
Perjalanan menuju ke Taman makam Kamboja kami tempuh dengan waktu sekitar kurang lebih sepuluh menit. Pemakaman ini terletak rumayan jauh dari pemukiman warga.
" Kita sudah sampai di taman makam Kamboja. "
Staf pria itu pun langsung memarkirkan mobil di depan pagar taman makam.
" Silahkan. "
Ucap staf pria yang mendampingi kami, dia membukakan pintu dan mempersilahkan kami untuk turun.
" Mari ikut dengan saya. "
Ajak staf pria itu setelah kami semua turun dari mobil.
Kami mengikutinya memasuki gerbang taman makam untuk pergi menuju makam anggota kami yang sudah tiada semenjak dua tahun silam.
" Airin... Airin... "
Suara arwah pengganggu pun mulai terdengar ketika kami melewati pintu gerbang. Mereka memanggilku dengan nada lirih menyeramkan. Aku tidak mau melihat mereka yang memanggil itu, aku terus bersikap seakan tidak ada apapun dan terus berjalan seperti biasa. Aku tidak mau menanggapi mereka.
" Airin kamu di ganggu ya? "
Tiba tiba ka Amara mendekatiku dan berbisik di telingaku, dia tau kalau aku sedang di ganggu.
" Iya kak. "
Aku menjawabnya dengan kembali berbisik ke telinganya.
Kemudian dia pun mengangguk dan mengangkat tangan kanannya lalu dia melepaskan salah satu gelangnya dan memberikannya kepadaku.
" Untuk apa ka? "
Tanyaku setelah aku menerima gelang darinya.
" Pakaian saja, gelang itu akan melindungimu. "
Jelas ka Amara sambil tersenyum.
" Baik ka! Aku pake ya. "
Ucapku sambil memakaikan gelang itu ke tanganku. Kemudian kami pun kembali berjalan untuk menyusul yang lainnya.
Ka Amara menang benar, setelah aku memakai gelang ini aku pun tidak mendengar panggilan panggilan mistis itu lagi dan aku pun mulai menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada lagi yang menggangguku.
" Nah ini makannya. "
Ucap Staf pria itu setelah kami sampai di lokasi pemakaman para anggota yayasan rumah batin.
Kemudian kami pun langsung menghampiri satu persatu makam untuk mencabuti rumput rumput kecil yang tumbuh di tanah makan mereka.
" Pak Rahman, kita membawa bunga? "
Tanya ka Amara setelah kami selesai membersihkan makam eyang Darmo dan yang lainnya. Mendengar itu pak Rahman si staf pria itu pun langsung terdiam sejenak dan menepuk dahinya.
" Waduh ketinggalan di mobil. "
Ucapnya dan kemudian dia pun kembali ke mobil dan menyuruh kami untuk menunggunya.
Sembari menunggu pak Rahman datang, kami merenungkan masa lalu bersama mereka sewaktu dulu ketika mereka masih hidup. Kami bernostalgia akan momen momen bersama mereka dulu hingga akhirnya setelah beberapa saat kami menunggu, Pak Rahman pun akhirnya kembali dengan membawa dua keranjang bunga yang di setiap keranjangnya ada perpaduan antara bunga merah dan bunga putih.
" Ini bunganya. "
Ucap pak Rahman dan kemudian ka Amara mengambil satu dan yang satunya lagi di ambil oleh Riana.
" Terimakasih pak. "
Ucap ka Amara sambil tersenyum kepada pak Rahman.
" Iya sama sama mbak! "
Ucap pak Rahman dengan murah hati.
" Bapak kenapa pak? Bapak lihat apa? "
Tanya ka Aditya dengan penasaran namun pak Rahman masih memasang wajah panik dan terus melihat ke arah kuburan yang ada di samping pohon besar.
" Puk. "
" Pak, bapak kenapa? "
Tanya ka Aditya sambil menepuk pundaknya dan kemudian pak Rahman pun baru terlihat seperti biasa lalu dia pun bilang kepada kami kalau dia akan menunggu di dalam mobil saja. Dia pun pergi meninggalkan kami dengan wajah datar dan santai seakan ada yang hal yang ganjil dari prilakunya.
" Sudah adik adik! Ayo kita taburi bunga ini ke kuburan eyang Darmo dan yang lainnya supaya cepat selesai, kan kita juga akan ada agenda sepulang dari sini! Ayo buruan. '
Ucap ka Amara mengalihkan perhatian kami yang sejak tadi melihat pak Rahman yang terlihat aneh setelah sadar dari kepanikannya.
Kami pun kemudian menaburkan bunga ke satu persatu makam mereka dengan berganti-gantian lalu setelah selesai kami pun berpamitan kepada mereka para penghuni kubur setelah itu baru kami kembali ke mobil.
Sesampainya kami di mobil, kami pun menjumpai pak Rahman yang duduk di bangku supir dengan tatapan kosong sehingga membuat kami khawatir akan dirinya, kami takut kalau dia kerasukan jin penghuni taman makam ini.
" Airin coba kamu cari tali! "
Perintah ka Aditya sambil mengawasi pak Rahman yang masih menatap lurus dengan tatapan kosong.
" Baik ka. "
Jawabku dengan singkat dan kemudian langsung pergi ke bagasi mobil ini untuk mencari apakah ada tali di situ.
" Ketemu Rin? "
Tanya ka Aditya dengan gugup.
" Ketemu ka. "
Jawabku dengan singkat dan kemudian aku pun langsung memberikan tali itu kepada ka Aditya.
" Kamu Riana! Jaga Dara dan Gita! Airin dan Amara bantu Kaka untuk mengikat pak Rahman. "
Ucap ka Aditya dengan panik.
" Kenapa di ikat ka? "
Tanyaku dengan penasaran dan kemudian ka Aditya pun malah memarahiku dan katanya dia akan menjelaskannya nanti.
Kemudian tanpa basa-basi lagi kami pun langsung memulai untuk pengikatan pak Rahman. Aku dan ka Amara memegangi tangan pak Rahman sesuai perintah ka Aditya dan kemudian ka Aditya pun beraksi untuk mengikat kaki terlebih dahulu lalu baru dia mengikat kedua tangan pak Rahman.
" Untungnya pak Rahman tidak memberontak. "
Ucap ka Aditya dengan lega dan kemudian dia pun meminta aku dan ka Amara untuk membantu memindahkan pak Rahman ke bangku sebelah supir lalu ka Aditya menyuruh kami semua untuk naik dan dia yang mengambil alih untuk menyetir mobil.
Setelah kami berada cukup jauh dari taman makam Kamboja barulah ka Aditya menjawab pertanyaanku tadi.
Alasannya mengikat pak Rahman karena dia takut pak Rahman akan kesurupan dan memberontak di tempat yang sepi itu. Ka Aditya tidak langsung menanggapinya karena dia merasa lebih baik jika ditangani di tempat ramai. Dia bilang dia akan menanganinya sesampainya kami di villa merah nanti.
" Kesurupan? Memberontak? "
Ucapku dengan bingung.
Setelah mendengar penjelasan dari ka Aditya, aku pun merasa sangat pusing dan kembali teringat tentang kejadian buruk yang pernah ku alami di villa merah. Kejadian kejadian kelam itu muncul di pikiranku bagaikan sebuah cuplikan video seram. Aku rasa traumaku terhadap masa lalu kambuh setelah mendengar jawaban dari ka Aditya tadi. Terlebih lagi kata-kata kesurupan dan memberontak terus terdengar di telingaku.
" Aaaaa.... "
Aku menutup kupingku dan berteriak karena aku tidak mau lagi mendengar bisikan yang menghatui pikiran ku.
" Kamu kenapa Rin? "
Tanya ka Amara dengan panik dan kemudian dia pun membacakan sesuatu ke telingaku hingga akhirnya rasa pusingku memuncak dan membuatku tak melihat apa pun dan bahkan aku juga tidak bisa merasakan apa pun.
– Bersambung –