
Buku harian Varel sudah ku baca setelah aku selesai mempromosikan brosur kos-kosan kemarin. Sebagian besar isi buku hariannya menceritakan kekagumannya terhadap diriku, itu sungguh manis sehingga aku terbayang ekspresi wajahnya ketika dia sedang menulis semua isi hatinya itu.
Setelah kemarin aku membaca buku itu, aku pun jadi mengingatnya dan juga yang lainnya. Aku tidak bersedih, aku hanya rindu berat dan ingin sekali rasanya untuk bertemu mereka sebelum keberangkatan aku dan Riana menuju ke universitas swasta nanti sore.
Tak terasa kalau waktuku untuk berada di yayasan ini akan segera habis dengan hitungan jam saja.
Bicara tentang kunjungan ke panti asuhan dua hari silam, kami sangat merasa senang saat kami berada di sana. Kami disambut dengan sangat hangat oleh para pengasuh dan juga anak anak panti. Alasan mengapa kami sangat gembira adalah karena kami merasa hidup di tiga tahun lalu, dimana Yayasan Rumah Batin masih ramai dan hangat.
Ketika itu juga kami merasakan rasa rindu kami terhadap mendiang mendiang sahabat dan juga pengasuh kami dapat terobati. Kami sempat menolak ajakan ka Aditya untuk pulang karena kami masih ingin berada di kerumunan anak anak manis nan ramah itu.
" Tok Tok Tok. "
Suara ketukan pintu terdengar.
" Siapa? "
Aku bertanya kepada orang yang mengetuk pintu dan kemudian dia pun menjawab kalau dia adalah Riana, dia mengajak aku untuk berjalan-jalan keliling yayasan sebelum waktu keberangkatan kami tiba.
" Okeh! "
Jawabku lalu aku pun memakai sepatu terlebih dahulu sebelum aku keluar dan berjalan jalan bersamanya.
Setelah memakai sepatu aku pun langsung bergegas keluar dari kamar dan siap untuk berkeliling yayasan bersamanya.
Untuk yang pertama, kami berjalan mengelilingi seluruh koridor yang ada di yayasan ini dan kemudian kami berdua pergi ke Aula dan juga ruang makan.
Kami mengelilingi seisi yayasan sebagai tanda perpisahan kami dengan yayasan. Setelah itu kami berdua pun bertemu dengan ka Aditya, ka Amara, Dara, dan juga Gita yang terlihat seperti menantikan kami berdua datang ke ruang tamu.
" Joging bareng yuk. "
Ucap ka Aditya tersenyum kepada kami, lalu kami berdua saling bertatapan lalu tersenyum dan mengangguk untuk menjawab ka Aditya.
Dengan penuh semangat dan perasaan gembira, mereka pun bangkit lalu kami pun bersama-sama pergi ke taman untuk pemanasan terlebih dahulu.
Setelah selesai pemanasan kami pun langsung di lepas untuk berlari lari santai mengeluari lingkungan yayasan bersama-sama. Kami berlari sambil menikmati kesejukan kampung Damar yang asri ini. Kami berlari keliling kampung Damar dan tak lupa pula kami juga bermain di sungai yang airnya sangat jernih.
Kami menghabiskan waktu bersama dengan saling bersenda gurau intinya kami benar benar menghabiskan waktu dengan sangat tidak sia-sia hingga akhirnya waktu aku dan Riana bersama mereka tersisa satu jam lagi.
Mengetahui waktu keberangkatan akan segera tiba, kami pun langsung kembali ke yayasan dengan berberat hati.
" Akankah aku menghirup udara segar desa ini lagi? "
Ujar Riana dengan mata yang berkaca-kaca ketika berada di perjalanan pulang.
" Tentu saja akan lah! Kamu kan bisa datang di waktu libur panjang. "
Jawab ka Amara sambil bergurau dan menepuk pundak Riana, ka Amara tersenyum kepada Riana.
" Hem, barat rasanya berpisah dengan ka Amara, ka Aditya, Dara, Gita, dan yayasan rumah batin! Tapi apa boleh buat? "
Sambung ku menundukkan pandangan karena aku benar-benar merasakan berat sekali rasanya untuk berpisah dengan mereka.
Mendengar ucapanku, mereka pun langsung menatap ke arahku lalu menghampiriku untuk memberikan pelukan hangat yang bisa menguatkan aku agar dapat berpisah dengan tenang.
" Ini jaman moderen kok Rin! Kalau kangen kita bisa telponan bahkan kalau pingin bertatapan kita bisa langsung Vidio call aja. "
" Dara ada kenangan, nanti kalau Kaka kangen sama Dara Kaka bisa lihat kenangan itu untuk mengobati rasa kangen Kaka. "
Ucap dara yang juga menyemangati aku begitu juga dengan Gita yang juga ingin memberikan aku sesuatu agar aku bisa mengobati rasa rinduku kepadanya.
" Untuk aku mana? "
Ucap Riana merengek karena di abaikan begitu ka Amara dan yang lainnya
memberikan semangat kepadaku. Mendengar itu, kami pun tertawa dan kemudian mereka berkata kepada Riana kalau dia juga akan mendapatkannya. Setelah itu barulah Riana tersenyum lalu kami pun kembali berjalan sambil berbincang-bincang di jalan hingga akhirnya kami pun sampai di Yayasan.
Ka Amara langsung memerintahkan kepada kami agar kami segera mandi dan bersiap-siap karena kami akan segera berangkat ke terminal bus bersama sama. Mereka semua akan ikut pergi untuk mengantarkan kepergian aku dan Riana.
Setelah mendengar perintah ka Amara kami pun bergegas mandi dan bersiap-siap mengenakan pakaian yang terbaik setelah itu kami pun langsung turun dan membantu ka Aditya untuk mengangkut barang bawaan ku dan juga Riana. Kami tidak membawa semua barang karena kami merasa kami akan kembali ke yayasan ini lagi.
" Tidak ada yang tertinggal lagi kan? "
Tanya ka Aditya untuk memastikan bahwa kami sudah benar-benar siap.
Untuk memastikannya, kami pun melihat barang bawaan kami dan mengeceknya kembali lalu setelah kami yakin tidak ada lagi yang tertinggal, kami pun mengatakannya kepada ka Aditya kalau kami dan barang barang kami sudah siap.
" Kalau begitu ayo masuk! Soalnya waktu kita sudah sedikit lagi, bus-nya akan segera berangkat. "
Ucap ka Aditya dengan panik setelah dia melihat ke arah jam tangannya.
Mendengar itu, kami juga ikutan panik dan kemudian kami pun langsung naik ke Bus lalu ka Aditya pun segera menginjak gas dan kami pun berangkat menuju ke terminal dengan kecepatan yang cukup tinggi.
" Aditya hati hati aja! Tenang! "
Ujar ka Amara dengan memasang wajah panik karena terombang-ambing oleh bus yang melaju dengan cepat.
" Gak bisa Ra, sebentar ini sudah waktunya bus itu berangkat. "
Ucap ka Aditya yang tetap fokus menyetir bus dengan cepat hingga kami pun sampai di terminal bus dengan kecepatan yang luar biasa namun bus yang akan mengangkut kami ternyata sudah tidak ada lagi di terminal ini.
Ka Aditya kecewa dan kemudian dia pun protes kepada sang penjual tiket. Ka Aditya kenapa bus tidak dapat menunggu kami yang hanya telat dua menit saja dari jam keberangkatan. Melihat protes ka Aditya, ka Amara pun turun tangan untuk membuat ka Aditya mengerti akan peraturan terminal ini.
Kemudian karena sang penjual tiket merasa bersalah, dia pun bersedia untuk mengembalikan uang dari pembelian tiket kami dan ka Amara menolaknya karena ini bukanlah kesalahan sang penjual tiket itu. Dia hanya menjalankan tugasnya sebagai penjual tiket.
Setelah keributan itu berlalu, ka Amara dan ka Aditya pun kembali masuk kedalam bus. Ka Aditya masih terlihat bingung dengan keberangkatan kami sampai akhirnya Gita pun berkata.
" Bagaimana kalau kita antar ka Airin dan ka Riana pakai bus yayasan saja? "
Mendengar itu ka Aditya pun langsung terlihat kembali ceria dan berkata.
" Benar juga! Kita kan punya bus pribadi kenapa harus panik. "
Kemudian semuanya pun setuju karena perjalanan mengantarkan aku dan Riana ini bisa sekalian untuk liburan bagi mereka yang waktu liburnya masih tersisa satu Minggu lagi.
Tetapi sebelum itu kami harus kembali ke yayasan untuk mengambil persiapan yang lainnya karena perjalanan jauh mengantarkan aku dan Riana ke universitas swasta yang disebut sebagai universitas kegelapan itu pasti memerlukan beberapa persiapan. Contohnya sepertinya baju dan yang lain sebagainya.
–Bersambung–