah dan sekali lagi dia mengusir kami dengan tidak hormat.


"Udah yuk Rin, kita pergi aja"


Bisik Riana kepadaku lalu aku dan Riana pun keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ini benar-benar memalukan, aku tidak tau mengapa ibu Margareth begitu tegas melarang kami untuk datang ke perpustakaan.


Ya aku tau ini semuanya pasti berawal dari semalam, ketika kami datang kemari untuk mencari buku data mahasiswa. Tapi yang tidak aku mengerti mengapa dia mengusir dengan ekspresi yang mencurigakan.


Aku merasa ibu Margareth berbuat seperti itu karena dia memiliki niatan baik untuk kami. Aku merasa dia sedang menjauhkan kami dari malapetaka tapi aku ingin tau apa yang membuatnya begitu ketakutan.


Aku berjalan bersama Riana dengan menundukkan pandangan sehingga tanpa sengaja aku menabrak seseorang.


"Maaf"


Ucapku kepada orang itu sambil tetap menundukkan pandanganku.


Sahutnya lalu menyentuh daguku dan mengangkat pandanganku.


"Airin? Ternyata kamu, kamu kenapa?"


Ucap Darius dengan penuh perhatian.


Aku terdiam menatap wajahnya yang begitu tampan. Seketika aku mengira dia adalah Varel.


"Hey Rin? Kamu baik-baik aja kan?"


Darius kembali bertanya kemudian barulah aku tersadar dari lamunanku lalu. Aku melepaskan tangannya dari daguku dan menggelengkan kepalaku untuk menghilangkan bayangan-bayang tentang Varel dari khayalanku.


"Iya aku nggak papa kok, ya udah aku sama Riana mau balik ke asrama dulu ya."


Jawabku sambil tersenyum lalu pergi begitu saja meninggalkan Darius beserta perpustakaan dan isinya.


Aku dan Riana terus berjalan pulang ke asrama dengan perasaan malu, marah dan juga penasaran.


Sesampainya kami di asrama, kami pun langsung masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri di atas kasur masing-masing.


Emosi yang aku rasakan cukup menguras tenaga dan membuatku lelah. Klara dan Keyla menatap kami dengan pengertian dan membiarkan aku dan Riana untuk beristirahat.


"Mereka terlihat tidak baik-baik saja, pasti ini ulah orang aneh itu."


Terdengar suara Klara yang sedang berbisik kepada Keyla.


"Kelihatannya sih gitu."


Sahut Keyla berbisik menjawab Klara.


Setelah itu keadaan pun menjadi sunyi dan kesunyian itu membuat aku perlahan masuk kedalam alam mimpi.


Di alam mimpi aku tiba-tiba saja sampai di depan perpustakaan seperti tadi. Tetapi suasana di sini sunyi dan sepi tak ada satu orangpun selain aku.


Ini sangat aneh dan membingungkan karena aku merasa ini seperti Dejavu. Aku bingung mengapa aku ada disini yang pasti setiap mimpi yang seperti ini pasti memiliki maksud yang tersembunyi.


"Airin"


Suara gadis terdengar dari dalam perpustakaan.


"Siapa itu?"


Ucapku bertanya kepadanya.


Kemudian gadis itupun keluar dari dalam perpustakaan dengan senyum manis dan wajah yang berseri-seri.


"Kamu siapa?"


Tanyaku dengan penasaran lalu gadis itupun kembali tersenyum.


"Aku Kinanti Handa, mahasiswi terdahulu yang sempat berusaha untuk memecahkan kasus mistis di universitas ini seperti kamu"


Jawab gadis itu dengan tenang.


"Benarkah?"


Tanyaku dengan syok lalu dia pun menjawab ku dengan senyum dan menganggukkan kepalanya.


"Kenapa kamu bisa seperti ini? Siapa yang membunuhmu?"


Tanyaku lagi lalu aku pun menceritakan semuanya kepadaku.


Kata Kinanti, dulu dia adalah seorang mahasiswi yang sangat pendiam dan sering menyendiri. Karena sering sendirian dia akhirnya bertemu dengan salah satu sosok korban di universitas yang meminta tolong agar kasusnya bisa dibantu oleh Kinanti.


Awalnya Kinanti menolak tapi karena sosok itu datang terus-menerus dan akhirnya Kinanti pun bersedia mendengarkan cerita sosok itu sebelum dia memutuskan untuk membantunya.


Setelah mendengar ceritanya akhirnya Kinanti pun bersedia membantunya dan pada saat Kinanti melakukan penyelidikan di perpustakaan ini, dia malah di tikam dengan orang yang tidak dikenal dan hingga sekarang dia tidak tahu di mana jasadnya di sembunyikan maka dari itu dia tidak bisa pergi ke alam selanjutnya.


Bersambung...