
" Airin di mana? Apakah dia tidak ikut makan malam? "
Tanya ka Aditya ketika dia bersama Darius dan juga Reihan baru saja sampai di ruang makan dan tidak melihatku.
" Bukannya dia pergi memanggil Kaka? "
Sahut Riana kembali bertanya kepada ka Aditya.
" Iya bener! Tetapi setelah dia memanggilku dia langsung pergi, apakah dia ada masalah? "
Jawab ka Aditya menjelaskan kalau aku memang memanggilnya tadi, namun setelah itu aku langsung pergi meninggalkannya.
" Mungkin karena candaan tadi. "
Ujar ka Amara menerka apa yang membuatku tidak datang untuk makan malam bersama.
" Silahkan duduk! "
Ka Aditya mempersilahkan Darius dan Reihan untuk duduk lebih dulu dan kemudian setelah mereka berdua duduk, barulah ka Aditya duduk di bangkunya.
" Candaan seperti apa? Kenapa bisa sampai kehilangan selera makan seperti itu? "
Ka Aditya lanjut bertanya kepada ka Amara dan kemudian ka Amara pun menjawab bahwa tadi mereka menyindirku tentang orang yang kusukai. Kata ka Amara kalau aku kehilangan selera makan karena sindiran cinta itu adalah hal biasa dan mendengar itu ka Aditya pun jadi memakluminya dan kemudian mereka pun mulai makan malam bersama tanpa menghiraukan ku.
" Creeet.. Creeet.. "
Tiba tiba seluruh lampu di yayasan ini berkelap-kelip dengan cepat.
" Ada apa ini? "
Tanya ka Amara dengan bingung sedangkan Gita dan Dara langsung bangun dari tempat duduk mereka dan menghampiri ka Amara karena ketakutan.
" Mungkin ada masalah dengan sakelarnya. "
Jawab ka Aditya yang juga merasa bingung.
Kejadian ini sangat menggangu makan malam mereka sehingga akhirnya ia Aditya pun menawarkan diri untuk memeriksa saklar itu dengan di temani Reihan. Sedangkan Darius pun di minta untuk tetap di ruang makan bersama yang lainnya.
" Mari ikuti saya! "
Ajak ka Aditya kepada Reihan dan kemudian mereka pun pergi ke depan untuk memeriksa saklar.
" Tunggu dulu! "
Ucap ka Aditya menghentikan langkah Reihan ketika berada di ruang tamu.
" Ada apa? "
Tanya Reihan dengan penasaran.
" Kita butuh beberapa alat untuk memeriksa saklar. "
Jelas ka Aditya sambil membuka lemari di ruang tamu dan mengambil kotak peralatan dan juga dua senter.
" Ambil ini! "
Ka Aditya memberikan satu senter kepala Reihan dan kemudian mereka pun langsung melanjutkan perjalanan menuju ke tempat saklar berada.
Sesampainya di depan tampar saklar berada, ka Aditya pun meletakkan kotak peralatan di lantai dan kemudian dia pun membukanya untuk mengambil obeng.
" Wah obengnya tidak ada di dalam kotak ini, Kamu tunggu di sini dulu ya! "
Ucap ka Aditya mencari obeng di dalam kotak alat namun dia tidak menemukannya. Ka Aditya kembali masuk kedalam dan meninggalkan Reihan di depan sendirian.
" Plup. "
Lampu yang sejak berkelap-kelip pun akhirnya padam dan seluruh ruangan menjadi sangat gelap.
" Reihan! "
Tiba tiba ada yang memanggilnya.
" Siapa itu? "
Dengan penasaran, Reihan pun menyorot kan cahaya senter ke sana kemari untuk melihat orang yang memanggilnya.
" Ah, mungkin aku salah dengar. "
Gumamnya setelah dia menyorot ke sana kemari dan tidak mendapati siapa pun.
" Duar... Duar... "
Petir kembali berbunyi menyertai hujan deras yang tidak kunjung reda dan ketika dua kali petir itu menyambar, cahaya petir itu dua kali menyinari ruang. Reihan melihat sosok laki-laki yang tinggi sekali berdiri dan berjarak lima meter darinya.
" Siapa itu! "
Seru Reihan dengan panik dan kemudian dia pun langsung saja menyorot ke arah tempat sosok pria tinggi tadi berdiri.
" Puk! "
" Aaa! "
Reihan semakin terkejut dan langsung menghindari sosok itu dengan berlari menuju ke ruang tamu.
" Bruk! "
Reihan pun menabrak sesuatu sehingga membuatnya jatuh dan melepaskan senternya.
" Apa yang ku tabrak barusan? "
Tanya Reihan dengan panik sambil meraba lantai untuk mencari senternya yang jatuh dan mati.
" Duar..... "
Petir kembali berbunyi dan menyinari ruangan sejenak.
" Grrrrrrrrr. "
Reihan melihat sosok pria tinggi yang sangat menyeramkan di berdiri tegak di hadapannya, sosok itu menggerutu dan sepertinya ingin menyerangnya.
" Aaaaaa... "
Reihan teriak dengan sangat kencang karena dia benar benar merasa sangat terkejut dan ketakutan lalu dia pun akhirnya mendapatkan senternya dan kemudian dia langsung lari untuk pergi menghindar dari sosok tinggi itu.
Reihan terus berlari namun dia tetap saja berada di tempat itu dan dia juga beberapa kali bertabrakan lagi dengan suatu yang tidak ingin dia ketahui lagi.
" Aaaaaa! "
Reihan kembali berteriak dengan sangat keras sehingga membuat diriku terbangun dari tidurku.
Aku khawatir dan kemudian aku pun langsung saja menghampiri sumber suara itu. Aku sangat khawatir dan penasaran dengan siapakah orang yang berteriak itu? Aku berlari dengan cepat dan lancar walaupun tidak ada pencahayaan.
" Plup! "
Sesampainya di sumber suara, seluruh lampu pun kembali menyala dan ternyata yang lainnya juga pergi untuk melihat orang yang berteriak ini. Ternyata dia adalah Reihan, temannya si Darius. Ketika kami jumpai, dia pun sudah terbaring dan tidak sadarkan diri.
" Reihan! "
Ujar Darius dan kemudian dia pun menghampiri Reihan.
" Dia kenapa? "
Tanya Darius kepada ka Aditya.
" Saya juga tidak tau. "
Jawab ka Aditya dengan bingung dan kemudian ka Aditya juga menghampiri Reihan.
" Mari kita bawa dia ke sofa! "
Ucap ka Aditya kepada Darius dan kemudian mereka berdua pun mengangkat Reihan dan menidurkannya ke atas sofa.
" Ada apa ini? "
Dengan khawatir Darius kembali bertanya kepada ka Aditya.
" Saya benar-benar tidak tau! tadi karena ada barang yang tertinggal, saya langsung pergi untuk mengambilnya dan menyuruh Reihan untuk menunggu saya di sana. "
Jelas ka Aditya kepada Darius dan kemudian Darius pun terdiam dan menatap Reihan dengan panik.
" Sebaiknya kita bawa dia ke kamar sekarang dan kita akan bertanya kepadanya ketika dia sudah siuman nanti. "
Ucap ka Aditya memberi saran dan Darius pun menyetujuinya lalu mereka pun langsung mengangkat Reihan dan kemudian membawanya menuju kamar.
" Semuanya ikut! "
Perintah ka Aditya kepada kami dan kemudian tanpa berpikir panjang kami pun langsung mengikuti mereka dari belakang.
" Ka! Sepertinya dia di ganggu makhluk gaib. "
Sambil berjalan mengikuti ka Aditya, aku mendekat dan berbisik kepada ka Amara.
" Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? "
Ka Amara juga berbisik dan bertanya kepadaku.
" Tadi aku juga diganggu ka! "
Jawabku menjelaskannya kepada ka Amara.
" Ini tidak bisa di biarkan! Kita harus mengusirnya malam ini juga. "
Bisik ka Amara dengan khawatir dan kemudian sesampainya di kamar, Reihan pun di tidurkan. Kemudian ka Aditya pun menyuruh Darius untuk menemaninya karena ka Amara memanggilnya untuk membicarakan apa yang telah kubilang tadi.
– Bersambung –