
Sesampainya kami di kampus kami pun langsung di minta untuk bertemu dengan ketua panitia ospek. Pikiran kami pun mendadak kacau dan kemudian kami hanya bisa pasrah menerima apapun yang akan terjadi nantinya.
" Silahkan duduk! "
Ucap seorang pria yang sepertinya adalah ketua panitia ospek. Dia terlihat tegas dan sangat berwibawa sehingga membuat kami merasa semakin merasa khawatir.
" Saya memaklumi keterlambatan kalian karena profesor Eric sudah menjelaskan semuanya kepada saya. Saya doakan semoga kakakmu lekas sembuh ya! "
Syukurlah dia memaklumi keterlambatan kami. Pria itu tersenyum dan menunjukkan keprihatinannya terhadap keadaan kakakku dan bahkan dia juga mendoakan kakakku.
Dokter Eric berjasa menyelamatkan kami dari sangsi hari ini, aku tidak tau apa yang dokter Eric jelaskan kepada pria ini sehingga pria ini bisa memaklumi keterlambatan kami. Apapun yang dia jelaskan pokoknya kami harus membalas kebaikannya itu. Tak perduli walaupun dia memiliki aura negatif, kebaikannya hari ini cukup meyakinkan aku bahwa dia adalah orang yang baik.
" Terimakasih atas pengertiannya ka. "
Ucapku dengan lega dan tersenyum lebar kepada pria itu.
" Iya sama-sama! Sekarang kalian bertiga sudah bisa kembali ke asrama masing-masing dan untuk kegiatan yang sedang berjalan hari ini tidak usah kalian ikuti terlebih dahulu. "
Jawab pria itu sambil tersenyum ramah dan sekali lagi dia memberi kami keringanan untuk tidak mengikuti kegiatan yang sedang berjalan hari ini.
" Sekali lagi terimakasih banyak ya kak! Kami permisi dulu. "
Ucap kami dengan sangat lega dan juga sangat gembira kemudian kami pun keluar dan kembali ke mobil untuk memindahkan barang bawaan kami ke kamar.
Kami mengusungnya ke ruang pengawas asrama terlebih dahulu untuk pemeriksaan barang sekalian meminta kunci kamar kami semuanya selesai kami pun kembali mengusungnya satu persatu dari ruang pengawas asrama ke kamar kami di lantai tiga.
Kami tidak langsung memasukkan barang kami kedalam kamar, kami menunggu sampai semuanya terkumpul baru kami akan membuka pintu dan masuk untuk mengatur barang kami serapih mungkin.
" Loh! Ranjang yang di atas ranjang ku sudah ada yang menempati? "
Ucap Riana dengan bingung dan kemudian aku dan klara pun masuk untuk melihatnya.
" Sepertinya si kelya sudah datang. "
Ucap Klara dengan datar lalu dia pun mengajak aku untuk kembali beres-beres barang hingga akhirnya kami pun selesai berberes-beres di pukul empat sore.
" Huh! Akhirnya selesai juga ya. "
Ucap Klara dengan tenang lalu dia pun merebahkan tubuhnya ke atas kasurnya.
" Iya nih. "
Jawab Riana yang juga ikut merebahkan tubuhnya ke kasurnya sendiri.
" Tok! Tok! Tok! "
Ketika aku hendak memanjat tangga untuk naik ke ranjangku yang berada di atas ranjang Klara, tiba-tiba saja ada suara ketukan pintu dari luar kamar.
" Siapa itu? "
Ucap Klara dengan penasaran.
" Airin coba kamu lihat! "
Riana memerintahkan aku untuk memeriksanya dan dengan senang hati aku pun berjalan menuju pintu untuk memeriksanya.
" Siapa ya? "
Tanyaku ketika membuka pintu dan kemudian aku pun tak menyangka dan sangat terkejut.
" Keyla!!! "
Ucapku menyebut namanya dengan tidak percaya.
" Airin!!! "
Dia berbalas menyebutkan namaku dengan sangat gembira.
" Kamu beneran Keyla yang aku kenal kan? "
Aku bertanya kepadanya dengan rasa ragu dan juga disertai kegembiraan.
Dia hanya tersenyum bahagia dan kemudian menganggukkan kepalanya untuk menjawabku.
" Keyla! "
Dengan bahagia aku pun langsung memeluknya lalu mempersilahkannya untuk masuk ke dalam kamar.
" Apaan sih Rin? Kok berisik sekali? "
Ucap Riana dengan kesal lalu bangkit dari ranjangnya untuk melihat aku dan tamu yang datang.
" Wah! Keyla si pembawa bencana! "
Ucap Riana yang juga kaget dan langsung menghampiri Keyla dengan sangat gembira. Itu semua terlihat dari wajahnya. Riana memeluk Keyla untuk melepaskan rindu terhadap Keyla yang mungkin ia rasakan.
Pada awalnya Keyla tersenyum bahagia ketika melihat ada Riana di kamar ini, namun tiba-tiba saja dia cemberut dan terlihat kesal setelah mendengar Riana memanggilnya dengan sebutan " Keyla si pembawa bencana. " ekspresi wajahnya sungguh sangat ironis dan membuat aku hampir tertawa.
" Mohon maaf, apakah kita saling mengenal satu sama lain? "
" Serius anda tidak mengenal saya? "
Ucap Riana dengan dialek ala-ala percakapan di sebuah film.
" Emm.. sepertinya benar begitu. "
Jawab Keyla dengan angkuhnya seperti Aktor film televisi.
" Baiklah! Apakah perlu berkenalan? "
Ucap Riana dengan ramah sambil mengulurkan tangannya yang hendak berjabatan tangan.
Mereka berdialog layaknya sedang berakting film dan fenomena ini cukup membuat hiburan aku terhibur.
" Kayaknya enggak perlu deh! "
Tolak Keyla dengan angkuh lalu menepis tangan Riana dengan kejam.
" Aw... Sakit tau! Kok niat banget menepis tangan aku sih? "
Ucap Riana kesakitan lalu mengusap-usap tangannya yang merah karena tepisan si Keyla.
" Eh kekencangan ya? Maaf. "
Ucap Keyla sambil tertawa lalu dia pun meraih tangan Riana yang di tepis olehnya lalu ikut mengelusnya dan terus meminta maaf.
" Hahaha ngakak banget sampe pingin meninggal. "
Ucapku sambil tertawa lepas begitu juga dengan Klara.
Klara juga ikut tertawa tapi tawanya tak selepas aku. Mungkin karena dia belum terlalu mengenal Keyla makannya dia hanya bisa tertawa kecil saja.
" Sepertinya kamu ada dendam yang tersirat makanannya niat banget! "
Ucap Riana dengan kesal dan terus mengelus-elus tangannya.
" Enggak Rin! Ini murni ketidak sengajaan yang telah aku perbuat, percaya deh! Sekali lagi aku minta maaf ya! "
Ucap Keyla sambil terus tertawa kecil karena dia tidak menyangka kalau tepisannya bisa menjadi fatal seperti ini.
" Iya! iya! "
Ucap Riana dengan kesal dan kemudian dia pun kembali ke ranjangnya lalu duduk dengan wajah yang murung karena kesakitan.
" Yah! Riana, kamu marah? "
Ucap Keyla yang mulai merasa bersalah tetapi sekali-kali masih mentertawakan kejadian konyol yang barusan saja terjadi.
" Apa? Gak salah dengar? Riana marah? Kayaknya enggak mungkin deh! "
Ucap Riana dengan angkuh setelah dia berhenti mengelus tangannya.
Kemudian dengan tersenyum manja Keyla pun melangkah menghampiri lalu memeluknya.
" Idih! Jijik! "
Ucap Riana dengan kesal lalu Keyla pun melepaskan pelukannya.
" Kasar amat sih! By the way kamu tega banget bilang aku pembawa bencana. "
Ucap Keyla memasang wajah sedih dan tidak terima.
" Yah! Baperan banget sih! "
Ucap Riana yang berbalik memeluknya Keyla dengan manja kemudian Keyla pun menolaknya.
" Aku jijik! "
Ucap Keyla yang mulai berlakon lagi lalu dia pun berlari ke lemarinya untuk mengambil sehelai handuk dan pakaiannya kemudian dia pun pergi ke kamar mandi.
"Coba sini aku lihat tanganmu! "
Ucapku menghampiri Riana sambil tertawa.
" Nih! Merah banget kan! "
Ucap Riana dengan serius dan kemudian Klara juga ingin melihatnya.
" Kalian sudah saling kenal ya? "
Tanya Klara dengan penasaran dan kemudian kami pun menjawabnya dengan bercerita panjang lebar untuk menjelaskan awal mula hubungan persahabatan kami dengan Keyla.
Ngomong ngomong sebelumnya aku tidak pernah melihat kalau ternyata Riana dan Keyla sangat akrab seperti yang tadi aku lihat dan setelah aku tanyakan kepada Riana dia pun menjawab kalau dia mulai akrab dengan keyla setelah dia memiliki Handphone setahun silam. Semenjak itu katanya mereka sering berkomunikasi lewat media sosial sehingga mereka sangat akrab hingga saat ini.
–Bersambung–