The Darkness University: Breathing In Two Realms 3

The Darkness University: Breathing In Two Realms 3
Chapter.15 – Beres beres kamar kosong 1



Pagi telah tiba, kini saatnya untuk aku bangun dan bersiap untuk membereskan kamarku terlebih dahulu sebelum nanti aku dan yang lainnya akan beres beres kamar yang kosong untuk mempersiapkan pembukaan kos-kosan.


" Huh! "


Aku melepaskan kantukku dan kemudian aku pergi ke kamar mandi terlebih dahulu untuk cuci muka dan juga gosok Gigi, setelah itu baru aku keluar untuk membersihkan kamarku.


Aku memulainya dengan merapikan kasurku dan kemudian baru aku membereskan apa yang menurutku kurang rapi.


" Airin. "


Tiba tiba ada yang memanggil namaku dan membuat aku bingung sejenak, kemudian aku pun menoleh kebelakang dan melihat kalau ternyata yang memanggil namaku itu adalah si Belia.


" Sudah lama kita tidak berjumpa. "


Ucapku sambil tersenyum dan kemudian aku pun menghampirinya dan menggandeng tangannya. Aku mengajaknya duduk di kasur untuk berbincang-bincang.


" Kamu terlihat lebih cerdas dan tegar setelah cukup lama kita tidak berjumpa. "


Belia menyanjung diriku dengan manis.


" Kamu terlalu berlebihan. "


Jawabku dengan tersipu malu dan kemudian kami pun terus berbincang panjang lebar hingga akhirnya Belia pun memberitahu aku tentang maksud utamanya menjumpai aku saat ini.


Dia bilang aku harus ingat kalau aku belum membantunya untuk menyelesaikan urusannya yang belum selesai di dunia ini. Dia juga bilang kalau urusannya akan berhubungan dengan universitas swasta tempat aku berkuliah nanti. Karena ingin penjelasan yang lebih, aku pun meminta kepadanya untuk menjelaskan secara rinci kepadaku agar aku tidak terlalu bingung untuk membangunnya, namun dia pun bilang dia akan membahasnya ketika aku sudah sampai di universitas itu lalu dia pun langsung pergi menghilang seperti angin.


Setelah dia pergi, aku pun langsung merapikan beberapa buku yang berantakan di atas meja belajarku setelah itu baru aku turun ke ruang makan untuk membantu ka Amara mempersiapkan peralatan makan.


" Pagi ka Amara! "


Aku menyapanya ketika aku masuk ke dalam ruang makan dan kemudian dia pun kembali menyapaku dengan manis.


Ketika aku hendak membantunya untuk mempersiapkan peralatan makan aku pun menyadari kalau ada yang terasa aneh lalu aku pun bertanya kepada ka Amara apakah dia merasakan hal yang aneh namun dia pun menjawab tidak.


Kemudian aku pun kembali membantunya untuk mempersiapkan alat makan hingga selesai dan tak lama setelah itu pengantar makanan delivery pun datang.


Aku dan ka Amara pun langsung menyambut delivery itu dan membantunya untuk membawakan menu sarapan kami ke ruang makan dan kemudian barulah aku menyadari keanehan yang kurasakan.


Aku merasa kekurangan orang, dimana yang lainnya? Dengan inisiatif sendiri aku pun langsung pergi menuju kamar Riana, Gita, dan Dara. Aku ingin melihat mengapa mereka belum bangun turun juga padahal waktu sarapan sudah tiba.


" Tok tok tok. "


Aku mengetuk pintu kamar Riana terlebih dahulu dan kemudian aku pun langsung masuk saja karena sepertinya sangat sunyi.


" Astaga Riana!!! Ayo bangun! Ini waktunya sarapan pagi woy! "


Seruku membangunkannya yang ternyata masih tertidur pulas.


" Hey Riana! Bangun!! "


Aku menggoyangkan badannya karena dia tidak menggubris.


" Kamu bandel banget sih! "


Aku kesal karena dia tidak menggubris sedikitpun.


Dia membuatku kesal dan kemudian aku pun pergi menghampiri jendelanya lalu aku membuka tirai agar sinar matahari membuat dia bangun dengan sendirinya.


" Aduh silau! Airin! Aku masih sangat mengantuk. "


Ucap Riana dengan keadaan yang masih mengantuk berat.


" Bangun! Udah jam berapa ini? Ka Amara menunggu kita dibawah, jangan lupa setelah sarapan kita akan beres beres kamar kosong untuk membuka kos-kosan loh. "


Ucapku sambil membuka semua tirai di kamarnya. Aku juga mengingatkannya kalau selesai sarapan nanti kami harus beres beres kamar kosong untuk membuka kos-kosan.


Setelah diingatkan barulah Riana memaksakan diri untuk bangkit dan melawan kantuknya. Dia lalu pergi ke kamar mandi sedangkan aku bilang kepadanya kalau aku akan pergi membangunkan yang lainnya.


Aku keluar dari dalam kamarnya dan kemudian aku pun menghampiri kamar Dara dan langsung masuk kedalam kamarnya. Aku pun langsung membuka seluruh tirai dan kemudian setelah dia bangun baru aku ingatkan dia bahwa waktu sarapan telah tiba.


Setelah dia bangun, aku pun langsung keluar dari kamarnya untuk membangunkan Gita.


" Krek. "


Aku membuka pintu kamar Gita dan masuk kedalamnya.


Zakroy glaza skoree***,


Ketika aku masuk, aku mendengar Gita menyanyikan lagu tidur yang berasal dari Rusia itu sambil duduk di depan cermin.


Dia menyanyikan lagu itu sambil menangis terisak-isak seolah sedang patah hati.


***Kto-to hodit za oknom,


I stuchitsya v dveri.


Tili-tili-bom,


Krichit nochnaya ptitsa,


On uzhe probralsya v dom,


K tem komu ne spitsya.


On idet… on uzhe blizko…


Tili-tili-bom,


Ty slyshish’, kto-to ryadom?


Pritailsya za uglom,


I pronzaet vzglyadom.


Tili-tili-bom,


Vse skroet noch’ nemaya,


Za toboy kradetsya on,


I vot-vot poymaet.


On idet… on uzhe blizko***…


Dia terus bernyanyi sampai selesai dan setelah dia selesai bernyanyi barulah aku menghampirinya dan bertanya apakah dia baik baik saja? Kemudian dia pun kaget dan langsung menghapus air matanya.


" Aku tidak apa apa ka. "


Jawabnya dan kemudian dia pun tersenyum kepadaku.


Senyumannya sangat manis namun aku tau kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu. Dia sedang patah hati, apakah mungkin dia sedang merindukan sosok ibundanya.


" Gita, kamu rindu ibumu dek? "


Tanyaku sambil mengusap kepalanya.


" Tidak kak, Gita gak kangen kok. "


Jawab Gita yang terlihat menahan kesedihannya dan menutupi dengan senyuman.


" Jujur aja dek! Kaka tau kalau kamu sedang rindu ibumu. "


Ucapku yang terus mendesaknya untuk jujur kepadaku dan kemudian dia pun mulai tidak kuat menahan kesedihannya dan air matanya pun mengalir deras membasahi pipinya.


Kemudian aku pun memeluknya dan berkata kepadanya kalau maksudku mendesaknya untuk jujur adalah supaya dia tidak merasa tertekan karena memendamnya sendiri. Aku juga memintanya untuk menangis sejadi jadinya karena itu bisa membuat dia lebih baik nantinya. Aku memintanya untuk mengungkapkan kesedihan yang ada dihatinya supaya setelah selesai menangis nanti dia dapat merasa lebih tenang. Aku memintanya seperti ini karena aku tau cara ini ampuh untuk menghapus kesedihan seperti yang pernah ku alami dulu.


Aku terus mendampinginya hingga dia selesai menangis. Kemudian aku pun memintanya untuk kembali beristirahat karena setelah menangis seperti itu pastinya menguras energi yang cukup banyak. Untuk mengantarnya ke alam mimpi, aku pun kembali menyanyikan lagu tidur yang berasal dari Rusia itu, kali ini dia tersenyum mendengar lagu itu hingga akhirnya dia pun terlelap.


Dengan perlahan aku pun menyelimutinya dan kemudian aku keluar dari dalam kamarnya secara perlahan.


" Huh! "


Aku menghela napas dan kemudian aku pun menghebuskannya. Gita sangat malang dan kesedihannya hari ini membuat aku juga ikutan sedih dan mengingat kedua almarhum orang tua ku yang sudah berada di dunia lain.


" Airin! Udah turun semua kan? "


Tanya Riana yang baru saja keluar dari dalam kamarnya dan kemudian aku pun menjawab sudah lalu aku turun menuju ruang makan bersamanya.


–Bersambung–