
Waktu terus berjalan dan kami tetap berada di sini untuk menjaga ka Adit. Beberapa hari yang lalu aku dan klara pergi ke rumah untuk mengambil pakaian ganti kami sedangkan Riana tetap tinggal untuk menjaga ka Adit. Setelah mengambil pakaian ganti waktu itu kami tidak pernah lagi keluar dari area rumah sakit sampai sekarang.
Sudah hampir seminggu aku dan kedua temanku menjaga ka Adit disini. Aku mulai kebingungan karena waktu liburku hanya tersisa dua hari lagi.
Aku sudah mencoba untuk menghubungi nomor ka Haura untuk memberitahu dia tentang kejadian yang menimpa ka Adit namun sepertinya dia sudah menukar kartunya. Dia tidak bisa lagi dihubungi sehingga membuat aku kesal dan sempat membuat aku berpikir untuk menunda kuliahku untuk menjaga ka Adit disini karena aku berpikir saat ini hanya aku yang dimiliki oleh ka Adit dan tidak ada salahnya kalau aku mengambil langkah itu.
Kemudian aku pun mendiskusikan tentang penundaan kuliahku dengan Klara dan juga Riana. Tak perlu menunggu waktu lama, Riana pun menyarankan aku untuk tidak perlu menunda kuliahku. Dia bilang ada baiknya aku menghubungi pihak keluarga dari Papa atau Mama untuk menggantikan aku menjaga ka Adit selagi aku kuliah.
Saran yang bagus! Aku terlalu mudah untuk putus asa sehingga aku tidak berpikir sampai ke saran Riana itu.
Kemudian aku pun langsung membuka HP ka Adit dan mencari kontak Tante Kirana yang aku harap dia bisa menggantikan aku untuk menjaga ka Adit selagi aku berkuliah nanti.
" Nah ini dia! "
Ucapku ketika aku menemukan kontak Tante Kirana lalu aku pun langsung menghubunginya.
" Halo Tante! "
Aku menyapanya setelah panggilanku di angkat olehnya.
" Iya halo Dit, ada apa? "
Tanya Tante Kirana kepadaku.
" Hai tan, ini Airin bukan ka Adit. "
Jawabku dengan sedikit tertawa lalu dia pun juga tertawa gembira.
" Oh Airin sekarang sudah pulang ya? Tante kangen banget loh sama kamu. "
Jawab Tante Kirana kepadaku dan kemudian aku pun menjawab.
" Iya Airin juga Tan. "
Kami terus bercerita di panjang lebar. Tante Kirana menanyakan beberapa pertanyaan, salah satunya adalah tentang bagaimana aku selama tinggal di Yayasan Rumah Batin.
Aku pun menjawabnya, menceritakan semua pengalaman baikku selama tinggal di Yayasan Rumah Batin kepada Tante Kirana dan kemudian setelah aku selesai menceritakannya Tante Kirana pun kembali bertanya beberapa pertanyaan lagi kepadaku.
Aku terus mendengar dan menjawab setiap pertanyaan hingga akhirnya aku pun memutuskan untuk memberitahu keadaan ka Adit di akhir percakapan kami. Aku menceritakan semuanya kepada Tante Kirana sehingga membuat dia sangat terkejut mendengarnya.
Pada awalnya aku takut dia akan marah kepadaku karena aku terlibat dengan alasan mengapa ka Adit mencoba untuk bunuh diri. Aku takut Tante Kirana akan menuding aku sebagai pembawa masalah akan tetapi kekhawatiran itu tidak terjadi.
Tante Kirana menyuruh aku untuk tabah dan dia akan segera datang ke sini untuk menggantikan aku menjaga ka Adit kemudian dia pun menutup teleponnya karena dia bilang dia harus segera bersiap-siap untuk datang ke sini.
Bicara tentang Tante Kirana, dia adalah anak kedua dari Omaku. Dia adalah adik dari mamaku yang menjadi anak pertama dari Omaku. Dia singel parent yang memiliki sepasang anak kembar yang umurnya tiga tahun lebih muda dariku. Namanya Yana Amelia dan Yura Amelia. Tante Kirana di tinggal suaminya sejak si kembar berumur sepuluh tahun dan ketika itu aku dan Mama tinggal cukup lama di kediaman Tante Kirana untuk menghiburnya. Aku sangat dekat dengan mereka maka dari itu aku memilih untuk menghubungi mereka.
" Huh! "
Aku lega karena akhirnya aku tidak perlu lagi mengkhawatirkan tentang penjaga ka Adit.
" Bagaimana Rin? "
Tanya Klara kepadaku.
" Tanteku akan segera datang. "
Jawabku dengan gembira dan kemudian mereka pun ikut terlihat tenang setelah mendengarnya.
Aku bermimpi ka Adit hilang dari ranjangnya dan kemudian aku pun keluar untuk mencarinya.
" Kak Airin! "
Sapa anak kecil yang sepertinya tidak asing bagiku. Aku memperhatikan wajahnya dengan bingung.
" Kamu Dias Kai bukan? "
Tanyaku setelah dengan ragu dan kemudian anak itu pun menganggukkan kepalanya.
" Wah kok aku bisa mimpi seperti ini ya? "
Ucapku sambil menepuk-nepuk pipiku.
" Ini bukan mimpi kak! Ayo ikut Dias! "
Anak itu menarik tanganku lalu membawa aku berlari lari kecil entah kemana tujuannya.
" Ka Faris! Ka Amanda! Semuanya! Lihat aku bawa siapa. "
Seru anak itu dengan gembira dan kemudian semua orang yang merasa di panggil oleh anak ini datang dan berkumpul di satu tempat yang juga menurutku tidak asing di benakku.
" Syukurlah kamu tidak apa-apa! Bagaimana mana kamu bisa lepas dari Titan? "
Tanya seorang pria kepadaku dan setelah ku perhatikan dan kuingat-ingat namanya adalah Faris Aditama.
" Ini bukan alam mimpi ya? "
Tanyaku dengan bingung lalu kembali menepuk pipiku.
" Kan aku sudah bilang ini Dimensi alam bawah sadar. "
Jawab seorang gadis yang kalau tidak salah namanya adalah Farah Zubir si gadis yang sudah koma selama tiga tahun lamanya.
Mendengar jawaban dari si Farah aku pun masih tidak yakin lalu aku meminta mereka untuk meyakinkanku bahwa ini bukanlah alam mimpi lalu mereka meyakinkan aku dengan cara menceritakan tentang cerita pada saat pertama kali kami bertemu dan berkenalan pada lima hari lalu.
Aku pun menjadi yakin setelah mendengar cerita mereka dan kemudian aku pun menjawab pertanyaan Faris yang sebelumnya dia tanyakan kepadaku.
Aku bilang pada saat Titan hendak menangkapku, aku pun terbangun dari tidurku dan karena itu aku mengira bahwa Dimensi alam bawah sadar ini hanyalah sebatas mimpi buruk saja. Namun tidak disangka ternyata dunia ini bukanlah alam mimpi.
Mendengar jawabanku mereka pun terlihat bingung. Dengan penasaran aku pun bertanya kepada mereka kenapa mereka terlihat bingung.
Kemudian mereka pun bertanya
" Apakah aku adalah seorang yang sedang koma? " Lalu aku menjawab kalau aku bukanlah orang yang koma.
Sontak mereka terlihat semakin bingung dan kembali bertanya kepadaku tentang siapakah diriku ini? Aku tertawa dan menjelaskan bahwa aku adalah Airin kanyasara dan aku kembali bertanya kepada mereka " apakah ada yang aneh dariku? "
Mereka masih pangling dan kemudian kembali bertanya apakah aku memiliki kemampuan khusus karena tidak mungkin selain orang yang koma bisa masuk ke dalam dimensi ini kecuali dia adalah orang yang istimewa.
Mendengar penjelasan mereka aku pun baru sadar kalau aku adalah seorang gadis indigo dan kini aku baru sadar. Mungkin ini adalah kemampuan baruku.
–Bersambung–