The Darkness University: Breathing In Two Realms 3

The Darkness University: Breathing In Two Realms 3
Chapter.6 – Mood



" Duar.... Duar.... "


Suara petir bergema di atas awan. Aku bersama ka Amara, Riana, Gita, Dara, dan juga ka Aditya duduk bersama di ruang tamu untuk menemani Darius dan Reihan yang menunggu redanya hujan yang sangat deras ini.


Untuk menghilangkan rasa bosan, kami pun mengisi waktu dengan saling bercerita satu sama lain dan juga menanyakan beberapa pertanyaan kepada Darius dan Reihan hingga tak terasa kalau sore telah tiba.


Mereka berdua tidak akan bisa kembali ke penginapan mereka berdua karena tak hanya hujan deras yang menghalangi tekat mereka, angin kencang pun juga ikut menyertai derasnya air hujan dan petir yang terus berbunyi satu menit sekali.


" Wah! Hujannya deras sekali, sepertinya kalian harus bermalam di sini, kebetulan banyak sekali kamar kosong di yayasan ini, jadi kalian bisa pilih kamar sendiri untuk bermalam di sini karena sepertinya hujan deras ini akan berhenti esok hari. "


Tawara ka Aditya kepada mereka berdua sambil melihat ke arah jendela yang di baliknya ada hujan deras yang tak kunjung berhenti. Ka Aditya berkata demikian karena setelah dilihat-lihat dan diperkirakan olehnya sepertinya hujan deras ini akan terus turun hingga esok hari.


" Iya bener! Ada baiknya esok saja kalian kembali ke penginapan karena selain hujan, hari juga sudah mulai malam. Jadi, untuk hari ini kalian bermalam di sini saja. "


Sambung ka Amara meminta Darius dan temannya untuk bermalam di yayasan ini karena malam juga akan segera tiba.


" Baik ka! Kami akan bermalam di sini. "


Jawab Darius tanpa berpikir panjang.


" Baiklah kalau begitu Kaka dan para gadis akan pergi ke ruang makan dulu ya! Untuk mempersiapkan makan malam karena sepertinya malam ini makan malam kita tidak diantar oleh delivery jadi Kaka dan para gadis harus masak sendiri. Jika kalian lelah, ka Aditya akan mengantarkan kalian untuk memilih kamar. "


Ucap ka Amara kepada Darius dan Reihan setelah ka Amara melihat jam dinding yang menunjukkan pukul lima sore.


" Baik ka, Terimakasih. "


Jawab Darius dan Reihan kepada ka Amara dan kemudian ka Amara pun mengajak aku dan tiga teman lainnya untuk pergi ke ruang makan mempersiapkan makan malam.


" Mari saya antar kalian untuk memilih kamar. "


Ajak ka Aditya kepada mereka berdua setelah aku dan yang lainnya pergi ke ruang makan.


Mereka berdua mengangguk dan kemudian berdiri lalu mereka berdua pun mengambil tas mereka masing-masing kemudian mereka berdua ikut dengan ka Aditya untuk pergi memilih kamar mereka. Mereka terus mengikuti ka Aditya melewati tangga dan kemudian mereka berdua pun sampai di koridor kamar pria.


" Silahkan pilih kamarnya. "


Ucap ka Aditya kepada mereka berdua mempersilahkan untuk memilih kamar masing-masing.


" Kami pilih kamar ini aja ka. "


Ujar Reihan tanpa dengan mantap.


" Oh kalian sekamar aja? "


Tanya ka Aditya sambil mengerucutkan dahinya dan kemudian Reihan pun mengangguk.


" Baiklah kalau begitu, silahkan masuk dan beristirahat. Kalau ada perlu ketuk saja pintu kamar ini, ini adalah kamar saya yang berhadapan langsung dengan kamar kalian berdua. "


Jelas ka Aditya kepada mereka berdua.


" Iya kak, terimakasih ya ka. "


Ucap Reihan kepada ka Aditya dan kemudian ka Aditya pun masuk ke kamarnya begitu juga dengan mereka berdua.


" Ehem.. Airin, waktu makan siang tadi ada masalah apa dengan Riana? "


Tanya ka Amara kepadaku sembari memotong sayuran.


" Masalah? Riana? Kapan ka? "


Aku kembali bertanya kepadanya dengan benar benar bingung akan maksud perkataan ka Amara. Aku tidak merasa sedang bermasalah dengan Riana.


" Tadi waktu makan siang kamu batuk batuk, terus waktu di kasih minum sama Riana bukannya kamu berterimakasih malah kamu jutek sama dia. "


Ka Amara berhenti memotong sayuran sejenak untuk menjelaskan yang dia katakan tadi dan setelah itu aku pun baru ingat tadi siang aku menyindir Riana karena dia terlalu centil.


" Oh yang tadi siang itu ya kak? "


Ujar Riana mengambil alih untuk berbicara dengan ka Amara.


" Iya. "


Jawab ka Amara dengan singkat.


Ujar Riana dengan polos. Aku tau dia sengaja mengatakannya karena dia ingin melihat ku malu.


" Apa? Jadi karena itu? Pantesan aja. "


Ucap ka Amara dengan nada bercanda.


" Ih gak usah ngomongin itu lah. "


Ucap ku dengan kesal dan sedikit merasa malu.


" Cie cie Airin sudah mulai bersemi kembali. "


Ka Amara kembali menggodaku dan karena aku merasa malu aku jadi tidak bisa berkata apa-apa, aku hanya bisa diam mendengarkan sindiran mereka yang membuat aku merasa kesal dan juga malu. Mereka terus menyindir ku dan juga menertawakan diriku hingga akhirnya waktu makan malam pun tiba.


" Udah Rin, kami bercanda doang kok. "


Ucap ka Amara yang sudah kelelahan mentartawakan ku.


" Iya Rin jangan di masukkan kedalam hati. "


Sambung Riana yang juga terlihat lelah mentertawakan ku.


Aku hanya diam dan terus melakukan apa yang harus ku lakukan dan setelah aku selesai melakukannya aku pun memutuskan untuk tidak ikut makan malam bersama. Setelah hidangan selesai di atas meja, ka Amara menyuruh Gita untuk memanggil ka Aditya dan dua tamu itu untuk segera turun dan makan malam bersama.


" Biar aku aja yang panggil. "


Ucapku dengan dingin dan kemudian aku pun langsung pergi untuk memanggil ka Aditya di kamarnya.


" Tok! tok! tok! "


Aku mengetuk pintu kamar ka Aditya.


" Krek.. "


" Ada apa Rin? "


Ka Aditya membuka pintu dan kemudian dia pun bertanya kepadaku.


" Makan malam sudah siap dihidangkan ka. Ka Amara suruh Kaka dan kedua orang tadi untuk makan malam bersama di bawah. "


Jawab ku masih dengan ekspresi wajah yang dingin.


" Oh baiklah. "


Jawab ka Aditya dan kemudian aku pun langsung pergi ke kamarku karena tadi aku sudah memutuskan untuk tidak ikut makan malam.


" Krek.. "


Aku membuka pintu kamarku namun tak tau kenapa semua pintu kamar yang ada di koridor ini ikut terbuka.


" Huh. "


Aku mengabaikannya dan kemudian aku pun langsung masuk ke kamar ku dengan membanting pintu dan pintu yang lain pun ikut terbanting dan mengeluarkan suara yang sangat kencang sehingga membuat diriku bingung.


" Kreek.. "


Aku kembali membuka pintu kamarku dan kemudian aku pun keluar untuk melihatnya.


" Aku tau ini pasti kerjaan kalian para makhluk gaib! Kalau kalian masih menggangguku! Aku tidak akan segan-segan membakar ruh kalian! "


Aku masih memiliki mood yang kurang baik maka dari itu aku tidak ambil pusing dan langsung mengancam mereka yang menggangguku


" Jdarr... "


Aku kembali membanting pintu kamar dan mereka pun benar benar berhenti menggangguku.


Aku masih merasa kesal dengan Riana dan ka Amara, bagiku gurauan mereka tadi terlalu berlebihan. Untuk memperbaiki mood ku aku pun memutuskan untuk membuang diri ke atas kasur. Kali ini aku akan tidur lebih cepat.


– Bersambung –