The Darkness University: Breathing In Two Realms 3

The Darkness University: Breathing In Two Realms 3
Chapter.42–Kinanti2



Kinanti pada awalnya sangat terpukul saat dia mengetahui bahwa dirinya bukanlah manusia lagi dan hal lain yang membuat ia sedih adalah ketidaktahuan pihak universitas kalau dia sudah tiada. Pihak universitas menyatakan bahwa Kinanti melanggar aturan asrama untuk tidak keluar malam dan karena itu pihak universitas ini tidak mau bertanggung jawab atas hilangnya dia dari universitas ini.


Lebih sedihnya lagi Kinanti bilang dia menyaksikan orangtuanya menangis mendatangi kantor untuk protes namun malah diabaikan oleh pihak universitas.


Kinanti selalu berusaha untuk menemukan jasadnya dan suatu saat dia memergoki ibu Margareth sedang di ancam oleh orang yang memakai masker dan Hoodie hitam. Kinanti penasaran lalu menguping. Kata Kinanti dia mendengar kalau seseorang misterius itu mengancam ibu Margareth untuk tutup mulut karena ternyata ibu Margareth menyaksikan penikaman malam itu.


Kinanti pun kaget mengetahui itu, dia memutuskan untuk mengikuti pria misterius itu untuk mencari informasi namun ketika Kinanti Henda mengikuti pria itu keluar dari perpustakaan, dia pun tertahan di dalam. Dia tidak bisa mengikuti pria itu dan ketika Kinanti lihat di kegelapan, pria itu mengeluarkan asap hitam dari sekujur tubuhnya. Kinanti merasa kalau pria ini bukanlah pria biasa.


Kinanti yakin kalau pria itu adalah dalang dari kematian misterius mahasiswi di universitas ini.


Sebelum aku terbangun, Kinanti berpesan kepadaku untuk selalu berhati-hati dalam memecahkan misteri di universitas ini dia berharap aku bisa menyelesaikan semuanya dengan mulus dan juga bisa menemukan jasadnya agar keluarga dan arwahnya bisa jadi lebih tenang lagi.


“Huh”


Aku lega pada saat aku bangun dari tidurku karena setidaknya aku sudah tau beberapa petunjuk kasus ini. Aku juga sudah tau alasan mengapa ibu Margareth begitu agresif ketika melihat kami. Dia tidak mau sampai aku dan Riana memecahkan misteri ini karena dia tidak mau dituding membocorkan rahasia dari si pria misterius itu karena itu bisa menjadi ancaman baginya.


Aku bengong duduk di atas kasurku untuk memikirkan cara lain agar aku bisa mendapatkan buku data mahasiswa tanpa melibatkan kekhawatiran ibu Margareth. Aku terus berpikir hingga akhirnya aku pun berpikir untuk meminta bantuan Darius.


Aku akan meminta Darius untuk meminjam buku data mahasiswa dan menyuruh dia untuk membuat alasan agar ibu Margareth tidak curiga.


Setelah mendapat ide itu, aku pun langsung turun dari ranjangku untuk mengambil handphoneku di dalam tas.


“kamu kenapa Rin?” tanya Keyla kepadaku, dia heran melihatku yang sangat terburu-buru.


“aku baru mendapatkan ide untuk memecahkan kasus ini” jawabku dengan cuek lalu aku pun langsung menghubungi Darius setelah aku mengambil handphoneku.


Setelah Darius mengangkat telepon aku langsung menceritakan semuanya. Mulai dari alasan aku ingin meminjam buku itu dan mengapa bukan aku sendiri yang pergi untuk meminjam buku itu. Semua alasan yang aku ceritakan kepadanya adalah kebohongan karena aku harus merahasiakan kebenaran buruk dan berbahaya ini darinya.


“wah! Kebetulan banget Rin! Buku itu ada di aku” seru Darius dengan bersemangat.


“serius? Ya udah besok aku pinjem ya! See you Darius” ucapku dengan sangat gembira.


Aku tidak menyangka kalau ternyata keberuntungan menghampiriku. Aku tidak sabar menunggu esok hari karena aku ingin segera menyelesaikan kasus di universitas ini.


“Rin! Kamu kelihatan gembira banget, kenapa?” tanya Klara kepadaku.


“Ra... Ternyata buku data mahasiswa ada di Darius dan besok Darius bakalan pinjemin buku itu ke aku!” aku berseru dengan gembira.


Kemudian aku pun duduk bersama Klara dan Keyla untuk menceritakan tentang kisah Kinanti. Mereka menyimak ceritaku dengan seksama.


Sungguh keji, aku tidak menyangka pihak universitas ini sampai memberikan uang tutup mulut. Tetapi di lain sisi aku memaklumi mereka karena mereka sudah membuat peraturan untuk tidak keluar pada waktu yang telah ditetapkan dan Kinanti melanggarnya. Wajar mereka lepas tanggung jawab karena mereka sebelumnya sudah memberikan larangan.


Ini tidak adil bagi Kinanti, dia seperti buah simalakama yang mendapatkan resiko di setiap pilihannya. Jika dia tidak menolong arwah penasaran itu maka dia akan di teror dan ketika dia menolong pun dia malah tewas mengenaskan bahkan di anggap telah menghilang.


Nasib Kinanti begitu malang, aku harap aku bisa menolongnya untuk menemukan jasadnya sekaligus menyelesaikan kasus di universitas ini juga menyelesaikan misteri Belia Sarah.


“huh...” Riana menguap lebar.


Riana baru saja bangun dari tidurnya lalu dia pun pergi ke dapur dengan keadaan setengah sadar.


“kamu mau ngapain Riana?”tanyaku kepadanya namun dia terus berjalan dengan setengah sadarkan diri.


“bruk!!” Riana pun tiba-tiba terjatuh di lantai dapur.


Aku, Keyla, dan Klara khawatir dengannya lalu menghampirinya ke dapur bertanya ada apa dengannya.


“aduh... Sakit banget!!! Kok aku bisa ada disini sih? Padahal kan aku pingin ke kamar mandi” ucap Riana yang baru sadar setelah jatuh. Dia kesakitan dan meminta kami untuk membantunya bangun.


“makannya kalau belum benar-benar sadar gak usah sok-sokan jalan! Jatuhkan jadinya” godaku sambil tertawa.


Kami bertiga mentertawakan Riana sedangkan Riana dengan wajah yang kesakitan serta kesal melanjutkan berjalan ke kamar mandi.


Setelah Riana kembali dari kamar mandi aku pun menceritakan tentang buku data mahasiswa yang kami cari dan setelah mendengar itu dia pun ikut gembira.


Karena sepulang dari kampus tadi aku dan Riana langsung tidur. Maka Klara dan Keyla pun belum makan siang katanya mereka menunggu kami bangun.


Sungguh setia, kami aku dan Riana memuji mereka berdua lalu kami pun pergi ke dapur untuk memasak lauk makan siang kami ya tertunda. Sekarang ini sudah jam tiga sore apakah ini masih bisa disebut makan siang.


Untuk menu makan siang kami yang tertunda, kami hanya memasak mie instan saja karena hanya itulah jalur ninja yang kami punya ketika mager(males gerak) seperti ini. Untuk toping mie instan sendiri, kami menggunakan sosis, udang, dan telur mata sapi.


Setelah siap, akhirnya kamipun menikmatinya di atas karpet untuk menambah suasana supaya menjadi semakin seru, aku pun menghidupkan laptop Klara dan aku memutar film Korea. Sambil menyantap makanan kami masing-masing, kami membayangkan menjadi pemeran utama dalam film Korea ini.


Momen ini sangat berharga, aku tau pasti suatu saat nanti kami akan merindukan saat-saat seperti ini. Aku harap kami bisa menjadi sahabat selamanya agar saat-saat seperti ini bisa kami kenang dengan indah di masa yang akan datang.


Bersambung...