The Darkness University: Breathing In Two Realms 3

The Darkness University: Breathing In Two Realms 3
Chapter.10 – Persetujuan



Setelah selesai makan kami pun langsung saja menemui ibu pemilik villa merah untuk menerima hadiah darinya. Kemudian pada saat kami selesai di beri hadiah, ibu pemilik villa merah pun meminta kami untuk foto bersama dengannya. Dia bilang nanti foto itu akan di pajang di lobby utama villa merah ini.


" Satu! Dua! Tiga! "


Hitung sang fotografer.


" Ckrik! "


Cahaya lighting pun menyambar kami dan kemudian sang fotografer pun melihat foto itu sejenak lalu dia pun bilang kalau fotonya sudah sangat bagus. Kami hanya perlu foto sekali dan kemudian barulah kami di antar ke kamar kami masing-masing.


Di villa merah ini kami sudah memiliki kamar khusus untuk kami. Tak hanya itu, ibu pemilik villa merah ini juga memberikan kami fasilitas khusus hanya untuk kami pokoknya kami adalah tamu yang sangat spesial di sini.


" Krek.. "


Pegawai membukakan pintu kamarku dan kemudian ketika aku masuk aku pun melihat semua barang bawaan ku sudah ada di dalamnya dan juga sudah disusun dengan sangat rapi.


" Huh. "


Dengan tenang aku pun langsung menghampiri kasur empuk dan kemudian aku pun merebahkan badanku. Sejenak aku memejamkan mataku untuk pergi ke alam mimpi ( Tidur ).


Setelah beberapa saat kemudian aku pun bangun dari alam mimpi dan kemudian aku pun memutuskan untuk bertemu dengan ka Amara. Aku ingin meminta maaf kepadanya tentang hal yang tadi membuatnya berdebat dengan ka Aditya. Aku pergi menuju kamar ka Amara dan sesampainya di sana aku pun langsung menekan bell kamarnya.


" Ting Tung. "


" Krek. "


Setelah menekan bel ka Amara pun membukakan pintu untukku dan kemudian dia pun mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam kamarnya.


" Ada apa Rin? "


Tanya ka Amara kepadaku.


" Cuma mau main aja kak, bosan di kamar sendirian. "


Jawabku sambil duduk di kursi dekat lemari kecilnya.


" Oh gitu? Baguslah Kaka juga bosan sendirian di sini. "


Jawab ka Amara sambil membuka kulkas dan mengambil dua minuman ringan dan dia memberikan satu kepadaku.


" Terimakasih ka. "


Ucapku ketika aku menerima minuman itu darinya.


" Iya. "


Jawab ka Amara dan kemudian dia pun membuka minuman ringannya lalu dia pun meminumnya.


Sekarang ka Amara terlihat lebih baik. Ini waktu yang sangat tepat untuk meminta maaf kepadanya.


" Ka. "


Ucapku sambil memain-mainkan minuman ringan itu dengan mengoper dari tangan kananku dan ke tangan kiriku.


" Emm.. "


Saut ka Amara yang masih meneguk minumannya.


" Maaf ya kak gara gara pertanyaan ku tadi Kaka jadi berantem sama ka Aditya."


Ucapku dengan tulus dan kemudian aku pun berhenti untuk memainkan minuman ringan itu.


" Uhuk.. Uhuk.. "


Ka Amara batuk setelah mendengar aku bicara.


" Kenapa ka? "


Tanya ku dengan bingung.


" Nggak papa Rin! Kaka cuma tersedak aja gara gara minumannya gak pelan-pelan. "


Jawab ka Amara dengan mengambil tisu untuk mengelap air di bajunya.


" Oh iya kamu gak usah masukin ke hati soal perdebatan kami tadi! Itu tadi bukan salah siapa-siapa, cuma keputusan tadi memang belum Kaka bicarakan dengan dia makannya dia kaget dan jadi marah tadi. "


Jawab ka Amara dan juga jelasnya kepadaku.


" Tapi apa yang dikatakan ka Aditya tadi itu memang benar ka! Yayasan rumah batin hanya bagi orang yang memiliki mata batin yang terbuka, bagaimana aku tidak merasa bersalah? Kan aku yang menyarankan Kaka untuk membuka kos-kosan di yayasan. "


Sahutku yang masih merasa bersalah atas perdebatan antaranya dan ka Aditya tadi.


" Sudahlah Rin! Lupakan saja Kaka malas memikirkan hal itu. Kamu juga gak usah ambil pusing, anggap aja kejadian tadi tidak pernah terjadi. "


" Baik ka. "


Jawabku mencoba untuk mengerti dirinya dan kemudian aku pun membuka minuman ringanku lalu aku meminum seteguk setelah itu aku menghidupkan televisi di kamarnya.


" Rin! Yayasan rumah batin itu terlalu besar untuk kami yang hanya tinggal berempat setelah kamu dan Riana pergi nanti. "


Ucap ka Amara dengan nada yang sangat mendalam.


" Nanti Kaka akan mencoba untuk berbicara dengan ka Aditya, Kaka akan membujuknya agar dia setuju kalau kita membuka kos-kosan di yayasan. Supaya bangun yayasan yang luas itu tidak terasa sepi lagi. Jadi kamu tidak usah berkecil hati karena kejadian tadi, ini semua juga keinginan Kaka dan yang lainnya kok. "


Sambung ka Amara mengungkapkan pikirannya kepadaku.


" Terimakasih ka! Aku bakalan ikut Kaka untuk membujuk ka Aditya supaya dia setuju dengan pembukaan kos-kosan di yayasan. "


Ucapku berterimakasih dan juga mendukung ka Amara untuk membujuk ka Aditya.


" Kamu memang yang terbaik. "


Ucap ka Amara sambil tersenyum lalu kami pun minum bersama dan menikmati film seru di televisi kamarnya sehingga kami memutuskan waktu yang tepat untuk berbicara dengan ka Aditya.


Kami pergi dari kamar ka Amara untuk pergi ke kamar ka Aditya dan mengajaknya untuk berbicara dengannya namun setelah kami ke kamarnya ternyata dia tidak ada disitu.


Kemudian kami pun pergi untuk mencarinya hingga akhirnya kami pun bertemu dengannya di restoran villa merah ini. Kami melihatnya sedang duduk sendiri, dia murung seperti menyesali sesuatu.


" Pas banget nih! Kaka lapar bagaimana denganmu? "


Ucap ka Amara dengan riang.


" Hem.. iya nih ka aku juga, kebetulan ka Aditya di sini! Ini tempat yang cocok buat ngobrol. "


Jawabku sambil tersenyum.


" Ya udah mari kita samperin dia! "


Ajak ka Amara dan kemudian aku pun ikut pergi bersamanya untuk menghampiri ka Aditya.


" Hoy! Diam diam Bae! Ngopi ngapa ngopi? "


Ka Amara mengejutkan ka Aditya dengan gurauan bahasa Jawa yang menurut ku sedikit menggelitik.


" Eh kalian! Mana yang lainnya? "


Ucap ka Aditya dengan wajah yang masih terlihat murung.


" Pada di kamar masing-masing. "


Jawab ka Amara dan kemudian dia pun duduk di samping ka Aditya sedangkan aku duduk berhadapan dengannya.


" Kok mukamu asem Gitu sih? "


Tanya ka Amara sambil menatap wajah ka Aditya dengan tajam, ka Amara bergurau dan juga menggodanya.


" Eh ni anak kenapa? Kok tumben ngambeknya gak terlalu lama? Udah gitu mulai Jumat lagi! "


Ka Aditya mulai ceria dan membalas tatapan tajam dari ka Amara dengan mengucapkan gurauan juga.


" Ka Amara pernah ngambek lama? Berarti ini bukan kali pertama kalian debat dong? "


Tanyaku kepada ka Aditya dengan ekspresi wajah yang penasaran.


" Hehe iya Rin! Ini bukan kali pertama kami berdebat, kami sudah sering berdebat dan selalu aja si Mak lampir ini ngambek jangka panjang. "


Jawab ka Aditya dengan sangat ramah, selama ini aku tidak tahu kalau sebenarnya ka Aditya sekonyol ini. Selama ini aku juga belum pernah melihat amarahnya yang seperti tadi.


" Ha.. ha.. ha.. ternyata Kaka asik juga ya! Nyesel baru tau Kaka yang sebenarnya. "


Ucapku sambil tertawa lepas dan kemudian kami pun terus berbincang bincang hingga akhirnya kami perbincangan kami arahkan kepada niat kami yang sebenarnya. Pada awalnya ka Aditya masih bersikeras untuk menolak pembukaan kos-kosan di yayasan, namun dengan perlahan-lahan kami pun menjelaskan kepadanya hingga akhirnya dia pun setuju dengan rencana pembukaan kos-kosan.


Kami sangat senang dan kemudian setelah persetujuan ka Aditya kami pun memesan makanan untuk merayakannya.


" Maaf ya Rin kalau Kaka tadi kelewatan dan membuat kalian khawatir. "


Ucap ka Aditya di dengan rasa bersalahnya.


" Iya kak, gak papa. "


Jawabku dengan tulus dan kemudian dia pun kembali tersenyum lalu setelah beberapa saat kami menunggu akhirnya makanan pun tiba dan dengan gembira kami makan bersama sama untuk merayakannya persetujuan ka Aditya untuk rencana pembukaan kos-kosan.


– Bersambung –